"Nad." Seseorang memanggil namaku. Namun semuanya terlihat gelap. Aku tidak tahu siapa yang memanggilku itu.
"Nad, Nad?" Seseorang itu masih berusaha memanggilku. Siapa? Ada apa?
"Nad, ayo piket." Seketika aku langsung mengenali suaranya tatkala mendengar kata itu: piket. Mataku langsung terbuka lebar, jantungku langsung berdegup kencang. Aku terbangun dari tidurku.
"Iya." Jawabku sekilas lalu melihat jam di tanganku. Hampir jam setengah tiga pagi. Aku ingat baterai ponselku habis, sehingga aku harus mengisi dulu dayanya. Paling tidak harus 2% agar bisa dinyalakan. Sialnya semalam aku sudah sangat lelah dan tertidur begitu saja tanpa sempat menyalakan ponsel itu, tanpa sempat membuat alarm. Jadwal piket kami sebenarnya dimulai dari pukul satu hingga pukul tiga pagi. Mengapa ia baru membangunkanku jam segini, setengah jam sebelum waktu piket berakhir?
Aku cepat-cepat mengganti kerudungku dan keluar dari sleeping bag yang hangat menuju udara malam di pegunungan yang dingin. Secepat mungkin aku bersiap, belum lagi harus memakai sepatu. Aku menoleh sekilas, ia sibuk saja memberi makan perapian dengan kayu-kayu untuk perapian. Mungkin aku terlihat grasak-grusuk karena kaget sudah jam segini, ia hanya berkata, "Minum dulu, Nad."
Aku menuruti saja kata-katanya. Toh memang seharian ini bisa dibilang aku tidak minum. Air di botol minumku hampir saja masih penuh. Padahal kegiatan kami lumayan berat: mendaki gunung. Sepertinya cuaca yang sejuk tidak membuatku merasa haus dan jadi malas minum. Pada malam-malam sebelumnya, aku juga memang lebih banyak minum saat piket. Minum air hangat di pegunungan yang dingin memang lebih enak daripada minum air dingin. Aku mengambil gelas dari meja di bivak dapur, lalu menuang air dari ceret yang ada di samping perapian. Aku duduk berseberangan dengannya, di depan perapian itu. Air dalam gelasku terasa panas, namun aku tetap menenggaknya sedikit demi sedikit.
Aku memperhatikannya selagi duduk menikmati air panas rasa kayu bakar itu. Ia menggosok arang yang menempel pada batang kayu perapian yang besar, merontokkannya sehingga kayu yang di dalamnya terbakar lagi. Lalu kesana kemari mencari ranting kering. Sesekali ia mengipasi arangnya agar apinya naik kembali. Sibuk sekali, pikirku. Waktu sudah menunjukkan sekitar 2.37 dan kami masih saja di depan perapian. Mengapa kita tidak langsung jalan kesana? pikirku, agak gusar. Air di gelasku habis, lantas kuisi kembali. Lalu aku menenggak isinya lagi. Lalu aku menatap ke perapian lagi. Gusar.
"Udah minumnya? Mau jalan?" tanyanya tiba-tiba. Akhirnya.
"Yuk." jawabku. Aku meletakkan gelasku tak jauh dari perapian.
Kami pun berjalan ke arah bivak peserta pelatihan. Jaraknya mungkin sekitar 300 meter dari area bivak pelatih, namun medannya sedikit berbukit. Setelah melewati tanjakan, ia berkata, "Nad, ada yang bangun."
"Lagi pipis, mungkin?"
"Lihat, ada dua headlamp yang nyala."
"Tunggu, deh, kok terang banget? Itu bukan lampu kampung?'
"Bukan. Eh, apa itu lampu tembak buat briefing kemarin, ya?"
Kami menghampiri cahaya itu. Ya, itu lampu tembak untuk briefing. Tergantung di dua pohon yang berbeda, menyinari lapangan tempat briefing. Mengapa tidak ada yang mematikan dan membawanya kembali? Sayang sekali baterainya. "Copot, Nad." ujarnya. Aku menghampiri lampu yang paling dekat denganku lalu melepaskannya dari ikatan ke pohon. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke area bivak peserta.
Ia menyalakan lampu tembak yang dibawanya untuk penerangan. Maklum, di malam ketiga ini, baterai headlamp kami sudah mulai menyusut, membuat cahaya headlamp kami menjadi redup. Lampu tembak itu pun sama, meskipun memang jauh lebih terang daripada headlamp kami, cahayanya juga sudah lebih redup dibandingkan saat pertama kali dikeluarkan dari tas sore tadi.
Area bivak peserta tidak jauh dari lapangan tempat briefing. Kami berdua segera mengecek masing-masing bivak dan peserta di dalamnya. Ada enam regu peserta, berarti ada enam bivak. Semuanya terlihat aman. Hanya saja malam ini berbeda, sleeping bag mereka diselimuti thermal blanket. Baru belakangan aku tahu, rupanya mereka membalik sleeping bag mereka. Thermal blanket itu adalah inner sleeping bag mereka. Entah siapa yang berkata, katanya kalau dibalik, akan lebih hangat. Makanya beberapa dari mereka menelan mentah-mentah informasi itu.
Setelah memastikan mereka semua aman, kami kembali lagi ke bivak pelatih. Aku membuntut saja di belakangnya, kembali menaiki tanjakan dan turunan. Sesampainya di area bivak pelatih, aku tidak langsung kembali tidur, aku duduk lagi di depan perapian. Kami sama-sama menunggu pukul tiga datang. Aku merasa canggung, karena ia adalah seniorku. Namun apa mungkin umur kami tidak terlalu jauh? Karena sudah tiga malam ini kami selalu dipasangkan untuk kegiatan pada waktu yang sama. Tapi aku memilih untuk bermain aman.
"Sibuk apa sekarang, Nad?" tiba-tiba ia bertanya, melihat aku yang melamun memegang gelas berisi air panas di depan perapian. Ia sendiri masih saja merontokkan arang dan memberi makan perapian. Sejujurnya aku tidak menyangka pertanyaan macam itu akan keluar dari mulutnya. Atau memang pertanyaan basa-basi itu ia lontarkan hanya agar malam itu tidak terlalu sunyi. Percakapan mengalir begitu saja. Aku menceritakan mengenai pekerjaanku. Situasi ekonomi yang tidak menentu yang membuat pekerjaan jadi lebih sulit dicari. Aku tidak bertanya balik mengenai pekerjaan yang dilakukannya, karena kukira itu tidak sopan. Bagaimana pun, aku tidak tahu pasti berapa jarak umur kami, dan aku juga tidak pernah terlalu mengenalnya.
Ia kemudian beranjak dari perapian, membangunkan senior lain, yang lebih senior dari dirinya, untuk melanjutkan piket sesi berikutnya. Seharusnya, bisa saja ia menyuruhku untuk membangunkan mereka, namun entah mengapa ia memilih untuk membangunkan mereka tanpa menyuruhku. Setelah salah satu dari dua orang yang dibangunkannya akhirnya benar-benar bangun dan duduk, ia kembali lagi ke depan perapian diseberangku. Kini ia hanya duduk, sesekali mendongak ke langit malam. "Cerah banget ya, harusnya kelihatan milky way. Pernah lihat milky way di gunung?"
Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Alisku naik dengan sendirinya, namun tidak ada kata-kata yang menghakimi keluar dari mulutku. Kami jadi membahas milky way: di gunung mana saja kami pernah melihat milky way dan kapan terakhir kali melihatnya. Rupanya ia juga suka langit malam. Rasanya aneh. Aku juga tahu ia suka sekali kucing karena pernah melihat status media sosialnya tentang kucing, bahkan foto profil media sosialnya pun bersama kucing. Kucing, langit malam... benar-benar tidak cocok dengan penampilannya yang terlihat agak keras. Atau mungkin memang aku saja yang tidak mengenalnya.
Senior yang tadi sudah bangun dan duduk, akhirnya berusaha membangunkan rekan piketnya. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 3.15 pagi. Ia memberitahukan kondisi terakhir peserta dan waktu keliling terakhir kepada senior itu, sebelum akhirnya bersiap-siap untuk tidur. Pertama kalinya dalam tiga malam ini, aku melihatnya tidur. Sebelumnya aku tidak pernah melihatnya tidur. Aku tidur saat ia masih terjaga merawat perapian, dan aku bangun saat ia sudah rapih di depan perapian. Ia mengambil matras dan sleeping bag dari ranselnya di bivak dapur dan menggelarnya di samping perapian. Oh, dia mau menggelandang, pikirku. Jika tidak tidur di bawah bivak, biasanya sering kami sebut 'menggelandang', ibarat tidak ada rumah. Aku memperhatikannya bersiap-siap istirahat, dalam sekejap ia sudah tertidur.
Senior sesi piket berikutnya akhirnya beranjak dari matrasnya dan ikut duduk di depan perapian yang kini hampir mati, hanya tersisa bara merah di dasar perapian itu. Sepertinya kini giliranku. Aku berjalan ke arah bivak tempatku tidur, lalu berkeliling mencari ranting yang agak banyak untuk menyalakan kembali perapian itu.
"Lah, Nad. Kirain tadi mau tidur," ujar senior itu ketika aku kembali dengan kayu-kayu yang lumayan banyak.
"Mau nyalain ini dulu, teh. Masih bisa nyala, kan, ya?"
"Bisa, masukin aja dulu rantingnya, baru nanti digeber (dikipas)."
Aku menuruti saja kata-katanya, dan syukurnya perapian itu menyala kembali, tidak hanya bara saja seperti sebelumnya. Aku gosok lagi arang yang menempel pada kayu perapian yang besar, agar apinya bisa membakar lagi kayu besar itu. Akhirnya aku pamit pada senior itu untuk tidur kembali. Paling tidak aku sudah berusaha menyalakan perapian itu kembali, meskipun aku tahu apinya tidak akan bertahan lama. Selamat tidur.