13.9.17

ya sudah

akhirnya aku sampai juga disini. lapangan yang ditutupi rumput yang menghijau menyambut musim hujan. kereta yang kunaiki penuh sekali. harus transit di beberapa titik dan mengharuskanku berlari mengejar kereta sambungan untuk bisa ke tujuan. namun akhirnya aku disini. menatap wajahmu yang selalu tersenyum padaku. aku selalu berkata bahwa dirimu yang sekarang telah berbeda. Namun kenyataannya aku tahu, bahwa dirimu tidak pernah berubah. dirimu akan selalu menjadi orang yang paling pertama menyambutku, paling pertama ada untukku dan selalu ada. aku tahu, kenyataan bahwa dirimu tak pernah ingin beranjak jika sudah berada disampingku.
untuk itu pula aku datang jauh-jauh, melewati lautan manusia, untuk sampai disini. aku ingin dirimu menahanku agar aku tetap disini, bersamamu.

'sepertinya aku masih mau disini.' ujarmu.
"aku pulang, ya?" tanyaku. sembari menatapmu lama. menunggumu untuk mencoba menahanku. sedang dirimu sibuk membenahi sepatumu. "tidak apa-apa, kan?"
'ya sudah.'
apa itu? baru sekali ini aku mendengar jawaban itu. mana mungkin jawaban itu bisa terujar dari bibirmu? jadi... apakah kini semuanya sudah berakhir?
.
ah, tak masalah. aku masih bisa dengan mudahnya memancing rasa itu keluar dari dasar hatimu.
dan... ah, tak masalah. aku masih punya yang lain. yang bisa mengantarkanku pulang saat ini.

4.9.17

hujan

Hujan. Ingatkah kamu? Dulu itu... sebelum kita dipisahkan oleh rentang dan ruang, selalu hujan dikala kita bersama. Entah mengapa, selalu hujan. Kuyup, dingin, di tengah lebatnya belantara hutan. Hujan. Seakan semesta tidak mengijinkan kita untuk bersama. Dan entah mengapa pula, momen itu selalu terjadi di kala hujan, di tengah hutan.

Jas hujan yang layaknya kantung plastik itu, selalu ribut sekali kedengarannya di telingaku. Meski akan tiba saatnya kita berhenti sejenak menembus belukar dan rimbunnya pepohonan berlumut yang kadang malang melintang di tengah jalan. Kemudian kita bisa menikmati damainya hutan, dikelilingi denting tetesan air hujan. Dan kabut diam-diam menyelinap diantara kekosongan kata. 

Hujan. Ingatkah kamu? Akan semua memori itu... ah... nampaknya tidak. Itu semua dulu. Kini hanya ada tembok dingin yang bersusun-susun hingga tinggi. Di dalamnya, deretan kursi berjajar rapi. Tak ada lagi kabut yang berkejaran bersama angin. Tak ada lagi batang pohon lelumutan yang harus di lompati. Tak ada lagi makhluk melata penghisap darah yang meliuk-liuk di atas sepatu.

Yang tersisa tinggallah langit mendung, yang seakan meredam sekuat tenaga agar air matanya tak tumpah ruah. Langit... tetap saja sama seperti langit yang dulu kita kenal. Selalu meruahkan hujan ketika kita bersama. Dulu, aku pernah bertanya-tanya, apakah semesta tak mengijinkan kita untuk bersama. Sekarang aku tahu apa maksud langit, ketika kulihat dirimu menggenggam erat tangannya, di ruang antara tembok dingin yang bersusun-susun hingga tinggi. Lantas hujan pun bergulir dari mata langit.

Langit yang tersedu sedan. Hujan. Kedamaian rimba hutan. Nada tetes-tetes air yang berdentingan. Merekam segalanya, sekaligus membungkam seluruhnya.

21.2.17

i never stop...

Hari ini, detik ini juga, perasaan itu datang menghampiri, untuk kesekian kali. Setelah mengetahui bahwa kini ia telah memiliki kekasih. Memang, aku tak akan bisa menghadapi ini semua. Saat ini, aku tahu jika semua harapan yang ada hanyalah sebatas khayalku. Cukup sudah, dari awal aku sudah menduga ini pasti akan terjadi. Namun aku tak bisa menutupi perasaan asing ini. Kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan. Terima kasih banyak, pernah menjadi bagian dari kehidupanku, mengisi hari-hariku, dan memberikan pengalaman paling berkesan untukku. Mulai saat ini, aku akan mencoba menjauh dari harapan yang pernah aku impikan, melangkah ke depan dan menjadi lebih baik lagi. 

Tak bisa dipungkiri, setelah kejadian ini, banyak pelajaran yang kudapatkan. Aku mulai sadar jika semua orang kadang suka bercanda, namun malah kutanggapi serius. Satu hal yang terlintas, mungkin saat itu dirinya hanya menjadikanku bahan candaannya. Dirinya takkan pernah tahu jika candaan itu malah membuatku menyukainya, hingga saat ini. Aku selalu berkhayal dapat melihatnya dari jauh, bagaimana kabarnya, apa yang sedang dilakukannya. Sudah masuk setengah windu, dan belum ada yang mampu membuatku berpaling. Hanya ada dia. Walau aku tahu, ini tak mungkin, aku tahu diri. Aku yang seperti ini, tak akan pantas untuk dirinya.

Mungkin aku terlalu banyak menonton drama, sehingga aku terlalu berharap dapat bersama dengannya. Padahal dari awal aku tahu, padahal dalam pikirku aku tahu. Ini semua tidak mungkin, tidak akan mungkin. Ini semua tak bisa, tak akan pernah bisa.

I never stop loving you.
I just stop showing it.

Hanya seorang perempuan yang bodoh dan terlalu naif. 


Jakarta, 5 Juli 2014


*di sadur dari sebuah catatan jaman SMA seorang teman

13.2.17

menggila ditengah kegilaan KKL 3

Baru masuk kuliah ngga ada empat hari, gue udah berasa tua. Lelah, letih, lemas, lesu. Gilak yak. Masuk kelas kuliah lapang tiga, udah diwajibkan ngumpulin abstrak penelitian seminggu setelah pertemuan pertama. Astaga dosa apa hamba baru masuk udah begini?:''' Dosa hamba memang banyak sih:''' Eits, ada yang lebih gila. Tiba-tiba Sodi ngajakin ke Sawarna, katanya bareng anak kapa dari teknik. Namun yang paling gila dari itu semua adalah gue: mengiyakan jalan WKWKWK

Day I
Tadinya mau bertiga sama Bubu, tapi Bubu mendadak ngga bisa-_- jadilah akhirnya gue dan Sodi ke teknik pada Jumat sore untuk ngumpul sebelum jalan. Terus gue tercengang melihat sekret kapa, yang digabung sama badan-badan lain sefakultas, tapi sumpah gede dan pewe banget. Buka 24 jam lagi.

Ada banyak budaya positif disini yang bisa diterapkan di gmc juga. Sebelum pergi, anggota aktif yang ikut maupun yang ngga ikut ngadain ceremonial pelepasan untuk yang pergi, terus dibacain juga SOP lengkap per bidang sebelum jalan. Kece bat. Yang pergi ke Sawarna ini ada 23 orang, naik tronton. Jadilah gue bermabok-mabok antimo di tronton.

Day II
Jalan jam 21.40 malam, nyampe jam 05.00 pagi. Dari tempat berhenti tronton, kita semua jalan ke rumah Pak Dado, kenalan anak kapa kalo mereka mau caving. Ya, jadi kesini kita mau eksplorasi Goa Lalay dan Goa Kadir. Ngga pake istirahat dulu, kita langsung bagi shift. Ada yang masak, ada yang nyiapin peralatan untuk langsung masuk goa.

ada yang masak
ada yang nyiapin alat
nyebrang lewat jembatan gantung ini ke goa lalay
pintu masuk goa lalay







Di Goa Lalay ini jalurnya ada banyak, bahkan ada yang nembus ke atas. Tapi karena ngga nemu jalannya, akhirnya kita trackback. Dan baju caving kita udah penuh lumpur karena goa ini termasuk goa basah. Ya jelas, pintu masuknya aja lewat sungai. Agak kesian sama shift 2 yang kudu pake baju lumpur itu. Tapi nanti gue juga bakal pake baju penuh lumpur itu untuk ke Goa Kadir.

disini anak-anaknya kalo main di kali kaya begini, ngga pake celana:')) bahagia banget kayanyah

gantian shift 1 yang masak
Setelah sekitar 3 jam eksplor di Goa Lalay, kita shift 1 akhirnya keluar dan gantian sama shift 2 yang mau eksplor ke Goa Lalay juga. Sekitaran jam 4 sore, shift 2 baru kelar dan kita yang shift 1 langsung siap-siap ke Goa Kadir.

jalan ke Goa Kadir

baru masuk disambut ini

Ornamen di Goa Kadir
Goa Kadir ini bukan goa basah, malah kering, isinya tanah coklat yang kering gitu. Baru pas masuk ketemu tetesan-tetesan air dari atas makanya tetep ada lumpur di beberapa titik. Goa Kadir inilah yang paling berkesan buat gue sepanjang sejarah per-caving-an gue. Ada satu lokasi yang disebut "lubang jarum". Jangan tanya bentuknya kaya gimana, jongkok aja ngga bisa, kudu tiduran terus kaya julung-julung biar bisa masuk. Da bes.

Ornamennya juga beda. Ornamen di Goa Lalay kebanyakan bukan ornamen hidup (bukan ornamen yang masih bisa berkembang, yang hidup biasanya masih dilewatin tetesan air). Sementara di Goa Kadir, hampir semuanya ornamen hidup, yang kudu hati-hati lewatinnya biar ngga patah :'''

"harta karun" kristal di ujung goa kadir

Ornamen di goa kadir

sehari jadi anak teknik *eh*
Keluar dari Goa Kadir jam 9 malem hahaha dan yang shift 2 masuk jam 10 malem. Ngga ngebayang apa rasanya ya baru masuk goa jam 10 malem._. Dengar punya dengar, asal-usul nama Goa Kadir itu dari nama warga lokal yang katanya hilang di dalem goa tersebut. Aku jadi merasa horror. Untung dengernya pas udah keluar goa. Yang shift 1 langsung bersih-bersih, makan, dan istirahat.

Day III
Kita tidur ngampar di teras rumah Pak Dado. Banyak nyamuk, padahal dingin._. Jam setengah 3 pagi pada ribut ngebangunin karena ada eval harian. Gue dipersilakan bobo lagi tapi gue kepo hahaha. Eval malem ini ngebahas buat hari selanjutnya, mau ngapain, terus tiap pj-nya masih harus ngapain. Pokoknya pagi udah harus jalan ke pantai biar pulangnya keburu. Selesai eval tidur lagi deh.

Rencana jalan jam 8 pagi, akhirnya baru jalan jam 9an. Nama pantainya itu Pantai Legon Pari. Di pantai pada main dan foto bareng. Deket situ ada dua lokasi karang, di timur (Karang Tareje) sama di barat (Karang Beurem). Tadinya Sodi ngajakin ke timur, tapi akhirnya gara-gara gue kita jadinya ke barat.

Legon Pari

Karang Beurem (1)

Karang Beurem (2)

Karang Beurem (3)

gatau ini apa tapi lucu
Akhirnya jam 12an kita jalan balik ke rumah Pak Dado, packing, rapi-rapi, lalu pulang. Sempet diajakin ikutan kegiatan kapa lagi minggu depan, mereka ada rock climbing sama olahraga air. Tapi kayanya gue kudu fokus KL 3 dulu hahaha. Semoga judul penelitian KL gue cepat terbersit dalam pikiran:''

27.12.16

57 jam...

Gue dengan gegap gempita meski uas dan tugas masih menunggu... pergi ke pangrango. Kata temen-temen gue, gue gila dan sudah hilang akal... apa sih wakakak emang iya sih. Siapa juga yang ngga stress sama tugas-tugas... bayangin aja tugas uas gue: 2 video, 2 survey lapang, 3 ppt, 4 review jurnal asing, 5 makalah... kobam men. Kelompok semua pula itu makalahnya, ada yang kudu dijilid pake softcover segala lah hadeuh. Belom lagi itu bentuk uasnya macem-macem, ada yang tulis, ada yang kayak sidang skripsih. So... melarikan diri sejenak seems good hahaha.

Day I
Gue mengiyakan ajakan mas den ke pangrango h-3 jam keberangkatan-_- lagi tengah-tengahnya ngerjain uas apaan itu yak lupa gue, di perpusat, dan gue langsung balik ke rumah buat packing. Gila emang. Tapi biarlah, kapan lagi kaya gini. Yang ikut cuma berempat, gue, faiz, napong, dan mba dewi. Jalan dari terminal kampung rambutan jam setengah tiga, nyampe di cibodas magrib. Mulai nanjak jam 8 malem.

Targetnya sih nyampe di Kandang Badak jam 11 malem... namun karena satu dan lain hal akhirnya kita bobo di Rawa Denok 1.


Day II
Mulai nanjak jam 8 pagi dengan cuaca yang gerimis... seperti hatiku #eh. Nyampe di Kandang Badak jam 11 siang. Gue ngga nyangka bakal seberat itu jalan di cibodas dengan bawa carrier, cuma keingetan jalan sama sodi beberapa bulan lalu yang dari gerbang sampe kandang batu 2 jam doang wakakak:'' Kondisi cuaca kala di Kandang Badak saat itu agak mengerikan, mendung, gerimis. Yang gue inget cuma anginnya, dingin dan kenceng banget gilak. Baru setengah jam ngaso-ngaso pake flysheet, gue udah keteteran kaya orang bener. Kayanya sih gue emang lagi ngga enak badan.

Akhirnya menilik kondisi cuaca, kita ngga jadi nge camp di Mandalawangi. Kata warlok yang jualan disana (iya ada warunk di Kandang Badak, ada toiletnya pula cucok mauwo deh), hari-hari belakangan ini angin disana lagi kenceng banget dan dinginnya ngga kira-kira. Jarang juga pendaki yang mau ke pangrango karena lebih jauh dari pada gede.

Akibat cuaca yang dingin dan gaada kerjaan, gue dan mba dewi sukses bobo 15 jam HAHAHA parah banget dah.


Day III
Bangun dari jam 1 pagi karena tenda sebelah berisik banget mau summit ke gede. Tadinya napong juga ngajakin nanjak jam-jam segitu, tapi apa daya kita mager banget, dan kondisinya masih gerimis. Akhirnya baru jalan jam 5 pagi. Bayangin aja, habis tidur 15 jam terus badan langsung dipaksa nanjak... bego dah gue di jalan.

Jalanannya? Kaya joglog via puncak pass-_- pohon melintang dimana-mana. Kalo kemaren salak mainannya tangan, disini mainannya kaki. Dabest dah. Sempit-sempit pula jalannya:'' Dan kita sukses memecahkan rekor 2 jam kurang nyampe ke Mandalawangi.

Mandalawangi yang berkabut
Gagal guling-guling di surken...
sumber air super jerni
AKHIRNYA PANGRANGO!!! *abaikan penampakan di tugu pangrango dibelakang*

sesempit-sempitnya jalur menuju puncak:''
ntap joglog via puncak pass wakakakak

Pas jalan turun kita sempet nyasar gitu lewat jalur evakuasi (gatau evakuasi yang macem apa) bentuk jalurnya macem tebing gitu perosotan. Katanya nyampe di pos bisa cuma 4 jam dari puncak. Tapi siapa yang mau dievakuasi sambil nyerosot yak-_-

view dari jalur evakuasi. yang ngepul itu air panas.

Dan sampe di Kandang Badak, ngaso-ngaso bentar, turun jam 1 siang dan tiba di basecamp jam 5 sore. Habis itu kita makan dan bebersih, nunggu bus lamaaaa banget. Gue baru sampe rumah jam setengah 12 malem:'' Begitu dapet sinyal dicariin karena belum ngedit laporan akhir KKL 2-_- akhirnya gue harus merelakan berpisah dengan Pangrango dan kembali ke kenyataan.

Semoga liburan gue se-faedah laporan-laporan akhir gue:'')))