3.5.26

Hello 2026!!

Waw sudah lama sekali sejak gue terakhir nulis disini. Bahkan gue melewatkan ritual tahunan nge-list "pencapaian" apa saja setahun kemarin. Hahaha. Yowes kita list dulu, deh, ya sembari back up memory nih.

  1. Masih mengawali 2025 dengan duka, tapi kita semua perlahan bangkit
  2. Ikutan Soekarno Run bareng bu-buibu dari RKK
  3. Ngga dilanjut di RKK karena anggaran mereka diblokir, dialihin buat MBG. Yak, gue bersama 70rb tenaga yang dirumahkan karena MBG:)
  4. Kena banned Sh*pee karena berusaha menjual obat-obatan ii yang masih baru-baru WKWKW
  5. Aseupan-Pulosari-Malabar yang full kabut karena masih bulan Januari tapi maksa nanjak
  6. Random tiba-tiba Curug Cibeureum sama Ida dan Sodi
  7. Diselundupin jalan sehat World Wetlands Day sama buibu RKK
  8. Alhamdulillah masih lanjut kerja di pemprov
  9. Diajakin GH1 sama tim MPP gelombang 3 Jakarta
  10. Tiba-tiba banget umroh T.T ya Allah mau lagiiii
  11. Pulang umroh langsung naik perbukitan di Sentul pas puasa sama Martha, ketemu sama Abivictor
  12. Ketemu Kyrie, ternyata dia skrg mualaf(???) kaya mimpi bgt dengernya
  13. Tiba-tiba ikut acara anggota luar biasa Wanadri
  14. Ikut Sahur Run, ketemu orang cosplay Yesus T.T
  15. Ngajak bebi nanjak ke Halimun
  16. Nanjak ke Pangparang dan Lembah Tengkorak hmm not knowing gue bakalan bolak balik kesana sampe jadi warlok-___-
  17. Pulang dari Pangparang ada tragedi lagi dong WKWKW pertama kali naik mobil di towing
  18. Ngajak mepi ke Gede, tapi akhirnya cuma sampe Curug Cibeureum wkwk
  19. Ikutan Bogorun 10K gratisan dari buibu RKK
  20. Main ke Pulau Rambut sama Martha dan makan seafood oooiii senaaaank
  21. Akhirnya donor darah, dianterin Zeni wkwk
  22. Ikut malam renungan Wanadri di Jakarta
  23. Trekking ke Artapela dan mencari Gambung Sedaningsih
  24. Tiba-tiba banget jadi juri percobaan masak lapangan di GMC
  25. Ke Cisadon bersama Martha
  26. Gunung Pancar-Paniisan bersama Martha dan Diki
  27. Tiba-tiba banget diculik gerombolan 5 hari:') ini lah awal mula jadi warlok kampung pangli. Membelah pegunungan bukittunggul sampai ke bukanegara.
  28. Dieng Caldera Race 25K dan main ke Bismo yihaa
  29. Piknik ke UI bareng Zulfa dan Martha
  30. Trekking ke Rogojembangan, menyaksikan sunrise paling cakep di dalem hutan terus lanjut ke Sipandu WKWKWK
  31. Tiba-tiba jadi pemateri navigasi GMC
  32. AKHIRNYAAAA muncak juga ke Gede sama Bebi hahaha
  33. Pertama kalinya main di board game cafe(???) Seru banget???
  34. Bantuin Daffa bikin peta operasi untuk diklat dan ekspedisi hahaha
  35. "Nad, mau gabung jadi Komandan Navigasi?" "Nad, bisa bantu di kurikulum?" woaduh
  36. Jadi pemateri navigasi darat untuk mapala di Universitas Timor Lorosa'e T.T what an honor
  37. Trekking ke Sanggabuana bersama Marthaaa
  38. Selabintana-Putri bareng Zulfa dan Sodi. Asli sih ini mah random pisan wkwkw
  39. Illegal trekking ke Puncak Tangkuban Parahu, bahkan di Puncak Upasnya alesan ngga bawa duid biar ngga bayar WKWKW tydac untuk ditiru
  40. Loop Puntang-Sangar yang jalurnya beneran sesangar itu. Tydac untuk diulang lagi trims.
  41. Alhamdulillah kontrak kerja kedua
  42. Mencai peta AMS Second Edition sampe ke Perpusnas eh ternyata bisa didownload di NLA-_-
  43. Nemenin Martha galau nonton Juicy Lucy
  44. Dieng Trail Run dan main ke Pakuwaja bersama Marthaaa
  45. Survei ngider Kampung Pangli biar ada gambaran untuk diskusi bersama senior-seniorku
  46. Survei ngider Kampung Pangli lagi tapi sekalian nanjak ke Sanggara. Dikira baru turun sama penjaga pos pendakiannya wkwk karena 2 hari berturut-turut lewat situ.
  47. Pulang survei ngikut karnaval 17an dulu di Cibodas.
  48. Jadi pendamping regu Ragajiwa Camp
  49. Survei pertama GH menembus Bukittunggul-Bukanegara
  50. Jajan bunga sama Martha ke Rawa Belong
  51. Lari-lari di ladang Kampung Pangli (lagi)
  52. Donor darah (lagi)
  53. Menyesatkan senior angkatan TARA di kebon orang
  54. Jalan-jalan di Glodok mengembalikan Martha ke habitatnya wkwk
  55. Jadi petugas seleksi renang
  56. Melarikan diri ke Bromo meskipun itungannya DNF hahaha
  57. Puyeng banget perencanaan Navigasi Darat, masih ngurusin juga ekspedisinya Daffa hadeh tapi gapapa soalnya habis itu gue menyandera Daffa T.T
  58. Main ke Situ Lembang, menyaksikan ciwi-ciwi STIN lari-lari gapake baju di kamar mandi-_-
  59. Main ke Villa Wanadri(?)
  60. Ikutan event Ku Lari Ke Hutan dari Dadang, tapi yo Dadangnya ngga ikutan
  61. Udah mepet waktu ke lapangan, tambelan gigi malah copot T.T
  62. Tur GH yang sangatlah aduhai
  63. Main ke Panaruban. Kenapa ya Panaruban tuh vibes pohon-pohonnya cantik banget.
  64. Tiba-tiba dinas ke Lampung, main ke Way Kambas.
  65. Masuk rangkaian PDW, ikutan Long March 1 bener-bener kaya siswa lagi bareng Kak Jen.

Cuy ternyata seseru itu 2025 gue ya:')))

Tapi yah, balik lagi. Gue lagi semales itu nulis. Memang rasa-rasanya gue harus kembali nulis lagi, sih. Kepala rasanya lebih ruwet kalau ngga nulis, ya. Well, jadi kalau lagi ramai banget isi kepala, gue biasanya babbling uncontrollably sambil gue record di voice recorder. Sebenernya itu udah kebiasaan sejak 2019 karena kadang rasanya seramai itu kepala, tapi males nulis. Tapi kalau ngga ditulis nanti lupa:( Ya, begitulah.

Tapi... mari kita mulai lagi!

So, sebenernya gue lagi ngerasa down. Hahaha. Kalo lagi down aja, langsung nulis dan curhat kesini.

Barusan gue ngelihat salah satu kenalan gue pas kuliah, dapat podium dua trail run kategori 60K, di salah satu race yang paling beken pada masa kini. Terus gue down HAHAHAHA. Padahal gue tahu, dia tipikal orang yang "ngotot" dulu baru "ngotak". Tipikal orang ambisius yang harus dapet apa yang dia mau. And she got what she wanted. Agak konyol, sih, kalau gue mau ngebandingin diri gue sama dia. Tapi nyeseknya ada wei. Gue udah berkutat di dunia trail run sejak 2023, dan baru pernah podium sekali doang, itu juga di event komunitas kecil yang bisa dibilang saingannya tuh ngga ada. Setahu gue, dia terjun di dunia trail run ini baru banget, mungkin baru tahun lalu. Terus tahun ini dia udah bisa podium 2 kategori 60K tuh kan bikin gue:)

Heheheh gue ngga tahan dan akhirnya break instagram lagi for a while. Cemen? Iya.

Tapi akhirnya dia membuat gue jadi termotivasi juga. Kebetulan gue udah daftar juga trail run kategori 60K di bulan September nanti. Gue masih ada waktu untuk latihan:') Ya, semoga aja gue kuat wkwk:')

Btw gue emang kebanyakan main instagram juga, sih, belakangan ini. Mantau story orang-orang, atau ya doom scrolling aja berjam-jam. Semoga aja keputusan gue untuk break dari instagram ini bisa konsisten agak lama hehe biar waktunya bisa dialihin untuk kegiatan lain:(

Yaudah, gitu aja kali, ya:( gue mau lanjut bikin laporan lagi. Bye!

7.10.25

"why the long face?"

 "Why the long face?"

Manusia cenderung menginginkan hal-hal yang tidak bisa mereka miliki, yang tidak mampu mereka gapai. Seperti delusional. Seperti tidak sadar, dimana kaki mereka berpijak. Mendongak jauh ke atas, cukup untuk membuat leher mereka patah. Patah. Kadang hal-hal yang mereka inginkan itu, bisa jadi semangat motivasi. Tak jarang juga membuat patah hati yang terlalu berharap. Lalu lagi-lagi kecewa. Kecewa karena realita tidak bisa memenuhi ekspektasi.

Atau apakah yang aku rasakan ini hanyalah bentuk kelelahan berkepanjangan: mencari apa yang tak kunjung menemukan temu. Malah berujung pecah yang lain. Mereka bilang, tiap masa ada orangnya, tiap orang ada masanya. Aku tahu aku sanggup, namun semua butuh waktu. Semua butuh proses, tak terkecuali untuk sesuatu hal yang sudah berlangsung sangat lama.

Memang, pada akhirnya aku harus berdiri sendiri, dengan kedua kakiku sendiri. Pada akhirnya, aku hanya punya diriku sendiri. Kadang pikiranku berhamburan kian kemari, tatkala kakiku melangkah diatas jalanan desa sialan yang masih berbatu. Dan ketika kulihat kedua kakiku melangkah, aku kembali tersadar: aku hanya punya diriku sendiri.

23.7.25

brokenheart: dunia fana (1)

---sakit
aku bercerita pada sahabat baikku, kalau aku mau "menjodohkanmu" dengan perempuan itu. sahabat baikku hanya bertanya balik, "kamu mau menabur garam ke luka? sakit banget, lho."

sakit? entahlah, rasanya malah... kosong. aku akhirnya berhasil mengajak perempuan itu untuk bertemu denganku. lantas aku mengajak dirimu juga. aku yakin betul, kalau saja malam itu tak kusebut nama perempuan itu, kamu pasti tidak akan mau ikut pergi. melihatmu sangat bersemangat ketika aku menyebut nama perempuan itu... aku jadi semakin sadar bahwa aku benar-benar tidak pernah ada dalam daftar pilihanmu. pikiranku kembali melayang ke masa lalu ketika aku mengajakmu pergi dan kamu membatalkan sepihak beberapa jam sebelumnya.

dan kini, kamu bilang kamu ada acara kantor di hari yang sama aku akan bertemu dengan perempuan itu. namun kamu dengan mudahnya merelakan acara kantor itu. semua jelas terbaca.

aku belum memberitahu perempuan itu kalau kamu akan ikut juga, biar saja jadi kejutan untuknya ditengah-tengah pekerjaan dan masalah keluarganya yang agak rungsing.



---tawakkul
mereka bilang, "apa yang ditakdirkan menjadi milikmu, maka selamanya akan menjadi milikmu". maka aku juga mempercayai kebalikannya, apa yang ditakdirkan menjadi bukan milikku, maka mau kukejar sampai ke ujung dunia pun, tidak akan menjadi milikku. jadi sekarang tugasku sebagai manusia tinggal bertawakkal saja, berserah diri kepada tuhan. aku tidak semata-mata berserah diri begitu saja, aku sudah berusaha dan sudah berdoa juga. namun jika kamu memang bukan untukku, maka aku akan ikhlas menerima takdir tuhan ini.

mereka juga bilang, "bentuk tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan". Ikhlas dengan segala bentuknya. Ikhlas terhadap bentuk, ikhlas terhadap sikap, ikhlas terhadap keputusan yang dibuatnya, ikhlas melihatnya bahagia dengan yang lain. Ikhlas disini bisa bermakna banyak, bisa merelakan, bisa pengorbanan, macam-macam. Tapi intinya adalah menerima. Juga sebagai bentuk penghambaan terhadap tuhan yang maha kuasa, atas segala takdir dan ketetapannya.



---dunia fana
lagi-lagi, dunia fana. perasaanku padamu ini fana. sakit yang kurasakan ini fana, akan segera tergerus dengan waktu meskipun entah sampai kapan. setidaknya aku sudah mencoba berbagai cara agar kamu menemukan kebahagiaanmu itu. siapa orangnya, aku serahkan kembali kepada tuhan.

21.7.25

brokenheart: dunia fana

---nama perempuan itu
hatiku terasa gusar, tatkala nama perempuan itu terucap lagi dari bibirmu. entah sejak kapan, buatku dirimu seperti buku yang terbuka lebar, sangat mudah dibaca. ketika namanya disebut, matamu akan langsung berbinar: tertarik dan penasaran. dan aku tidak suka melihat itu. ketika kamu menyebut namanya, suaramu akan terdengar riang. dan aku tidak suka mendengar itu.

"kamu sudah tidak main lagi dengan [nama perempuan itu]?" kali ini suaramu rendah, namun aku tahu pasti apa intensimu menanyakan perempuan itu padaku.
'ah, aku sudah jarang kontakan sama [nama perempuan itu]' jawabku singkat.
"kemarin aku sempat bertemu [nama perempuan itu] di [sebuah acara]" sekarang ada seberkas nada riang. tipis sekali, namun aku bisa mendengarnya.
'oh, ya? bagaimana kabarnya?'
"[kamu menjelaskan, namun aku tidak mau mendengarnya. aku tidak mau tahu.]" kini aku mendengar ada sedikit nada kecewa, karena perempuan itu nampaknya masih sibuk dengan pekerjaannya. setahuku, perempuan itu memang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya, sangat profesional.

hatiku terasa gusar, tatkala mengingat pertemuan terakhirku dengan perempuan itu.
"kamu, mah, enak. masih ada [menyebut namamu] yang bisa diajak berdiskusi. aku ngga ada." ujar perempuan itu padaku. padahal saat itu, aku dan dirimu sedang tidak terlalu dekat. aku bahkan tidak menceritakan apa-apa padamu, aku hadapi semuanya sendirian. ada rasa sedikit lega ketika perempuan itu berpikir demikian. biarlah perempuan itu berpikir demikian untuk sementara.

di tiap kali pertemuanku dengan perempuan itu, perempuan itu selalu menanyakan kabarmu. di beberapa kesempatan, perempuan itu akan menceritakan jika ia bertemu denganmu. perempuan itu tidak menunjukkan rasa gembiranya ketika menceritakan itu padaku, namun aku bisa melihat semuanya. buatku, perempuan itu juga sama seperti dirimu: layaknya buku yang terbuka lebar, sangat mudah dibaca. pertanyaan-pertanyaannya yang diajukannya padaku tentang dirimu, aku tahu persis itu perasaan yang sama seperti yang kamu rasakan padanya. itu perasaan yang sama seperti yang aku rasakan padamu. aku tidak suka melihat itu. aku masih menginginkanmu.



---dunia fana
dalam agama kita, jika seseorang berhasil menjodohkan pasangan sampai menikah, maka seseorang itu dijanjikan pahala yang besar. apakah menjodohkanmu dengan perempuan itu patut kucoba? nampaknya kamu memang tidak pernah, dan tidak akan pernah, melihatku sebagai pilihan untuk menjadi pasangan hidupmu. dan aku juga sudah terlalu kasihan melihatmu terus gagal dalam hubungan asmara. dan aku terlalu kesal melihat kalian berdua yang sama-sama buta tidak bisa melihat perasaan kalian, baik masing-masing atau satu sama lain. seperti melihat dua orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.

tapi aku tidak munafik. aku masih menginginkanmu.

tapi aku tidak mau egois, aku ingin melihatmu bahagia. meskipun jika itu bukan denganku. dunia ini fana. perasaanku padamu ini fana. biarlah aku berperang denganku diriku sendiri. untuk apa Tuhan tiba-tiba memberikanku "wangsit" untuk menjodohkan kalian? apakah memang ini jalannya?

akan kucoba, segera.

20.7.25

toxic

Beberapa hari belakangan ini pekerjaanku sedang kosong setelah beberapa bulan digempur deadline, sepertinya itulah mengapa aku jadi merasa malas belakangan ini. Rasanya seperti ingin balas dendam bermalas-malasan setelah kerja rodi menyelesaikan target pekerjaan. Jadilah doom scrolling tanpa henti dan berakhir dengan scrolling media sosial milikku sendiri. Notifikasi pengingat memori dari salah satu media sosial yang kugunakan menjadi trigger-nya.

Toxic.

Itulah kata pertama yang muncul di kepalaku saat membaca post-post lama dari media sosialku. Malu sendiri. Tak habis-habis aku bertanya: "Kok dulu gue setoksik ini, ya? Kok bisa, ya, gue malu-maluin kaya gini?" Bahkan sampai kuliah pun, ternyata aku toksik untuk orang-orang disekelilingku, setidaknya itu kesan yang kudapatkan sekarang ketika membaca ulang semua jejak digitalku sendiri. Saking malunya, kuhapus semua yang memang memalukan. Ada beberapa yang masih tersisa karena aku masih belum kuat membacanya, saking cringe, pickme, dan sememalukan itu. Betapa sabarnya teman-temanku yang masih mau menjadi temanku saat itu, yang masih kuat menghadapi drama yang kubuat saat itu. Maaf, ya, teman-temanku. Terima kasih banyak sudah sangat bersabar denganku.

Astaga betapa memalukannya. Betapa aku menyakiti teman-temanku, berpikir bahwa saat itu aku yang paling benar. Astaga. Memang masa muda itu masa-masa banyak salah..... tapi, ya, ngga gini juga wei:')

Aku hanya bisa menghela nafas panjang, seperti bertemu dengan ABG yang benar-benar labil. Aku jadikan hal-hal memalukan yang kutemukan itu sebagai pembelajaran, agar aku tidak seperti itu lagi ke depannya. Ternyata, kebanyakan drama yang muncul justru karena diriku sendiri, karena aku tidak tahan emosi. Semua kulepaskan saja tanpa memperhatikan perasaan orang lain, tanpa melihat dari sudut pandang yang lain. Kepalaku penuh dengan pembenaran terhadap diri sendiri. Egois.

Memang itu yang kubutuhkan, menahan emosi dan menahan diri agar tidak terlalu banyak oversharing. Kadang informasi mengenai diri sendiri yang diceritakan terlalu rinci kepada orang lain, justru bisa jadi bumerang atau pemicu masalah yang sebenarnya tidak berarti. Cukup kembali ke setelan mendengar dan mengamati saja. Rasanya pasti akan sedikit melelahkan, tapi tidak apa-apa jika rasa lelah itu bisa mengantisipasi hal-hal bodoh yang akan aku sesali lagi dimasa mendatang.

Sejujurnya aku sedikit bangga pada diriku sendiri, setelah berkaca pada masa laluku yang sangat memalukan itu. Ternyata aku sekarang lebih baik. Mungkin memang belum terlalu baik, ada kalanya juga aku merasa tidak kuat dan sedikit melontarkan kata-kata, namun setidaknya aku sudah bisa mengontrol untuk tidak terlalu berapi-api. Atau bahkan aku malah tidak berkata-kata sama sekali, mengiyakan saja semuanya daripada aku menyakiti hati yang lain.

Menjadi dewasa tidak mudah. Memahami diri sendiri dan orang lain tidak mudah. Menjaga hubungan baik tidak mudah. Apalagi semakin kesini, temanku juga semakin sedikit. Orang baru memang berdatangan, tapi yang tetap tinggal bisa dihitung dengan jari. Aku tidak mau menyakiti mereka. Semoga aku selalu terus mau belajar untuk membuka mata dan pikiran, baik untuk orang lain maupun diriku sendiri.