Wow, hari yang cukup menegangkan. Seperti posting-anku yang sebelumnya, aku mengikuti kompetisi IPA tingkat kecamatan hari ini di SMPN 227 Jakarta. Aku benar-benar masih buta soal kompetisi seperti ini. Kompetisi dimulai pukul 9.30 AM tetapi kami yang ikut disuruh datang pukul 6.30 AM. Sebenarnya aku tidak tahu menahu bahwa yang ikut disuruh kumpul di 227 pukul berapa, maka dengan paniknya, setelah bangun pukul 6.30 AM, aku meng-sms-i teman-temanku yang ikut kompetisi ini, tapi tidak dibalas-balas. Aku menduga mereka sudah sampai disana, mengingat Syifa bilang semalam bahwa ia berangkat pukul 6.30 AM. Aku pun langsung buru-buru, padahal niatnya masih mau membaca-baca sebentar.
Dan ketika mau berangkat, jengjengjengjeng, hujan. Kenapa hujannya tidak daritadi saja, sih? Akhirnya setelah memakai jas hujan lengkap, aku pergi ke 227 pukul 7.00 AM diantar tanteku. Sesampainya disana, aku melepas jas hujan yang kemudian dirapikan tanteku, lalu salim. Setelah itu, aku mulai menelusuri koridor yang masih asing untukku. Seperti anak hilang, aku mencari tangga ke lantai 2. Tidak sulit dicari, karena ternyata tangganya hanya berjarak 5m dari tempatku turun dari motor.
Aku merasa seperti orang aneh, rambutku berantakan, sepatuku basah, kaus kaki putihku kotor, gesper mana lepas-lepas melulu pula. Aku menaiki tangga dan langsung bersyukur karena bertemu Mariyah. Mariyah menemaniku mencari ruanganku, ruang 6, yang ternyata hanya 2m dari tangga. Aku pun mencari bangkuku. Beuh, strategis sekali, tengah baris dua. Selesai mengetahui letak bangkuku, Mariyah dan aku menunggu yang lain sambil mengobrol sedikit. Aku tegang sekali, aku belum pernah ikut kompetisi seperti ini. Padahal kan hampir sama dengan ujian, tetapi anak-anak dikelasnya dari sekolah lain.
Lalu Vinka dan Amrina datang. Setelah mencari ruangan mereka, kita bengong-bengong sebentar didepan ruang 1 lalu ke ruang 8 untuk belajar sedikit. Syifa dan Nabila datang, Nabila mencari ruang 6, setelah ketemu, Syifa ke ruang 8 untuk menaruh tas (ruangannya Syifa di ruang 8). Setelah itu kita belajar-belajar lagi, dan... bunyilah bel. Sumpah aneh sekali belnya. Suaranya seperti musik yang biasa di kotak musik, Azel pernah memainkan musiknya dengan piano tapi aku lupa judul dan pengarangnya.
Setelah semua murid masuk ke ruangannya masing-masing, para pengawas pun mulai menghampiri ruangan yang akan dijaganya. Dan... tadaaa, yang mengawas di kelasku adalah Pak Basuki, salah satu guru biologi SMPN 107. Aku langsung berpikir, kok ruanganku ini enak sekali, ya? Sudah anak-anak 107-nya paling banyak, diawasi guru dari sekolah sendiri pula. Lalu kertas soal dan jawaban pun dibagikan. Aku tegang bukan main, apalagi setelah melihat soalnya... FISIKA SEMUA! AAAAAAA -.-"
Oke, memang tidak semuanya fisika, tapi kebanyakan fisika, lalu buat apa aku menghapal nama-nama beras hasil bioteknologi modern? Lalu saat mengerjakan, suasana sunyi senyap bagai di kuburan. Aku menelan ludah dengan susah payah seperti menelan batu. Padahal ini kan ujian biasa, mengapa juga aku harus grogi begini? Setelah beberapa puluh menit kemudian, banyak anak-anak yang sudah selesai diperbolehkan pulang. Aku pun buru-buru menyerahkan lembar jawaban pada Pak Bas dan mencari anak-anak 107 yang bisa diajak pulang bersama, kalau tidak ada barengan, aku harus sms tanteku karena tidak tahu jalan *udik*
Untungnya aku bertemu Syifa di depan ruangannya. Lalu pulang bersama Amrina dan Novi. Fiuh, akhirnya selesai juga ujian mengerikan tadi. Sekarang tinggal tunggu hasil :) *paling gue dapet 5 :P*
Dan ketika mau berangkat, jengjengjengjeng, hujan. Kenapa hujannya tidak daritadi saja, sih? Akhirnya setelah memakai jas hujan lengkap, aku pergi ke 227 pukul 7.00 AM diantar tanteku. Sesampainya disana, aku melepas jas hujan yang kemudian dirapikan tanteku, lalu salim. Setelah itu, aku mulai menelusuri koridor yang masih asing untukku. Seperti anak hilang, aku mencari tangga ke lantai 2. Tidak sulit dicari, karena ternyata tangganya hanya berjarak 5m dari tempatku turun dari motor.
Aku merasa seperti orang aneh, rambutku berantakan, sepatuku basah, kaus kaki putihku kotor, gesper mana lepas-lepas melulu pula. Aku menaiki tangga dan langsung bersyukur karena bertemu Mariyah. Mariyah menemaniku mencari ruanganku, ruang 6, yang ternyata hanya 2m dari tangga. Aku pun mencari bangkuku. Beuh, strategis sekali, tengah baris dua. Selesai mengetahui letak bangkuku, Mariyah dan aku menunggu yang lain sambil mengobrol sedikit. Aku tegang sekali, aku belum pernah ikut kompetisi seperti ini. Padahal kan hampir sama dengan ujian, tetapi anak-anak dikelasnya dari sekolah lain.
Lalu Vinka dan Amrina datang. Setelah mencari ruangan mereka, kita bengong-bengong sebentar didepan ruang 1 lalu ke ruang 8 untuk belajar sedikit. Syifa dan Nabila datang, Nabila mencari ruang 6, setelah ketemu, Syifa ke ruang 8 untuk menaruh tas (ruangannya Syifa di ruang 8). Setelah itu kita belajar-belajar lagi, dan... bunyilah bel. Sumpah aneh sekali belnya. Suaranya seperti musik yang biasa di kotak musik, Azel pernah memainkan musiknya dengan piano tapi aku lupa judul dan pengarangnya.
Setelah semua murid masuk ke ruangannya masing-masing, para pengawas pun mulai menghampiri ruangan yang akan dijaganya. Dan... tadaaa, yang mengawas di kelasku adalah Pak Basuki, salah satu guru biologi SMPN 107. Aku langsung berpikir, kok ruanganku ini enak sekali, ya? Sudah anak-anak 107-nya paling banyak, diawasi guru dari sekolah sendiri pula. Lalu kertas soal dan jawaban pun dibagikan. Aku tegang bukan main, apalagi setelah melihat soalnya... FISIKA SEMUA! AAAAAAA -.-"
Oke, memang tidak semuanya fisika, tapi kebanyakan fisika, lalu buat apa aku menghapal nama-nama beras hasil bioteknologi modern? Lalu saat mengerjakan, suasana sunyi senyap bagai di kuburan. Aku menelan ludah dengan susah payah seperti menelan batu. Padahal ini kan ujian biasa, mengapa juga aku harus grogi begini? Setelah beberapa puluh menit kemudian, banyak anak-anak yang sudah selesai diperbolehkan pulang. Aku pun buru-buru menyerahkan lembar jawaban pada Pak Bas dan mencari anak-anak 107 yang bisa diajak pulang bersama, kalau tidak ada barengan, aku harus sms tanteku karena tidak tahu jalan *udik*
Untungnya aku bertemu Syifa di depan ruangannya. Lalu pulang bersama Amrina dan Novi. Fiuh, akhirnya selesai juga ujian mengerikan tadi. Sekarang tinggal tunggu hasil :) *paling gue dapet 5 :P*
No comments:
Post a Comment