Padahal rencananya mau sampai ke puncak. Entah mengapa malah kemari lagi. Apakah ini salah satu hal yang ingin disampaikan oleh Tuhan padaku? Bahwa manusia hanya bisa berencana, selebihnya menjadi urusan-Nya. Rasanya sama, seperti aku yang mengharapkanmu, namun manusia hanya bisa berharap. Memang salah, berharap pada manusia...
Sebenarnya aku tidak pernah bosan kemari, hanya saja tempat ini menyimpan begitu banyak kenangan, banyak perasaan. Berjalan di jalur berbatu yang aku ingat betul tiap kelokannya, membuat memori-memori lama bermunculan tidak karuan. Rasanya hampir seperti aku adalah satu-satunya yang masih tinggal di masa lalu. Jalur tangga batu sialan yang terasa seperti tidak ada habisnya. Mungkin itu juga yang akhirnya, untuk pertama kali, membuatku menyerah dan tidak melanjutkan ke puncak gunung ini.
Tiba-tiba rasanya seperti mati rasa. Benar-benar hambar, tak ada rasa apapun. Apakah ini salah satu hal yang ingin disampaikan oleh Tuhan padaku? Bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Bahwa sesuatu yang berlebihan itu berangkat dari sesuatu yang membara terang... lalu pada akhirnya padam, habis. Akhirnya, untuk pertama kali, aku tidak merasa antusias mendaki gunung.
Apakah perasaanku padamu, juga bisa menguap semudah dengan lenyapnya antusiasmeku untuk mendaki gunung ini? Sepuluh tahun sudah berlalu. Aku selalu menyangkal bahwa aku tidak memiliki perasaan yang spesial padamu. Namun semakin disangkal, rupanya semakin besar rasa itu. Perasaan yang bertepuk sebelah tangan, perasaan yang tak pernah terbalaskan. Aku lelah, aku lelah membuat diriku sendiri menjadi lelah.
Aku jadi berharap, aku tidak pernah naik gunung apapun sejak awal. Hanya kuliah senormalnya, berteman sewajarnya, bekerja seperti pada umumnya. Menjadi manusia yang biasa-biasa saja. Dengan begitu, apakah kamu akan tetap melihatku? Dengan begitu, apakah kamu bahkan akan melihatku?
Enough is enough. Aku tahu aku hanya menyakiti diriku sendiri apabila aku terus merawat perasaan ini padamu. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini harus jadi yang terakhir. Aku tidak boleh selamanya berkubang dalam masa lalu. Aku janji, ini yang terakhir.

No comments:
Post a Comment