Showing posts with label jh. Show all posts
Showing posts with label jh. Show all posts

9.3.11

Apa ya judulnya?

Saya bingung. Entah apa rasa hati ini. Ingin saya berteriak, tapi apa yang akan saya teriakkan? Saya juga bimbang akan apa yang saya tulis. Ingin saya tulis semua yang ada didalam hati ini, tetapi sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Saya jadi teringat dengan bait puisi berjudul "semilir" yang ditulis kakak saya, Mutiara Laksmi, pada hari Minggu kemarin.

"... ada keengganan sekaligus kerinduan.
ada yang selalu membuatku tak ingin melepaskan yang telah bersama tergenggam
..."

Entahlah, saya merasa bait itu hampir sama dengan apa yang saya rasakan saat ini. Hampir sama. Sayangnya saya kira saya tidak akan bertemu dengan orang yang saya maksud. Tetapi mungkin itu hanya perasaan saya saja. Ya Tuhan, betapa keraguan ini menyesakkan dada dan pikiran saya.

Saya akan menghapus post saya yang kemarin, maaf bila sudah ada yang membaca tetapi saat itu saya sedang tidak berpikir jernih, bahkan sekarang pun saya ragu pikiran saya jernih. Saya terlalu lapar, terlalu lelah, dan terlalu banyak belajar. Tetapi saya ingin mengatakan sesuatu, mungkin untuk terakhir kalinya, karena sepertinya saya tidak memiliki banyak kesempatan. Oke, ini dia.

Saya tidak akan melupakan semuanya yang telah kita lakukan bersama, untuk selamanya, mungkin kenangan-kenangan itu akan selalu ada dalam benak saya sampai saya mati, senang sedih yang tidak mungkin terulang kembali, saya tidak akan melupakan sepatah kata pun, saya amat menghargai waktu yang telah kita lewati bersama, santai lelah, beban-beban yang kita tanggung, apapun itu yang tidak mungkin saya tulis satu-satu disini tapi akan selalu terkenang dihati. Terima kasih, kawan.

1.3.11

"ujian"

Pra UN tinggal 12 hari lagi dan tidak ada seorangpun yang mau mengerti. Sebenernya gue nggak mau bahas ini tapi seperti orang-orang terlalu menginterupsi... apalah pokoknya mengganggu gue untuk belajar. Nggak keluarga nggak temen yang pada akhirnya nggak juga diri sendiri. Gue jadi keingat kata kakak kelas gue pas dia nge-tweet di twitter, dia bilang dia mau terjun dari lantai 20, lalu gue retweet. Dan kata-katanya adalah hal yang paling mau gue lakukan. Gue putus asa, bener-bener gak ada yang nyemangatin gue untuk belajar, untuk menempuh ujian.

Jumat kemaren gue minta ketemuan sama sahabat sehidup semati gue (well, dia adalah orang yang paling mengerti gue dan teman gue yang paling setia, nggak ngerti kenapa). Kalo gue suntuk biasanya liat muka dia suntuk gue ilang, soalnya kalo gue ketemu dia pasti gue cerita banyak. Jumat ini beda, kita kepepet waktu. Alhasil kita ketemuan di sevel pejaten. Gue kira dia bawa adek kelas, ternyata dia bawa temen seangkatan. Otomatis gue jadi ga bisa cerita, apalagi waktu itu sevel ramenya setengah isi Monas kalo lagi tahun baru, bayangin aja. Hmmh, untuk ketiga kalinya suntuk gue gak ilang walaupun udah liat muka dia.

Dia juga kayanya lagi dirundung masalah. Gue ngerti. Sebesar apapun masalahnya dia pasti bantu gue, dan gue nggak pernah bantu dia. Ini jadi pikiran gue juga. Hmmph..

Susah ya jadi gue? Lebih susah lagi yang ada di bawah gue ckck -.-" oke sebenernya gue bukan mau cerita ini tapi kayanya kemaren gue baru aja ngasih alamat blog gue ke seseorang yang kalo baca tulisan gue selalu mengira gue marah dan hari ini orangnya ultah tapi.. yah udahan deh, udah malem juga, bye :/

16.2.11

Lalala~~~

Monolog dengan diri sendiri rasanya kurang... walaupun perlu dilakukan juga sekali-kali untuk memantau perkembangan diri sendiri (menurutku). Hah, mau berdialog pun rasanya sulit, sahabat sehidup sematiku sulit sekali dihubungi, padahal aku ingin memutahkan cerita yang sudah tak terhitung bila di print di atas kertas. Aku juga ingin meminta maaf karena beberapa hal... yang tak kumengerti. Rasanya dunia semakin kabur dan samar sejak 7 hari terakhir. Ada apa? Apakah hanya perasaanku saja?

Terlalu banyak diam, terlalu banyak curiga, terlalu cepat naik darah, terlalu banyak pergi-pergi... Ada apa denganku sebenarnya? Akal sehatku seperti tidak mampu membawa aku ke kenyataan bahwa sebentar lagi Ujian Sekolah, tetapi aku malah membaca banyak novel yang tidak penting. Uangku habis sedangkan hari masih menanti untuk dihidupi, mudah-mudahan masih. Makanku tidak teratur, aku tahu itu. Aku bertahan dengan 2 gelas air selama 24 jam. Apakah yang terjadi denganku?

Sungguh, ada semacam perasaan yang tidak dapat kugambarkan dengan pasti. Perasaan kalut, bingung, cemas, khawatir, takut... Aku pikir perasaan itu menuju kepada Ujian Nasional, tetapi bukan. Perasaan tidak pasti yang mengarah ke suatu peristiwa yang tidak aku tahu pasti. Rasanya seperti ingin mati. Perasaan yang hampir sama ketika kau berangkat ke sekolah dan dalam perjalanan rasanya kau lupa membawa sesuatu, sesuatu yang tidak kita tahu pasti. Well, walaupun bisa kita pastikan dengan mengecek isi tas.

Well, perasaan apa pun itu, kuharap bukan sesuatu yang buruk, karena aku sudah merasa buruk. Bahkan untuk mengakhiri blog ini saja, rasanya berat, seperti ada sesuatu yang ingin kuceritakan tetapi aku tidak tahu pasti apa yang ingin ku ceritakan. Duh, bingung amat..

Apa mungkin ini karena sepatuku? Aku memang mengkhawatirkan sepatu-sepatu itu, yang mungil dan benar-benar masih baru dan belum pernah kupakai itu, yang dibawa oleh... *ehem!* dan di bawa ke HI dan kena air dan... dan... Oke, betapa hatiku takkan pilu bila kedua pasang sepatuku "wafat". Tetapi sepatu itu baru dibawa pergi dariku 3 hari yang lalu. Jadi, sepatu itu bukan permasalahan dari perasaan gundahku yang nggak jelas ini.

Hmph.. sekarang aku benar-benar kehabisan kata, perbendaharaan kataku tidak terlalu baik. Sekarang sudah pukul 1:02 AM dan aku benar-benar harus tidur jika tidak ingin tertidur di lapangan besok pagi dan tentunya, aku berharap seseorang dapat memberitahukan aku tentang perasaan anehku ini.

12.12.10

Minggu, 12 Desember 2010

Wow, hari yang cukup menegangkan. Seperti posting-anku yang sebelumnya, aku mengikuti kompetisi IPA tingkat kecamatan hari ini di SMPN 227 Jakarta. Aku benar-benar masih buta soal kompetisi seperti ini. Kompetisi dimulai pukul 9.30 AM tetapi kami yang ikut disuruh datang pukul 6.30 AM. Sebenarnya aku tidak tahu menahu bahwa yang ikut disuruh kumpul di 227 pukul berapa, maka dengan paniknya, setelah bangun pukul 6.30 AM, aku meng-sms-i teman-temanku yang ikut kompetisi ini, tapi tidak dibalas-balas. Aku menduga mereka sudah sampai disana, mengingat Syifa bilang semalam bahwa ia berangkat pukul 6.30 AM. Aku pun langsung buru-buru, padahal niatnya masih mau membaca-baca sebentar.

Dan ketika mau berangkat, jengjengjengjeng, hujan. Kenapa hujannya tidak daritadi saja, sih? Akhirnya setelah memakai jas hujan lengkap, aku pergi ke 227 pukul 7.00 AM diantar tanteku. Sesampainya disana, aku melepas jas hujan yang kemudian dirapikan tanteku, lalu salim. Setelah itu, aku mulai menelusuri koridor yang masih asing untukku. Seperti anak hilang, aku mencari tangga ke lantai 2. Tidak sulit dicari, karena ternyata tangganya hanya berjarak 5m dari tempatku turun dari motor.

Aku merasa seperti orang aneh, rambutku berantakan, sepatuku basah, kaus kaki putihku kotor, gesper mana lepas-lepas melulu pula. Aku menaiki tangga dan langsung bersyukur karena bertemu Mariyah. Mariyah menemaniku mencari ruanganku, ruang 6, yang ternyata hanya 2m dari tangga. Aku pun mencari bangkuku. Beuh, strategis sekali, tengah baris dua. Selesai mengetahui letak bangkuku, Mariyah dan aku menunggu yang lain sambil mengobrol sedikit. Aku tegang sekali, aku belum pernah ikut kompetisi seperti ini. Padahal kan hampir sama dengan ujian, tetapi anak-anak dikelasnya dari sekolah lain.

Lalu Vinka dan Amrina datang. Setelah mencari ruangan mereka, kita bengong-bengong sebentar didepan ruang 1 lalu ke ruang 8 untuk belajar sedikit. Syifa dan Nabila datang, Nabila mencari ruang 6, setelah ketemu, Syifa ke ruang 8 untuk menaruh tas (ruangannya Syifa di ruang 8). Setelah itu kita belajar-belajar lagi, dan... bunyilah bel. Sumpah aneh sekali belnya. Suaranya seperti musik yang biasa di kotak musik, Azel pernah memainkan musiknya dengan piano tapi aku lupa judul dan pengarangnya.

Setelah semua murid masuk ke ruangannya masing-masing, para pengawas pun mulai menghampiri ruangan yang akan dijaganya. Dan... tadaaa, yang mengawas di kelasku adalah Pak Basuki, salah satu guru biologi SMPN 107. Aku langsung berpikir, kok ruanganku ini enak sekali, ya? Sudah anak-anak 107-nya paling banyak, diawasi guru dari sekolah sendiri pula. Lalu kertas soal dan jawaban pun dibagikan. Aku tegang bukan main, apalagi setelah melihat soalnya... FISIKA SEMUA! AAAAAAA -.-"

Oke, memang tidak semuanya fisika, tapi kebanyakan fisika, lalu buat apa aku menghapal nama-nama beras hasil bioteknologi modern? Lalu saat mengerjakan, suasana sunyi senyap bagai di kuburan. Aku menelan ludah dengan susah payah seperti menelan batu. Padahal ini kan ujian biasa, mengapa juga aku harus grogi begini? Setelah beberapa puluh menit kemudian, banyak anak-anak yang sudah selesai diperbolehkan pulang. Aku pun buru-buru menyerahkan lembar jawaban pada Pak Bas dan mencari anak-anak 107 yang bisa diajak pulang bersama, kalau tidak ada barengan, aku harus sms tanteku karena tidak tahu jalan *udik*

Untungnya aku bertemu Syifa di depan ruangannya. Lalu pulang bersama Amrina dan Novi. Fiuh, akhirnya selesai juga ujian mengerikan tadi. Sekarang tinggal tunggu hasil :) *paling gue dapet 5 :P*

11.12.10

Lalala~~~

Hmm, lagi-lagi aku tidak bisa tidur. Padahal malam kemarin aku tidak begadang dan tadi pagi aku bangun pukul 9an dan langsung nonton Penguins of Madagaskar di GlobalTV. Di tambah lagi aku harus mengikuti kompetisi karena aku mengajukan diri. Aku bahkan belum menyentuh buku! Satu-satunya buku yang kusentuh adalah buku novel yang kupinjam dari perpustakaan Jumat lalu. Padahal kompetisi yang kuikuti akan menanyakan materi dari setidaknya 29 bab. Serta pakaian yang akan kupakai, batik seragam sekolahku, belum di setrika karena baru tadi siang dicuci dan masih tergantung dengan lembab di teras depan rumah.

Aku tidak bisa tidur. Kali ini karena aku merindukan seseorang. Gara-gara novel sialan itu aku jadi tidak mau belajar dan jadi teringat pada orang itu! Aku tidak ingin melupakannya, tetapi harus. Sangat menyakitkan perasaan ini, perasaan memaksa diri sendiri untuk melupakan orang yang paling kita cintai. Berat, tetapi jika keadaan memang seperti ini adanya, ya jalani saja. Dan seperti kata D'Massive, "Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik..."

Aku sudah berpisah dengannya selama 6 bulan, 6 bulan yang bagai bertahun-tahun, menyiksa, mendera, menyayat, bagai mencengkeram hati hingga pecah. Tetapi hati tidak bisa benar-benar hancur. Aku ingat sekali hal-hal yang memisahkan kami, hal-hal sepele seputar duniawi. Hal yang dapat dimaklumi jika tidak dibesar-besarkan seperti yang dilakukannya. Dia bahkan menggunakan aku untuk mendapatkan yang dia inginkan.

Tetapi banyak orang peduli padaku saat itu, dengan mudah aku diselamatkan dari masa depan yang suram (madesu aja napa, elah susah amat bahasa lu :P). Aku sedih harus berpisah dengannya, tapi harus. Untuk apa aku bertahan demi bersama dia yang jahat? Begitu kata orang-orang. Orang lain juga bilang bahwa aku akan lama berpisah dengannya. Harus kuakui ia memang jahat, tapi aku menyayanginya, bagaimana pun.

Dan kini, aku rindu suaranya, rindu ciumannya di dahiku, rindu perhatiannya, rindu candaan dan tawanya, rindu pelukannya, rindu ceritanya, rindu memijati kakinya yang lelah selepas bekerja. Aku rindu segala-galanya yang dulu ia beri padaku. Tapi apakah ia rindu padaku? Apakah pernah terbersit di hatinya untuk menemuiku sekali saja untuk sekedar menatapku? Aku rindu dirinya, aku masih sayang padanya, sayang sekali.

However bad you are, but still, I love you,
Mom.

3.12.10

Jumat, 3 Desember 2010, 2:20 AM

Hmm, saya menulis pada pagi buta seperti ini karena terpaksa. Beberapa bulan belakangan saya kurang tidur, dan hal itu menjadi salah satu alasan mengapa saya cepat sekali naik darah untuk hal-hal sepele. Ditambah dengan menjauhnya teman-teman saya, yah, karena beberapa faktor dan salah satunya seperti yang diatas. Hff...

Tadi malam kakak saya menelepon dan kami mengobrol sebentar, ia bilang, jika saya sedang ada masalah, kirim saja e-mail padanya. Selain untuk menghindarkan saya dari stress yang membuat nilai-nilai sekolah saya menurun drastis di kelas 9 ini, juga untuk mendekatkan kami kembali. Ia dan saya jarang sekali saling memberi kabar satu sama lain, saling sibuk dengan urusan masing-masing. Saya jadi kehilangan harapan hidup.

Sudah sejak lama saya tidak percaya dengan orang lain. Walaupun saya memang cukup (baca: terlalu) terbuka dengan beberapa orang, tidak menjadikan saya percaya dengan orang-orang itu. Itulah mengapa saya sulit sekali untuk bisa terbuka dengan orang lain dan membuat saya depresi, hingga depresi itu merubah raut wajah saya menjadi 20 tahun lebih tua dari aslinya.

Tapi bagaimana pun saya harus memaksakan diri untuk mempercayai seseorang, well, sebenarnya ada satu orang yang benar-benar saya percaya, dan benar-benar sesosok manusia yang dapat menjatuhkan saya lebih dari siapa pun bahkan lebih dari Mi Madre. Tentu saya tidak akan memberitahukan siapa namanya *lagi pula, siapa yang mau tahu?

Dan saya memilih ke kondisi awal sebelum semua kekacauan dalam hidup semasa SMP saya ini dimulai, yaitu ketika saya masih tergabung dalam Pramuka, ketika saya belum mengenal ANTIK, sebelum saya berkenalan dengan monster 74, sebelum saya mengetik SMS menanyakan si monster akan duduk dengan siapa di 94, sebelum aku sadar bahwa Mi Madre adalah orang yang sebenarnya jahat, sebelum saya jatuh kepada seseorang yang tak mungkin dari kelas di sebelah kelasku tahun lalu...

Tapi siapapun yang pertama kali mengatakan bahwa "penyesalan selalu di akhir" memang 100% menggambarkan situasi saya saat ini. Paling tidak saya masih memiliki harapan hidup untuk membanggakan diriku sendiri dan mencoba memulai semuanya dari awal lagi. Sulit, tapi harus, hidup memang tantangan.

NB: Pasti ada seseorang diluar sana yang telah mengetahui tentang siapa itu Gadis "Hama", maka saya ingin meminta untuk tidak menyebarkannya pada siapa pun. Terima kasih :)

6.11.10

Pelantikan Ekskul 4 - 5 Nov 2010

Hmm, ini dia cerita versi anak Pramuka Sertu yang berambut pendek keriting dan berkulit gelap..

Sebelum gue mulai, gue mau cerita tentang orang yang gue tunggu di edisi November, 3rd - 4th, 2010 gue. Gue nunggu tuh orang dari Rabu sampe Jumat dan tahu nggak? Ternyata dia sakit, jadi nggak masuk. Huaa gws yaw Senin harus masuk! Hehe *maksa*

Jadi, hari Jumat tanggal 4 November 2010, Syifa, Farah, Caca, dan gue mulai menangkap satu per satu anak-anak Pramuka kelas 9 setelah jam pelajaran terakhir berakhir. Kita berempat berencana untuk memeriahkan suasana acara Pelantikan dan Jamboree Ekstrakurikuler SMPN 107 dengan menari Saman yang pernah mau kita tampilkan di acara Bukber SMPN 107 tapi gak jadi itu. Kita menangkap Titik, Rifdah, Feby (yang kemudian melarikan diri entah kemana), Widi, Nabila, Giska, Martha, dan Diput. Tapi yang berkemungkinan ikut hanya Rifdah.

Akhirnya kita berempat menyerah dan angkat tangan. Syifa, Caca, dan gue yang belum mengambil baju untuk menginap nanti malam akhirnya pulang dan janjian ke sekolah jam 3 sore. Sesampainya dirumah, gue langsung istirahat, makan, ngepak barang, mandi, lalu menonton tv menunggu pukul 3. Pas udah jam 3:17 p.m., gue nelponin Syifa, Farah, dan Caca. Tapi tak seorangpun mengangkat telpon daari gue. Gue pun akhirnya sms Rifdah, menanyakan keberadaan Syifa karena rumah mereka cukup dekat. Rifdah pun bilang bahwa baru saja dia dapat telpon dari Syifa, sekaligus mengabarkan bahwa ia tidak ikut. Gue pun langsung menelpon Syifa dan menanyakan jam berapa kira-kira gue harus berangkat, mengingat gue nelpon dia aja udah jam 4 kurang. Akhirnya Syifa bilang jalan bareng aja karena dia harus membujuk Caca ikut. Akhirnya gue nungguin sms Syifa sampe jam 5 lewat, sampe ketiduran pula.

Akhirnya gue nyebrang jalan-rel kereta-jalan, naik angkot 04, lalu nyambung dengan angkot 36 dan turun di Circle K dekat kompleks rumah Caca. Gue, yang orangnya panikan dan terburu-buru, nge-sms-in Syifa berkali-kali sampai akhirnya Syifa datang setengah jam kemudian. Lalu kita sama-sama jalan menjemput Caca. Dirumah Caca, Syifa menjelaskan pada ibunya Caca tentang kegiatan ekskul ini, dan ibunya baik malah, Caca diijinin. Oh, jadi ternyata Caca sendirilah yang ga mau ikut.

Setelah solat magrib di rumah Caca, kita pamit sama ibunya Caca dan berangkat ke sekolah yang jaraknya ga nyampe sekilo dari rumah Caca. Sepanjang jalan Caca ngedumel aja, dia masih ga niat ikut karena kesel sama Farah, yah, itu hanya simpulan gue. Dan tahu tidak? Kita bertiga ngaret tiga jam! Imagine it! *Halah sok inggris*

Dateng-dateng kita langsung ganti baju dan dipanggil Bu Ai suruh ngambil makanan. Setelah makan, kita latihan saman. Guile susahe naujubileh, karena gerakannya baru dan sebelumnya gue belum latihan, gue ikut acara ini dadakan dan hanya karena untuk meramaikan angkatan gue aja.

Setelah itu ada matrikulasi, anak-anak Pramuka di pencar jadi beberapa kelompok. Tadinya Syifa, Caca, gue bareng sama kelompoknya Ka Ikka, tapi disuruh pindah sama kak siapa gitu ke paling pojok bareng Ridho, Ka Donna, Ka Bervy. Kita mah yok ayok aja dan dikelompok ini seru banget, ada games dan matrikulasinya, nyanyi Marina menari, itu apa? itu topi (untuk kenalan), dan lain-lain. Lalu Caca dan gue masuk kembali ke kelompok Ka Ikka dan berperan sebagai: Kakak Kelas Jahat. Anak-anak yang bandel gue laporin, biasanya mereka bandel karena bosen, ditambah suara Ka Ikka yang nggak begitu lantang dan dia cuma sendiri gak kaya dikelompok Ridho.

Selesai matrikulasi, tibalah apel pembukaan dengan pembacaan Pancasila dan penyalaan api unggun, setelah itu ada penampilan dari tiap-tiap ekskul. Syifa, Caca, gue gak jadi ikutan samannya daripada malah bikin ancur, dan yap, menurut gue penampilan dari ekskul kita gak terlalu bagus dan gak nyambung karena Paskib aja nampilin PBB dasar + variasi dan PMR nampilin poster + lagu PMR mereka. Hah, coba kita nampilin semaphore atau yel-yel :P

Setelah itu anak-anak dibubarkan untuk tidur, kelas 7 di kelas masing-masing dan kelas 8 9 di Ruang Media. Sebelumnya, Syifa, Caca, dan gue ganti baju di Masjid (mana ketemu Pak Adnan lagi, dia lagi wudhu pas kita dateng ke situ dan nanya "Eh, kamu udah solat belum, Nado?", well, ada baiknya sih, dia ngingetin gue bahwa gue belom solat) karena kamar mandi diluar masjid penuh+bau+kotor. Setelah ganti baju, kita bertiga solat. Pak Adnan udah duluan solat dan dia baca suratnya yang panjang-panjang bener, gue tahu karena dia bacanya bersuara, ini kan solat isya.

Habis solat, kita berempat laper nggak karuan. Akhirnya Farah dan Syifa mau beliin makanan ke Circle K deket sekolah (selain deket rumah Caca, ada juga yang deket sekolah). Bayangin.. jam setengah 12 malem! -.-"

Caca dan gue nunggu mereka dengan uring-uringan, mulai dari ke toilet, ke depan SBT, ke lantai dua yang gelapnya naujubilah setan, lalu kembali ke depan ruang media. Kita terlalu banyak menarik perhatian guru dan sering banget ditegur untuk masuk ke ruang media (untung banget Adnan tidurnya di Masjid, kalo nggak udah kena ceramah panjang kali lebar kali tinggi). Terus pas duduk di depan ruang media, Pak Tholib buka pintu ruang media dan ketawa dimirip-miripin kuntilanak, ckck. Dih, guru gaje, Caca ama gue cuma bisa nahan ketawa doang. Secara Tholib itu guru OR yang badannya paling mirip Pithecantropus dibanding guru-guru lain -.-

Setelah Syifa dan Farah dateng (pukul 12an), kita ke musola untuk makan, tapi dialokin lagi sama Bu Ai. Kita alesan aja mau makan, ga berhasil, kita bilang ga ada tiker untuk di ruang media (kita berencana tidur di musola), ga berhasil juga, Bu Ai nyuruh kita ngambil sajadah atau karpet solat. Maka Syifa dan gue pun menyelinap ke masjid tempat Pak Adnan tidur dan ngambil 4 sajadah yang gede-gede dan tebel (mengingat di ruang media ber-AC dan sekarang udah malam, ngilu tulang gue ngebayanginnya). Di ruang media gue makan semua taro gue sambil ketawa-ketiwi sama Kyrie lalu tidur bareng Syifa dipanggung.

Dan ketika jam 2 dibangungin, gue menggigil dan bersembunyi dibalik mukena. Gue girang, saatnya balas dendam ke anak kelas 8, tapi taunya kita malah ngurusin kelas 7 dan kita hampir kena "dilantik" sama alumni. Terus kita ngerjain anak kelas 7, kita bawa ke lantai tempat mereka tidur, terus nakut-nakutin mereka. Eh pas naik tangga, kepala Tisan kena sikut gue, (badannya cuma seperut gue dan matanya ditutup kacu) spontan gue minta maaf (yang mana melihat keadaannya mestinya gue gak minta maaf).

Jam 3 anak kelas 7 diturunin ke lapangan dan kita susun barisannya tanpa sepengetahuan mereka, lalu meninggalkan mereka untuk ikut mendengarkan muhasabah. Syifa, Caca, Farah nangis. Duh, gue ga bisa nangis lagi -.- Terus selesai itu, kita dipanggil ke deket musola untuk mendengarkan petuah Ka Udin. Hmm, dapatkah gue ngejalanin yang Ka Udin sarankan? Gue udah berjanji untuk ikut Pramuka seperti Ka Ipeh, Insya Allah gue bisa :)

Lalu kita solat subuh, ganti baju, lalu ke depan DKR. Anak-anak kelas 7 pada senam, tapi kita berempat duduk berdiam diri dengan wajah madesu (kata Ka Asep) sambil nontonin anak kelas 7 senam dan dengerin musik Poco-Poco. Tiba-tiba Pak Adnan dateng, cuci tangan (ada tempat untuk nyuci gitu didepan DKR), lalu dengan tangannya yang basah, dia nepok bahu gua sambil nanya "Nggak ikut senam, Nado?", beh anjir dia meper -.-"

Setelah ber-madesu-an gaje, kita disuruh Ka Bervy lari keliling sekolah sesuai perintah Ka Udin tadi, salah satunya. Akhirnya bersama kelas 8 dan Ridho, kita lari keliling dari DKR- Pos satpam- parkiran motor guru- kantin- DKR sebanyak kurang lebih 7 kali (tawaf dong-,-) sambil nyanyi yel-yel. Ah pretkampret ada Pak Is (so?). Setelah itu kita stretching dan ambil napas, bodohnya, selesai itu, gue duduk dengan kaki disila, yang mana membuat kaki gue sakit sampe hari minggu dan gue akhirnya ga renang.

Kita berempat jajan, lalu Syifa Caca gue ke ruang media sedangkan Farah sama alumni. Syifa baca buku, Caca duduk, gue? tidur. Ngantuk gila bo. Setelah itu kita nonton penampilan yel-yel dari seluruh Ekskul yang ada, Pramuka jelas lebih keren *sombong mode on padahal ga ngajarin yel-yel ke adek kelas* Dan ikutan nge-yel bareng "alumni gatau malu", hahaha.. Tapi keren.

Setelah itu alumni, kelas 9 dan 8 ngebuat arena games. Ada spider web, terus yang mindahin bom itu, ada juga yang hullahoop (tapi diganti pake sarung), sama ada bartender, satunya lagi gue lupa apaan. Nah gue kebagian jaga pos bartender. Seru! Seumur hidup gue baru sekali kemaren megang gelas dan ditimpukin, AAAA MAU LAGI 
<-- 7="" 8="" :d="" abaikan.="" ada="" ai="" air="" aja="" akhirnya="" alat-alat="" alumni="" anak-anak="" apel="" baca:="" baju="" bantu="" bayar="" benerin="" berapa="" berdiri="" berempat="" beresin="" bertiga="" biasa="" bilang="" bola="" bu...="" bu="" bye="" caca="" ceritaku="" dan="" deh.="" dengan="" depan="" di="" dibalik="" dibubarin="" dikasi="" dikasih.="" dikasih="" dikassih="" disini="" dkr="" duduk="" ekskul="" elas="" enak="" farah="" foto-foto="" ga="" gak="" games.="" ganti="" ggod="" gila="" gue="" hari="" ida="" ikutan="" ini="" itu="" jabatan.="" jabatan="" jadi="" jajan="" jamboree="" jangan="" jawab="" jelas="" kalo="" karena="" ke="" kelas="" kita="" lagi="" lalu="" lapar="" makanan.="" makanan="" makanannya="" manusia="" mau="" mengambil="" mereka="" minta="" muji="" nak="" nangkep-nangkepin="" nanti="" ngambil="" ngebagiin="" nggak="" nungguin="" oh="" oke="" pada="" panas="" pembagian="" pengurus="" penutupan="" permasalahannya.="" pulang="" pun="" ridho.="" saatnya="" salim="" sama="" sambil="" sampai="" sebenernya="" sedang="" see="" selesai="" sembilan="" senin.="" sepakat="" septin.="" serah="" seru.="" setelah="" siapa="" solat="" span="" syifa="" tahu="" tali="" tapi="" tibalah="" tidur="" tu="" tuh="" uang="" udah="" untuk="" upacara="" walau="" walaupun="" ya="" yang="" zuhur.="">

26.10.10

Gadis "Hama"

Oktober tepat tanggal 26 di tahun tersingkat: 2010
Hmm, sulit untuk dijelaskan. Hari ini aku pulang membawa setumpuk masalah baru dan segunung pekerjaan rumah dari sekolah. Hari mendung ketika aku berjalan bersama I dan A sepulang sekolah. Yah, dua jam sebelum kami pulang memang hujan sudah turun, tapi kini berhenti.

Aku mengantar I ke pasar untuk membeli gas untuk kompor portable yang akan dipakainya esok, ia tidak tahu harus membeli dimana. Aku "biasanya" dapat diandalkan oleh teman-teman baikku dalam berbagai macam hal dan bidang, tetapi kini...

Gadis "hama" itu datang, mengganggu hidupku yang sudah penuh masalah ini dengan persoalan baru. Ia merebut pacar salah satu sahabat Pramuka-ku, kemudian ia merebut teman-teman baikku, selalu mencampuri urusan dan bahkan menyela perbincanganku, ia memata-matai jejaring sosialku, dan menyontek segala yang kulakukan. Ia tadinya memang temanku, tapi tidak sekarang. Ia sombong akan kepintaran dan bakatnya, ia selalu memamerkan kelebihannya pada orang lain dengan dilebih-lebihkan, yang mana membuatku muak. Ia selalu bercerita padaku dan sesekali aku memberinya saran, tetapi ia menolak saranku dan menyikapi masalahnya dengan sangat bodoh. Bagaimana seorang anak berumur 14 tahun yang sebulan lebih tua dariku dan masuk ke kelas unggulan tetapi sangat idiot dalam menyikapi masalah?

Well, terkadang aku juga salah, tidak ada manusia sempurna, bukan? Aku selalu ingat itu. Tetapi menurutku caranya menyikapi masalah sangat bodoh, well, itu kan hanya anggapanku saja. Dan hingga saat ini, aku tidak tahu, apa yang membuatnya berubah sampai sedemikian rupa buruknya.

Aku pulang berjalan kaki memutar menghindari pasar setelah selesai mengantar I, menatap awan yang sepertinya hampir kelelahan menahan air hujan. Hari ini si gadis "hama" sudah berani mengeluarkan kata-kata yang sangat kotor didepan muka salah satu teman baikku di kelas, untuk apa kutegur? Sudah pernah kusindir tersirat tapi rupanya ia tidak peka, toh yang malu bukan aku. Kata K, ia bertindak seperti itu karena ia cemburu pada teman baik Pramuka-ku yang kembali melanjutkan hubungan dan merayakan 7 bulan jadian dengan pacarnya yang sempat diambil alih si gadis "hama".

Apa ia tidak punya otak? Tidak punya malu? Ia tahu itu pacar orang, kok bisa-bisanya seenaknya merebut pacar teman baik Pramuka-ku itu? Tadi K meminta bantuanku menuliskannya puisi yang akan dibacakannya esok hari dalam perlombaan "Say no to Drugs" kalau tidak salah. Maka ia memberiku kertas yang sudah ada puisi buatannya, yang akan kusederhanakan bahasanya serta kutambah satu bait yang nantinya akan kurundingkan lagi bersama K. Dan kubawa kertas itu ke tempat dudukku. Belum sempat kubaca, gadis hama berkata-lebih kepada dirinya sendiri-"Ini, ya?", lalu langsung merebut kertasku tanpa permisi dan menuliskan puisi versinya dibagian kertas yang kosong, lalu mengembalikannya tanpa minta maaf. Ia tahu itu kertas puisi K karena ia selalu mengekori teman-temanku itu.

Aku hanya bisa memandang kertas yang kini ada dihadapanku itu sambil berpikir, tak punya tata krama-kah ia? Atau adatnya seperti itu karena ia baru didatangkan dari desa yang tak punya norma? Aku jijik pada tingkah lakunya yang makin lama makin menjengkelkan itu.

Aku tak kuat lagi berjalan kaki, maka kuputuskan untuk naik angkutan umum dari palang KA yang berjarak sekitar 800 meter dari rumahku. Turun dari angkutan umum, awan telah lelah, sedikit demi sedikit mulai ditumpahkan air hujan jadi gerimis. Hah, hujan. Hah, masalah. Kini aku hanya berharap masih ada saus sambal dan seliter soda di rumah.

3.9.10

Sanlat Sertu 30 Agustus 2010 - 2 September 2010

Sanlat sertu tahun ini, seru banget! Sekolah ngedatengin para santri dari Pondok Gontor, Jatim untuk ngajarin anak-anak sertu. Kenapa dari Pondok Gontor? Karena Pondok Gontor adalah pesantren yang paling bagus katanya, semananya gue belum tahu pasti, tapi mungkin bagus se-Pulau Jawa karena merupakan perguruan agama Islam paling tua di Jawa. Dan ada alumni dari sertu yang masuk ke Pondok Gontor, namanya Kak Wicak (Pandu Arya Wicaksono), dia alumni Pramuka juga lho! Pantesan, alumni yang jarang gue liat ya salah satunya Kak Wicak ini, tapi sekali dateng pasti bikin heboh dan kocak! Nah Kak Wicak inilah yang katanya punya usul untuk mengadakan sanlat di sertu, baik banget, ya?

Sanlat tahun ini, wali kelas baru gue ada dua, yaitu Kak Avicenna (Avicenna Hamidy) dan Kak Adiyatma (Adiyatma Natawiguna). Yang pertama ngajar dikelas adalah Kak Adiyatma, orangnya lucu banget! Dia kayanya masih grogi kalo ngajar, jadinya lucu, sifatnya mirip Eki kata Syifa, dan ternyata, bener juga lho. Ka Avicenna, yang hobinya kipas-kipasan dan ngomong a la orang Betawi dan mukanya mirip orang India, ganteng deh :P kwkwkwkwk.

Ada juga kakak-kakak santri yang lain seperti Kak Rama (Mulia Ramadhan), yang doyannya main tebak-tebakan yang selalu bikin anak-anak IX-4 ketawa karena dia salah nebak dan bikin deg-degan dikala kita disuruh nebak. Kak Wicak yang gokil dan bersuara lantang bikin kaca bergetar itu juga ngajar di IX-4 dan memaafkan Syifa, Farah, dan gue karena telat masuk kelasnya (keasyikan latihan saman di DKR). Ada juga Kak Muttaqin, Ka Kiki, dan Ka Fahmi.

Mereka semua ngajarin Mahfudzot (syair Arab), hadist, ilmu Fiqih tentang thaharah, kaligrafi, sampe ngajarin bahasa Arabnya karena mereka jago bahasa Arab dan bahasa Inggris. Semuanya bermanfaat banget dan membuat kita jadi lebih baik (Insya Allah). Mereka juga mengajarnya dengan semangat, jadi murid-murid nggak ada yang ngantuk, ditambah sistem mereka yang FS FB (Form Serius dan Form Bebas, gue lupa itu sistemnya Kak siapa...) membuat kita nggak ada yang ngantuk dan ilmunya nyantol semua di otak.

Sayang sekali, setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Empat hari adalah waktu yang cukup singkat. Dan 2 September 2010 menjadi hari kebersamaan terakhir.

2 September 2010 itu diadakan bukber sertu dan acara pensi yang diselenggarakan kakak-kakak santri. Latihan saman yang kemarin-latihan-besok-tampil itu mudah-mudahan nggak sia-sia dan nggak malu-maluin. Dari pagi, gue udah bersemangat banget buat nampilin Saman itu, dan bersemangat banget mau lihat Planet Dance yang akan dilakukan kakak-kakak santri. Dan marah banget karena baju Pramuka gue dipipisin Billy!

Jadi siang jam 1 setelah latihan Saman, gue nyuci baju Pramuka gue dulu, ngeringin di mesin pengering, setrika dikit, jemur dah. Walhasil baju gue jadi wangi lagi :) Setelah itu jam 2 gue berangkat dan mondar-mandir di lorong sekolah sambil bete dan sambil melihat para kakak santri yang sedang membuat panggung pensi dadakan. Dan sial pun datang...

Hujan mengguyur mulai pukul 3 sampai pukul 5, membuat kelompok tari Saman jadi guling-gulingan gajelas di DKR. Para kakak santri nge-yell di tengah hujan dan anak-anak cewek sorak-sorakan bikin kuping sakit. Kak Wicak yang setelah ujan-ujanan terus mandi itu mampir sebentar ke sanggar Pramuka, juga putus asa banget karena hujan dan bilang bahwa dia nggak tau apakan pensinya jadi atau nggak. Jam 5.30 pintu DKR di gedor Sherly dan anak-anaknya disuruh ambil aqua dan mukena untuk buka dan solat di masjid. Setelah buka dan solat, kami dapat kabar gembira bahwa pensi jadi diadakan, dan kita girang banget. Setelah buka dengan risol, bolu, pastel, es buah, teh kotak, dan aqua, gue dan segenap para penari Saman turun ke DKR dan ganti baju Pramuka.

Setelah bajunya sudah rapi kita pakai, ada "message from hell" yang bilang kalo pensinya ga jadi. Katanya Bu Septin sampe nangis, Kak Irfan (kata Kak Wicak) pingsan karena kecapean. Nah gimana lagi kita? Akhirnya acara pensi diganti menjadi acara foto-foto dengan para kakak santri sambil salam-salaman sama mereka. Ridho minta digetok karena batre kamera SLR Cannon-nya abis. Sial. Untung ada hape Imah yang kameranya bagus. Kita dengan 'barisan khusus Pramuka' foto-foto sama Kak Rama, Kak Devinza, Kak Avicenna, Ka Adiyatma, Ka Wicak, Kak Hasbi dan banyak lagi. Farah, Syifa, Giska, Widi, Imah pada nangis karena kangen sama mereka, semuanya juga kangen kalee.

Acara diakhiri dengan para kakak santri (kecuali Kak Wicak yang dirubungin Arin dan Qya) yang nyanyi dengan posisi lingkaran kecil. Pas mereka nyanyi, mereka difoto, direkam, padahal pas mereka nyanyi itu jam sudah menunjukkan pukul 7.30-an. Setelah itu mereka foto bersama di depan background panggung yang mereka gambar sendiri dan mereka masih difotoin murid-murid yang ngefans sama mereka. Imah mengambil foto background panggung hasil perjuangan-nggak-tidur-selama-2-hari mereka.

Setelah itu gue minjem hape Titik (makasi banget ya, Tik..) untuk nelpon tante gue. Dan gue pulang sama Anggit lagi, mana gue pake rok Pramuka lagi, di motor, BERTIGA -.-"

Pokoknya hari itu adalah hari paling berkesan, hari paling sial, hari paling sedih dan juga bergembira buat gue. Terimakasih ya Kak Wicak, Kak Avicenna, Kak Adiyatma, Ka Rama, Kak Kiki, Ka Muttaqin, Kak Fahmi, dan kakak-kakak lain yang udah mau dateng ke sertu. Ilmu dan jasamu pasti akan kuingat selalu (jiah bahasanye). Kak, jangan lupakan kami, ya :')

22.6.10

Cerita Minggu, 20 Juni 2010

Ohiya! Gue sekalian mau cerita tentang hari Minggu, 20 Juni 2010!

Jadi gini, hari Minggu itu, ternyata Diah dan Yulio ngajak pergi bareng mumpung Diah ada di Jakarta, soalnya katanya Diah mau balik lagi ke Singapore minggu depan. Jadi pas gue sama Mitha renang, mereka dateng deh ke kolam renang udah kaya reunian. Terus selesai renang kita rumbukan mau kemana jam berapa ngapain aja dan diputuskan bakal ke Kota Tua dan sebelumnya ketemuan di halte Pertanian Busway jam 11.00. Udahlah gue pulang, rapi-rapi terus jam 11.00 berangkat dari rumah sama Mitha dan Ka Novi (yang mana kita pikir Diah dan Yulio udah sampe dan tengah nungguin kita).

Eh dijalan, Yulio nelpon Mitha dan bilang "Tunggu ya, gue siap-siap dulu, baru bangun tidur." Wetseh... Terus Mitha berentiin angkotnya di halte SMK 57 dan gue bilang halte Pertanian mah bukan yang ini dan Mitha bilang Yulio mau ketemunya disini. Oh yaudah, okelah kalau begitu. Terus kita nunggu di jembatan penyebrangan bertiga udah kaya anak ilang sambil smsan sama Yulio, nanya-nanya kenapa Diah nggak bisa dihubungin. Ternyata... Jeng jeng jeng jeng... Orang yang mau dirayain malah nggak bisa dateng karena nggak diizinin sama tantenya. So, kita pergi berempat.

Nggak lama kemudian, kita udah liat Yulio turun dari angkot dan naik ke jembatan penyebrangan. Mitha bilang suruh diemin aja, walhasil Yulio turun ke halte dan beli tiket Busway (padahal pas dia udah turun gue tereakin tuh, eh dia nggak denger -.-). Terus kita bertiga jadi nggak yakin kalo itu Yulio, padahal bener itu dia, walhasil kita jadi harus beli tiket Busway deh. Dan akhirnya kita jadi ke Kota Tua setelah rebutan tempat ke Kota Tua, Ragunan, atau... Glodok (sumpah idenya aneh abis, ngapain coba ke Glodok?).

Setelah transit di Dukuh atas dan kepenyet di Busway jadi ikan pepes, kita berempat pun sampai di pemberhentian terakhir, Kota. Terus kita sempet parno soalnya ada mas-mas gitu yang mukanya menakutkan sekaligus mencurigakan ngeliatin Mitha terus dan dengan pedenya MItha berkata, "Ya, paling karena gue cantik, jadi diliatin deh," udah suasananya lagi nakutin gini dia malah ngelawak. Dan orang itu terus ngeliatin Mitha sampe di depan Museum Mandiri, udah aja kita ke Fatahillahnya lari-lari dan berharap orang mencurigakan itu nggak ngikutin kita lagi.

Terus gue jadi tour guide ke Museum Wayang, rupanya mereka bertiga udah sering ke Kota Tua tapi gatau ada Museum Wayang. Setelah sampe, kita bayar tiket masuk seharga Rp 2000 dan gue ngutang ke Yulio soalnya duit gue 50an yang mana sampe hari gini gue masih ngutang ke dia. Setelah muter-muter dan liat pergelaran wayang terus muter-muter lagi di dalem Museum Wyang ampe mabok sekaligus ngadem, kita keluar museum dan beli es potong (lagi-lagi ngutang ke Mitha 2000 juga). Terus ngeliat-liat bangunan tua yang ada disitu sambil nanya harga masuk bangunan dan sambil ngabisin es potong. Gila perjam 75000! Apa banget mendingan gue ke dufan aja 100000 seharian. Udah gitu Mitha salah orang pas mau ngajak ngomong gue, wakakaka, mana pas salah orang bibirnya penuh es krim, terus orang yang dia salah aja ngomong itu cewek-cowok yang pacaran lagi berantem gitu terus mereka jadi senyam-senyum ngeliatin Mitha, wkwkwkwk...

Terus kita berempat nanya-nanya harga ontel yang sama mahalnya. Walhasil kita memutuskan untuk mencoba menghubungi Diah kembali dan berencana ketemuan di gerbang utama Ragunan dan Diah dibolehin. Akhirnya kita kembali naik Busway dan ngantri jadi ikan pepes lagi, untung juga orang mencurigakan tadi nggak ngikutin kita lagi. Terus pas nunggu, pintu haltenya yang otomatis nutup sendiri, terus ada mas-mas di depan pintunya, kekunci di luar sendirian, untung dia nggak jatoh. Dan untungnya lagi kita berempat dapet kursi sampe di Dukuh Atas. Di Dukuh Atas juga kita berempat dapet kursi, tapu Yulio, gara-gara duduk deket pintu jadi disuruh berdiri supaya ada nenek-nenek gitu bisa duduk, wkwkwkwk, gempor gempor dah lu. Terus kita kejebak macet setelah halte Pertanian. Lamaaaaaaaaaaaa banget deh. Sampe kita maksa supir Buswaynya untuk nurunin kita secara darurat biar bisa jalan kaki, tapi nggak dibolehin.

Akhirnya macet yang puanjangnya minta diampunin itu selesai. Kita ketemu Diah berdiri di pangkalan ojeg, terus kita masuk ke loket tiket dan apa kata mbak-mbaknya??? "Maaf, sudah tutup." WOOY baru jam empat tau, masa udah tutup, mana Mitha udah prepare beli gulali sekantong gede. Jadinya kita mutusin untuk makan, dan pergi ke rumah Diah. Kita ke jalan rayanya jalan kaki baru naik 17 dan disambung dengan... jalan kaki lagi, mana jalan masuk ke gangnya lumayan jauh lagi. Terus nontonin pergulatan Diah dengan sepupunya disana sampe jam 7 malem. Mitha, Ka Novi, dan gue pulang bareng sedangkan Yulio pulang sendiri, padahal gue mau bayar utang sekaligus mau ngingetin supaya meng-confirm fb gue, eh dia malah ngayap sendiri.

Hah, menikmati udara malam bersama teman-teman. Gapernah gue main sampe jam segini, mungkin ini yang membuat gue berubah. Tapi demi lho, hari ini seru abis, i'll never forget this day (halah), dan berharap liburan nanti kita bisa main bareng-bareng lagi supaya gue bisa bayar utang ke Yulio, utang ke MItha sih udah tuntas, malah gantian dia yang ngutang soalnya gue yang bayarin Buswaynya dari Kota ke Ragunan, wkwkwk. Hari yang sangat spesial tepat sebelum gue ulang tahun. Gue pasti merindukan Diah dan Yulio, Mitha mah bisa ketemu tiap hari wong rumahnya sampingan sama rumah gue, thanks a lot and love you guys :)

5.5.10

Rabu, 05 Mei 2010

Hari ini, bisa dikatakan aku sial sekali, lebih sial dari pada hari Senin yang lalu. Entah mengapa, kesialanku hari Rabu ini beruntun sekali.

1. Aku masih pusing memikirkan persoalan inisial dan NZ
2. Tanteku lama sekali berdandannya hingga aku hampir terlambat masuk sekolah
3. Saat aku bicara dengan Azel, Anka mengajakku mengobrol, padahal aku pernah bilang padanya, jika aku sedang mengobrol dengan orang lain, mohon jangan ajak aku mengobrol, tapi dia tetap begitu, jadi tadi pagi aku memarahinya (maafkan aku, Anka T.T)
4. Olahraga hari ini voli untuk anak perempuannya, sedangkan aku benci sekali voli, mana saat giliranku memukul, pukulanku tidak melewati net.
5. Aku tidak menyelesaikan soal bahasa inggrisku.
6. Aku TIDAK BAWA BAJU SERAGAM PUTIH BIRU!
7. Kelas berisik sekali saat pelajaran BK, habis gurunya cuma sebentar sekali datang ke kelasku, hanya memanggil kelompok 4 untuk "diceramahi"
8. Nilai LKS bahasa indonesia belum masuk padahal LKS-nya sudah dikumpulin
9. Berkeliaran disekolah seperti anak ilang atau nggak seperti anak nyasar *bajunya beda sendiri
10. Pengambilan nilai Pramuka, dan sudah dapat kupastikan, aku akan sakit hati lagi karena ada... NZ
11. NZ ngedeketin TE melulu, terus tali pionering dijadiin kalung juga seperti yang TE lakukan
12. Miqdad tidak tahu namaku (-.-) *terlupakan

Aku sedih sekali karena tidak membawa baju seragam, padahal aku tahu, hari ini aku pengambilan nilai Pramuka yang sudah pasti ada NZ. Aduh, aku tuh bego banget sih! Mana tadi NZ ngeliat aku cuma sekali doang. Terus pas PBB, harusnya NZ itu baris disampingku, tapi dia pindah ke depan *persis sekali seperti waktu latihan jaman dulu: NZ paling depan, AB ditengah, aku dibelakang. Yang paling aku sedih itu NZ sama TE! Sepertinya NZ suka sama TE deh, dari gelagat yang aku lihat sih. Dan satu hal yang paling aku.. aduh, sedih iya, sakit hati iya, sebal iya, benci iya, adalah... Miqdad GATAU NAMA AKU! Benci banget! Sepertinya aku baru 2 bulan tidak ikut latihan, tapi mereka sudah melupakan namaku, padahal aku masih mengingat jelas nama lengkap mereka dengan penulisannya yang benar. Hah, aku memang murid yang paling dilupakan, paling tidak diingat dan semua orang mungkin berusaha melupakanku.

Ya, aku berharap minggu depan aku tidak lupa membawa seragamku, benar deh, rasanya seperti anak nyasar, seperti anak pedalaman yang tersesat di kota *lebay. Aku juga berharap, "seseorang" membaca tulisanku ini. By the way, aku harus... mandi, sudah pukul 10:01 pm waktu WIB. Hehehe...

3.5.10

Inisial Se-dwiyar Nama

Hari ini, Senin lagi, sial lagi. Entah mengapa selalu sial hariku saat Senin. Padahal aku sudah melupakan pikiranku tentang "Senin pasti sial" tapi tetap saja, kenyataannya Senin sial untukku. Dan lagi-lagi, dia menatapku tajam, dingin, penuh kekejaman *oke, yang ini lebay. Entah mengapa selesai upacara aku langsung mengejarnya, padahal sebenarnya aku mau berlama-lama di bawah bersama salah satu temanku yang kebagian giliran untuk memainkan keyboard pagi ini. Lalu saat aku sedang menaiki tangga yang penuh dengan murid-murid yang ingin segera duduk di kelasnya masing-masing, aku bertemu kembali dengan mata itu, mata unik itu.

Hah, tapi sayangnya, aku melihat ada yang janggal, sepasang mata itu seperti ingin memberitahukanku bahwa akan ada masalah baru lagi. Dan, yak, mata itu benar! Ketika aku masuk ke kelas, salah satu sahabatku, bilang saja NP, memberitahukan kabar buruk, menyangkut inisial namanya, yang sama denganku (NPP). Beberapa bulan yang lalu, hingga sekarang, NP tergila-gila pada seseorang, katakan saja inisialnya XX. Dan XX itu adalah sahabat orang yang kusukai, yang tadi pagi menatapku kejam itu, katakan saja, inisial orang yang kusuka itu NZ. Dan ada pihak lain yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini, yah tidak juga, sih, inisialnya WD.

Jadi begini ceritanya, beberapa bulan yang lalu, NP memberikan sebuah hadiah untuk XX. Tapi NP tidak memberikannya langsung pada XX, melainkan dengan bantuan WD. Nah, di kotak tempat hadiah itu, NP menulis inisialnya : NPT. XX jelas penasaran dengan inisial itu, dia mencari tahu entah dengan cara apa, dan inisial itu jatuh pada korban pertama, NPA, salah satu temanku, anak perempuan berjilbab di kelas XX. Lalu korban kedua jatuh pada... Aku. Entah mengapa XX yakin sekali itu aku. WD bilang ke NP, bahwa tiap kali XX bertemu denganku, dia sering tersenyum, sayang sekali aku jarang melihat XX, melainkan aku selalu melihat seseorang yang berjalan bersama XX, yaitu NZ.

Aku, yang emosinya sedang tidak stabil, jadi pusing sendiri. Kebiasaan. Lalu aku jadi panik sendiri, apalagi pas istirahat. Aku memaksa NP ke kelas XX yang juga sekaligus menjadi kelas NZ dan WD. Pada dasarnya aku hanya ingin bertemu WD, ingin mendapat penjelasan lebih lanjut. Eh, aku malah dapat pemandangan si XX buka baju, kontan aku lari menjauhi pintu kelas. Lalu aku akhirnya berbagi cerita pada sahabatku yang lain, KE dan TE. Kebiasaanku juga, karena aku panik, aku tidak suka dicurigai dan dituduh sebagai tersangka pasti, padahal aku hanya korban.

Apalagi mengingat XX itu sahabatnya NZ, pasti NZ tambah benci padaku, ya entah mengapa aku berpikiran seperti itu dan semoga saja tidak terjadi. Lagi pula, mana mungkin aku suka pada XX? XX sudah mengata-ngatai aku, secara tidak langsung, pada status Facebooknya yang berbunyi "hey anak alumni bt yang sekolah di sertu itu anak nya brengsek juga, tampang nya aja yg polos tp ternyata sikap nya dah kyk anjuang, yg paling parah ngejeble lagi gaya nya :p :p :p". Padahal teman satu asramanya, IM, merupakan alumni Bhakti Tugas juga. XX juga mengatai ekskul yang aku ikuti, Pramuka. Ih, buat apa juga aku suka sama anak yang hobinya bikin masalah?

Aku hanya berharap, NP bersedia mengaku pada XX bahwa dirinyalah yang cinta pada XX, bukan aku, karena hingga saat ini, XX masih menyangka bahwa NPT yang dicarinya adalah aku! Aku juga berharap agar pertemananku dengan NZ tidak memburuk setelah kejadian "tragedi inisial senin" ini, juga pertemananku dengan NP dan WD, karena aku sempat memarahi mereka tadi, hehehe, peace. Ya sudah ya, aku harus pergi untuk... makan -.- see ya! :D

11.10.09

Minggu, 11 Oktober 2009

Hari ini adalah hari pertama gue bikin blog. Sebenernya gue udah ditawarin untuk bikin blog sama kaka-kaka gue sejak pertama kali mereka baca buku-buku karangan Raditya Dika. Tapi gue males, hehehe, masa tiap hari gue mesti online dan nulis keseharian gue? Lagi pula gue juga udah punya buku harian sendiri.

Tapi entah kenapa hari ini gue pengen banget punya blog (yang sebenernya gue gak mau blog ini sampe ketauan sama orang lain). Akhirnya gua bikin deh blog ini (walaupun gua kaga ngerti kan gua agak-agak gaptek sama yang baru-baru gue pake). Malem ini sebenernya PR gue segunung, ada yang kerja kelompok juga lagi. Tapi gue males ngeprintnya habis kayaknya dari pertama masuk di 82 gue mulu deh yang ngerjain tugas kelompok.

Oh ya gue sampe lupa memperkenalkan diri. Nama gue Irtup Ahtimarap Aydan. Gue sekolah di TK Teratai, SDS Bhakti Tugas, dan sekarang di SMPN 107. Sekarang gue duduk dikelas 8. Sedih juga sih bahwa gue mesti menerima kenyataan bahwa gue gak massuk kelas unggulan tahun ini. Anak-anaknya sih yah gue akui masih lebih normal dibanding kelas 8ehm. Hah coba nilai IPS gue gak 6.8, pasti tahun ini gue masuk 81.

Gue ikut ekskul Science Club dan Pramuka di Sertu. Tapi yang gue tekunin banget sejak semester 2 sampe sekarang sih Pramuka. Habis ternyata Pramuka tuh seru banget. Gue bisa ikutan lomba sambil keliling-keliling Jakarta, ntar kalo gue bisa ikutan Jambore gue bisa keliling luar kota bahkan luar negeri, seru kan? Terus tiap semesternya kita refreshing yang biasanya diisi camping atau naik gunung ke luar kota, biasanya sih ke luar kotanya gak jauh macem Bogor. Di Pramuka gue juga dapet segudang, eh lebih dah pokoknya banyak banget ilmunya. Waktu-waktu gue tertawa juga biasanya dari Pramuka, tapi kalo gue emang lagi gak sreg atau lagi ada konflik sama angkatan gue sih biasanya gue ngejauh beberapa waktu.

Terus gue itu suka banget sama warna merah. Kenapa ya? Padahal dulu gue nganggep kalo merah tuh warna paling ngejreng dan gak enak dipandang, dulu aja gue sukanya warna kuning dan hijau tapi warnanya yang lembut.

Akhir-akhir ini gue jadi suka banget keluar bareng temen-temen walaupun kantong duit gue udah kena kanker, hepatitis, diabetes, ah pokoknya komplikasi dah
.Yang pasti gue selalu pengen gak berada dirumah. Sebenernya gue trauma gara-gara gempa bumi kemaren, sori gue emang L.E.B.A.Y dalam kasus trauma atau phobia. Anda mau tau saya phobia apa? Digandeng. Gue paling benci dan gak suka digandeng. Serasa jadi anak kecil and anak ilang tau gak sih kalo digandeng. Eh kok temen-temen gue malah sukanya gandengan, hiiiiii. Selain gak suka digandeng gue juga takut banget sama semut merah. Ini berawal dari pas pelantikan pertama gue, pas camping di Buper. Lagian anak-anak udah gua bilangin itu sarang semut, eh tenda malah dibangung didepan sarang semut, udahlah semut merah itu akhirnya beraksi mulai dari sore hingga malam dan terpaksa deh tendanya di pindahin dan tidur dikelilingi garam, hehehe. Yap lewatin aja dah bagian phobia gue, emang gue rada-rada aneh.

Gue suka banget nonton film horor yang sadis banget macemnya Final Destination sama Orphan, tapi sekalinya nonton film kartun pasti milihnya yang kocak banget kaya G-Force atau Ice Age. Gue juga jadi hobi banget baca buku yang isinya serem-serem misalnya karyanya R.L. Stine. Tapi gue juga suka yang netral kaya karangan Roald Dahl hingga yang lucu kaya karangannya Raditya Dika. Gua juga sesekali baca buku novel remaja yang isinya tentang ngarep cinta dan hanya ada dalam mimpi itu, kalo emang gue menilai bukunya bagus. Habis gue bosen novel remaja kok pada gak kreatip semua ya isinya cinta pacaran cinta monyet-monyetan gitu (seneng banget sih jadi monyet?).

Keseharian gue kadang lucu, kadang bikin gue kesel banget sampe gue berharap gue mati aja deh. Gua doyan banget tidur, kalo otak gue gak jalan dan gak inget untuk sekolah atau
untuk latian Pramuka, biasanya gue tidur melampaui batas manusia normal. Rekor tidur terlama gue sampai saat ini adalah 15 jam. Gue juga doyan banget wisata kuliner (padahal dulu gue ogaah banget sama yang namanya makan). Gue suka banget makan cumi, terserah cuminya mau digoreng tempura, dimasak bareng telor kek, dibakar kek, pokoknya I Love Cumi banget deh (asal buka cumi busuk and cumi gosong aje). Gue juga suka banget udang tapi gue Monsteran alias alergi kalo makan udang. Tapi belakangan ini gue nekat makan udang tapi gak alergi lagi, akhirnya. Itulah kenapa gue suka banget makanan seafood. Gue juga suka banget makanan yang berbau daging. Tapi tetap aja makanan kebangsaan gue : mie instan. Kalo makanan kemerdekaan gue tuh : lidinya Tante Mimi, teope begete dah. Untuk minuman gue paling suka jus mangga, jus jambu, jus alpukat dan es kelapa muda yang dijual di depan sekolah gue. Gue juga suka banget es buah yang di Kalibata.

Sebenernya gue masih mau cerita banyak, tapi gimana dong? Gue nguantuk berat. Namanya juga doyan tidur. Jadi gue lanjutin besok ya.. Bye :D