7.10.25

"why the long face?"

 "Why the long face?"

Manusia cenderung menginginkan hal-hal yang tidak bisa mereka miliki, yang tidak mampu mereka gapai. Seperti delusional. Seperti tidak sadar, dimana kaki mereka berpijak. Mendongak jauh ke atas, cukup untuk membuat leher mereka patah. Patah. Kadang hal-hal yang mereka inginkan itu, bisa jadi semangat motivasi. Tak jarang juga membuat patah hati yang terlalu berharap. Lalu lagi-lagi kecewa. Kecewa karena realita tidak bisa memenuhi ekspektasi.

Atau apakah yang aku rasakan ini hanyalah bentuk kelelahan berkepanjangan: mencari apa yang tak kunjung menemukan temu. Malah berujung pecah yang lain. Mereka bilang, tiap masa ada orangnya, tiap orang ada masanya. Aku tahu aku sanggup, namun semua butuh waktu. Semua butuh proses, tak terkecuali untuk sesuatu hal yang sudah berlangsung sangat lama.

Memang, pada akhirnya aku harus berdiri sendiri, dengan kedua kakiku sendiri. Pada akhirnya, aku hanya punya diriku sendiri. Kadang pikiranku berhamburan kian kemari, tatkala kakiku melangkah diatas jalanan desa sialan yang masih berbatu. Dan ketika kulihat kedua kakiku melangkah, aku kembali tersadar: aku hanya punya diriku sendiri.

23.7.25

brokenheart: dunia fana (1)

---sakit
aku bercerita pada sahabat baikku, kalau aku mau "menjodohkanmu" dengan perempuan itu. sahabat baikku hanya bertanya balik, "kamu mau menabur garam ke luka? sakit banget, lho."

sakit? entahlah, rasanya malah... kosong. aku akhirnya berhasil mengajak perempuan itu untuk bertemu denganku. lantas aku mengajak dirimu juga. aku yakin betul, kalau saja malam itu tak kusebut nama perempuan itu, kamu pasti tidak akan mau ikut pergi. melihatmu sangat bersemangat ketika aku menyebut nama perempuan itu... aku jadi semakin sadar bahwa aku benar-benar tidak pernah ada dalam daftar pilihanmu. pikiranku kembali melayang ke masa lalu ketika aku mengajakmu pergi dan kamu membatalkan sepihak beberapa jam sebelumnya.

dan kini, kamu bilang kamu ada acara kantor di hari yang sama aku akan bertemu dengan perempuan itu. namun kamu dengan mudahnya merelakan acara kantor itu. semua jelas terbaca.

aku belum memberitahu perempuan itu kalau kamu akan ikut juga, biar saja jadi kejutan untuknya ditengah-tengah pekerjaan dan masalah keluarganya yang agak rungsing.



---tawakkul
mereka bilang, "apa yang ditakdirkan menjadi milikmu, maka selamanya akan menjadi milikmu". maka aku juga mempercayai kebalikannya, apa yang ditakdirkan menjadi bukan milikku, maka mau kukejar sampai ke ujung dunia pun, tidak akan menjadi milikku. jadi sekarang tugasku sebagai manusia tinggal bertawakkal saja, berserah diri kepada tuhan. aku tidak semata-mata berserah diri begitu saja, aku sudah berusaha dan sudah berdoa juga. namun jika kamu memang bukan untukku, maka aku akan ikhlas menerima takdir tuhan ini.

mereka juga bilang, "bentuk tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan". Ikhlas dengan segala bentuknya. Ikhlas terhadap bentuk, ikhlas terhadap sikap, ikhlas terhadap keputusan yang dibuatnya, ikhlas melihatnya bahagia dengan yang lain. Ikhlas disini bisa bermakna banyak, bisa merelakan, bisa pengorbanan, macam-macam. Tapi intinya adalah menerima. Juga sebagai bentuk penghambaan terhadap tuhan yang maha kuasa, atas segala takdir dan ketetapannya.



---dunia fana
lagi-lagi, dunia fana. perasaanku padamu ini fana. sakit yang kurasakan ini fana, akan segera tergerus dengan waktu meskipun entah sampai kapan. setidaknya aku sudah mencoba berbagai cara agar kamu menemukan kebahagiaanmu itu. siapa orangnya, aku serahkan kembali kepada tuhan.

21.7.25

brokenheart: dunia fana

---nama perempuan itu
hatiku terasa gusar, tatkala nama perempuan itu terucap lagi dari bibirmu. entah sejak kapan, buatku dirimu seperti buku yang terbuka lebar, sangat mudah dibaca. ketika namanya disebut, matamu akan langsung berbinar: tertarik dan penasaran. dan aku tidak suka melihat itu. ketika kamu menyebut namanya, suaramu akan terdengar riang. dan aku tidak suka mendengar itu.

"kamu sudah tidak main lagi dengan [nama perempuan itu]?" kali ini suaramu rendah, namun aku tahu pasti apa intensimu menanyakan perempuan itu padaku.
'ah, aku sudah jarang kontakan sama [nama perempuan itu]' jawabku singkat.
"kemarin aku sempat bertemu [nama perempuan itu] di [sebuah acara]" sekarang ada seberkas nada riang. tipis sekali, namun aku bisa mendengarnya.
'oh, ya? bagaimana kabarnya?'
"[kamu menjelaskan, namun aku tidak mau mendengarnya. aku tidak mau tahu.]" kini aku mendengar ada sedikit nada kecewa, karena perempuan itu nampaknya masih sibuk dengan pekerjaannya. setahuku, perempuan itu memang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya, sangat profesional.

hatiku terasa gusar, tatkala mengingat pertemuan terakhirku dengan perempuan itu.
"kamu, mah, enak. masih ada [menyebut namamu] yang bisa diajak berdiskusi. aku ngga ada." ujar perempuan itu padaku. padahal saat itu, aku dan dirimu sedang tidak terlalu dekat. aku bahkan tidak menceritakan apa-apa padamu, aku hadapi semuanya sendirian. ada rasa sedikit lega ketika perempuan itu berpikir demikian. biarlah perempuan itu berpikir demikian untuk sementara.

di tiap kali pertemuanku dengan perempuan itu, perempuan itu selalu menanyakan kabarmu. di beberapa kesempatan, perempuan itu akan menceritakan jika ia bertemu denganmu. perempuan itu tidak menunjukkan rasa gembiranya ketika menceritakan itu padaku, namun aku bisa melihat semuanya. buatku, perempuan itu juga sama seperti dirimu: layaknya buku yang terbuka lebar, sangat mudah dibaca. pertanyaan-pertanyaannya yang diajukannya padaku tentang dirimu, aku tahu persis itu perasaan yang sama seperti yang kamu rasakan padanya. itu perasaan yang sama seperti yang aku rasakan padamu. aku tidak suka melihat itu. aku masih menginginkanmu.



---dunia fana
dalam agama kita, jika seseorang berhasil menjodohkan pasangan sampai menikah, maka seseorang itu dijanjikan pahala yang besar. apakah menjodohkanmu dengan perempuan itu patut kucoba? nampaknya kamu memang tidak pernah, dan tidak akan pernah, melihatku sebagai pilihan untuk menjadi pasangan hidupmu. dan aku juga sudah terlalu kasihan melihatmu terus gagal dalam hubungan asmara. dan aku terlalu kesal melihat kalian berdua yang sama-sama buta tidak bisa melihat perasaan kalian, baik masing-masing atau satu sama lain. seperti melihat dua orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.

tapi aku tidak munafik. aku masih menginginkanmu.

tapi aku tidak mau egois, aku ingin melihatmu bahagia. meskipun jika itu bukan denganku. dunia ini fana. perasaanku padamu ini fana. biarlah aku berperang denganku diriku sendiri. untuk apa Tuhan tiba-tiba memberikanku "wangsit" untuk menjodohkan kalian? apakah memang ini jalannya?

akan kucoba, segera.

20.7.25

toxic

Beberapa hari belakangan ini pekerjaanku sedang kosong setelah beberapa bulan digempur deadline, sepertinya itulah mengapa aku jadi merasa malas belakangan ini. Rasanya seperti ingin balas dendam bermalas-malasan setelah kerja rodi menyelesaikan target pekerjaan. Jadilah doom scrolling tanpa henti dan berakhir dengan scrolling media sosial milikku sendiri. Notifikasi pengingat memori dari salah satu media sosial yang kugunakan menjadi trigger-nya.

Toxic.

Itulah kata pertama yang muncul di kepalaku saat membaca post-post lama dari media sosialku. Malu sendiri. Tak habis-habis aku bertanya: "Kok dulu gue setoksik ini, ya? Kok bisa, ya, gue malu-maluin kaya gini?" Bahkan sampai kuliah pun, ternyata aku toksik untuk orang-orang disekelilingku, setidaknya itu kesan yang kudapatkan sekarang ketika membaca ulang semua jejak digitalku sendiri. Saking malunya, kuhapus semua yang memang memalukan. Ada beberapa yang masih tersisa karena aku masih belum kuat membacanya, saking cringe, pickme, dan sememalukan itu. Betapa sabarnya teman-temanku yang masih mau menjadi temanku saat itu, yang masih kuat menghadapi drama yang kubuat saat itu. Maaf, ya, teman-temanku. Terima kasih banyak sudah sangat bersabar denganku.

Astaga betapa memalukannya. Betapa aku menyakiti teman-temanku, berpikir bahwa saat itu aku yang paling benar. Astaga. Memang masa muda itu masa-masa banyak salah..... tapi, ya, ngga gini juga wei:')

Aku hanya bisa menghela nafas panjang, seperti bertemu dengan ABG yang benar-benar labil. Aku jadikan hal-hal memalukan yang kutemukan itu sebagai pembelajaran, agar aku tidak seperti itu lagi ke depannya. Ternyata, kebanyakan drama yang muncul justru karena diriku sendiri, karena aku tidak tahan emosi. Semua kulepaskan saja tanpa memperhatikan perasaan orang lain, tanpa melihat dari sudut pandang yang lain. Kepalaku penuh dengan pembenaran terhadap diri sendiri. Egois.

Memang itu yang kubutuhkan, menahan emosi dan menahan diri agar tidak terlalu banyak oversharing. Kadang informasi mengenai diri sendiri yang diceritakan terlalu rinci kepada orang lain, justru bisa jadi bumerang atau pemicu masalah yang sebenarnya tidak berarti. Cukup kembali ke setelan mendengar dan mengamati saja. Rasanya pasti akan sedikit melelahkan, tapi tidak apa-apa jika rasa lelah itu bisa mengantisipasi hal-hal bodoh yang akan aku sesali lagi dimasa mendatang.

Sejujurnya aku sedikit bangga pada diriku sendiri, setelah berkaca pada masa laluku yang sangat memalukan itu. Ternyata aku sekarang lebih baik. Mungkin memang belum terlalu baik, ada kalanya juga aku merasa tidak kuat dan sedikit melontarkan kata-kata, namun setidaknya aku sudah bisa mengontrol untuk tidak terlalu berapi-api. Atau bahkan aku malah tidak berkata-kata sama sekali, mengiyakan saja semuanya daripada aku menyakiti hati yang lain.

Menjadi dewasa tidak mudah. Memahami diri sendiri dan orang lain tidak mudah. Menjaga hubungan baik tidak mudah. Apalagi semakin kesini, temanku juga semakin sedikit. Orang baru memang berdatangan, tapi yang tetap tinggal bisa dihitung dengan jari. Aku tidak mau menyakiti mereka. Semoga aku selalu terus mau belajar untuk membuka mata dan pikiran, baik untuk orang lain maupun diriku sendiri.

8.7.25

kj

"Nad." Seseorang memanggil namaku. Namun semuanya terlihat gelap. Aku tidak tahu siapa yang memanggilku itu.
"Nad, Nad?" Seseorang itu masih berusaha memanggilku. Siapa? Ada apa?
"Nad, ayo piket." Seketika aku langsung mengenali suaranya tatkala mendengar kata itu: piket. Mataku langsung terbuka lebar, jantungku langsung berdegup kencang. Aku terbangun dari tidurku.
"Iya." Jawabku sekilas lalu melihat jam di tanganku. Hampir jam setengah tiga pagi. Aku ingat baterai ponselku habis, sehingga aku harus mengisi dulu dayanya. Paling tidak harus 2% agar bisa dinyalakan. Sialnya semalam aku sudah sangat lelah dan tertidur begitu saja tanpa sempat menyalakan ponsel itu, tanpa sempat membuat alarm. Jadwal piket kami sebenarnya dimulai dari pukul satu hingga pukul tiga pagi. Mengapa ia baru membangunkanku jam segini, setengah jam sebelum waktu piket berakhir?

Aku cepat-cepat mengganti kerudungku dan keluar dari sleeping bag yang hangat menuju udara malam di pegunungan yang dingin. Secepat mungkin aku bersiap, belum lagi harus memakai sepatu. Aku menoleh sekilas, ia sibuk saja memberi makan perapian dengan kayu-kayu untuk perapian. Mungkin aku terlihat grasak-grusuk karena kaget sudah jam segini, ia hanya berkata, "Minum dulu, Nad."

Aku menuruti saja kata-katanya. Toh memang seharian ini bisa dibilang aku tidak minum. Air di botol minumku hampir saja masih penuh. Padahal kegiatan kami lumayan berat: mendaki gunung. Sepertinya cuaca yang sejuk tidak membuatku merasa haus dan jadi malas minum. Pada malam-malam sebelumnya, aku juga memang lebih banyak minum saat piket. Minum air hangat di pegunungan yang dingin memang lebih enak daripada minum air dingin. Aku mengambil gelas dari meja di bivak dapur, lalu menuang air dari ceret yang ada di samping perapian. Aku duduk berseberangan dengannya, di depan perapian itu. Air dalam gelasku terasa panas, namun aku tetap menenggaknya sedikit demi sedikit.

Aku memperhatikannya selagi duduk menikmati air panas rasa kayu bakar itu. Ia menggosok arang yang menempel pada batang kayu perapian yang besar, merontokkannya sehingga kayu yang di dalamnya terbakar lagi. Lalu kesana kemari mencari ranting kering. Sesekali ia mengipasi arangnya agar apinya naik kembali. Sibuk sekali, pikirku. Waktu sudah menunjukkan sekitar 2.37 dan kami masih saja di depan perapian. Mengapa kita tidak langsung jalan kesana? pikirku, agak gusar. Air di gelasku habis, lantas kuisi kembali. Lalu aku menenggak isinya lagi. Lalu aku menatap ke perapian lagi. Gusar.

"Udah minumnya? Mau jalan?" tanyanya tiba-tiba. Akhirnya.
"Yuk." jawabku. Aku meletakkan gelasku tak jauh dari perapian.

Kami pun berjalan ke arah bivak peserta pelatihan. Jaraknya mungkin sekitar 300 meter dari area bivak pelatih, namun medannya sedikit berbukit. Setelah melewati tanjakan, ia berkata, "Nad, ada yang bangun."
"Lagi pipis, mungkin?"
"Lihat, ada dua headlamp yang nyala."
"Tunggu, deh, kok terang banget? Itu bukan lampu kampung?'
"Bukan. Eh, apa itu lampu tembak buat briefing kemarin, ya?"

Kami menghampiri cahaya itu. Ya, itu lampu tembak untuk briefing. Tergantung di dua pohon yang berbeda, menyinari lapangan tempat briefing. Mengapa tidak ada yang mematikan dan membawanya kembali? Sayang sekali baterainya. "Copot, Nad." ujarnya. Aku menghampiri lampu yang paling dekat denganku lalu melepaskannya dari ikatan ke pohon. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke area bivak peserta.

Ia menyalakan lampu tembak yang dibawanya untuk penerangan. Maklum, di malam ketiga ini, baterai headlamp kami sudah mulai menyusut, membuat cahaya headlamp kami menjadi redup. Lampu tembak itu pun sama, meskipun memang jauh lebih terang daripada headlamp kami, cahayanya juga sudah lebih redup dibandingkan saat pertama kali dikeluarkan dari tas sore tadi.

Area bivak peserta tidak jauh dari lapangan tempat briefing. Kami berdua segera mengecek masing-masing bivak dan peserta di dalamnya. Ada enam regu peserta, berarti ada enam bivak. Semuanya terlihat aman. Hanya saja malam ini berbeda, sleeping bag mereka diselimuti thermal blanket. Baru belakangan aku tahu, rupanya mereka membalik sleeping bag mereka. Thermal blanket itu adalah inner sleeping bag mereka. Entah siapa yang berkata, katanya kalau dibalik, akan lebih hangat. Makanya beberapa dari mereka menelan mentah-mentah informasi itu.

Setelah memastikan mereka semua aman, kami kembali lagi ke bivak pelatih. Aku membuntut saja di belakangnya, kembali menaiki tanjakan dan turunan. Sesampainya di area bivak pelatih, aku tidak langsung kembali tidur, aku duduk lagi di depan perapian. Kami sama-sama menunggu pukul tiga datang. Aku merasa canggung, karena ia adalah seniorku. Namun apa mungkin umur kami tidak terlalu jauh? Karena sudah tiga malam ini kami selalu dipasangkan untuk kegiatan pada waktu yang sama. Tapi aku memilih untuk bermain aman.

"Sibuk apa sekarang, Nad?" tiba-tiba ia bertanya, melihat aku yang melamun memegang gelas berisi air panas di depan perapian. Ia sendiri masih saja merontokkan arang dan memberi makan perapian. Sejujurnya aku tidak menyangka pertanyaan macam itu akan keluar dari mulutnya. Atau memang pertanyaan basa-basi itu ia lontarkan hanya agar malam itu tidak terlalu sunyi. Percakapan mengalir begitu saja. Aku menceritakan mengenai pekerjaanku. Situasi ekonomi yang tidak menentu yang membuat pekerjaan jadi lebih sulit dicari. Aku tidak bertanya balik mengenai pekerjaan yang dilakukannya, karena kukira itu tidak sopan. Bagaimana pun, aku tidak tahu pasti berapa jarak umur kami, dan aku juga tidak pernah terlalu mengenalnya.

Ia kemudian beranjak dari perapian, membangunkan senior lain, yang lebih senior dari dirinya, untuk melanjutkan piket sesi berikutnya. Seharusnya, bisa saja ia menyuruhku untuk membangunkan mereka, namun entah mengapa ia memilih untuk membangunkan mereka tanpa menyuruhku. Setelah salah satu dari dua orang yang dibangunkannya akhirnya benar-benar bangun dan duduk, ia kembali lagi ke depan perapian diseberangku. Kini ia hanya duduk, sesekali mendongak ke langit malam. "Cerah banget ya, harusnya kelihatan milky way. Pernah lihat milky way di gunung?"

Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Alisku naik dengan sendirinya, namun tidak ada kata-kata yang menghakimi keluar dari mulutku. Kami jadi membahas milky way: di gunung mana saja kami pernah melihat milky way dan kapan terakhir kali melihatnya. Rupanya ia juga suka langit malam. Rasanya aneh. Aku juga tahu ia suka sekali kucing karena pernah melihat status media sosialnya tentang kucing, bahkan foto profil media sosialnya pun bersama kucing. Kucing, langit malam... benar-benar tidak cocok dengan penampilannya yang terlihat agak keras. Atau mungkin memang aku saja yang tidak mengenalnya.

Senior yang tadi sudah bangun dan duduk, akhirnya berusaha membangunkan rekan piketnya. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 3.15 pagi. Ia memberitahukan kondisi terakhir peserta dan waktu keliling terakhir kepada senior itu, sebelum akhirnya bersiap-siap untuk tidur. Pertama kalinya dalam tiga malam ini, aku melihatnya tidur. Sebelumnya aku tidak pernah melihatnya tidur. Aku tidur saat ia masih terjaga merawat perapian, dan aku bangun saat ia sudah rapih di depan perapian. Ia mengambil matras dan sleeping bag dari ranselnya di bivak dapur dan menggelarnya di samping perapian. Oh, dia mau menggelandang, pikirku. Jika tidak tidur di bawah bivak, biasanya sering kami sebut 'menggelandang', ibarat tidak ada rumah. Aku memperhatikannya bersiap-siap istirahat, dalam sekejap ia sudah tertidur.

Senior sesi piket berikutnya akhirnya beranjak dari matrasnya dan ikut duduk di depan perapian yang kini hampir mati, hanya tersisa bara merah di dasar perapian itu. Sepertinya kini giliranku. Aku berjalan ke arah bivak tempatku tidur, lalu berkeliling mencari ranting yang agak banyak untuk menyalakan kembali perapian itu.
"Lah, Nad. Kirain tadi mau tidur," ujar senior itu ketika aku kembali dengan kayu-kayu yang lumayan banyak.
"Mau nyalain ini dulu, teh. Masih bisa nyala, kan, ya?"
"Bisa, masukin aja dulu rantingnya, baru nanti digeber (dikipas)."
Aku menuruti saja kata-katanya, dan syukurnya perapian itu menyala kembali, tidak hanya bara saja seperti sebelumnya. Aku gosok lagi arang yang menempel pada kayu perapian yang besar, agar apinya bisa membakar lagi kayu besar itu. Akhirnya aku pamit pada senior itu untuk tidur kembali. Paling tidak aku sudah berusaha menyalakan perapian itu kembali, meskipun aku tahu apinya tidak akan bertahan lama. Selamat tidur.