"Lagi nggak ada bulan, ya?" tanyaku pada Sin.
"Jakarta parah polusinya," jawabnya. Jawaban paling polos sedunia astronomi.
"Masa iya polusi Jakarta bisa bikin bulan gak keliatan?"
Ya. Masih seputar Log, Tan, dan aku. Tadinya aku hampir mau bilang, "Gue sering bikin puisi yang awalnya, "Bulan terlalu mengerikan untuk jadi nyata," meskipun malem ini bulan lagi nggak kelihatan". Tapi toh buat apa? Sin tidak butuh informasi semacam itu. Aku tadinya sudah move on ke matematika, tapi...
"Gue udah move on, lho, Dec!" curhatku pada Dec, sahabat baik Hex.
"Oh, ya? Sama siapa?" tanyanya.
"Sama matematika,"
"Matematika itu.... maksudnya nama orang?" dia mulai ragu.
"Bukan, matematika beneran," jawabku, keburu senang.
"Itu mah namanya bukan move on,"
"..."
Sempat juga aku curhat pada Hex kalau aku move on ke Sin, tapi dalam keadaan bercanda. Tapi...
"Daripada galau mulu mendingan gue move on ke Sin aja kali, ya?"
"Lo move on ke Sin apa jadinya? Tablo iya, Lim... Lim".
"..."
Hah, dari pada aku terus begini, lebih baik move on, kan? Kini kedekatan Tan dan Log tak terelakan lagi. Aku selalu memilih bagian berbeda dengan Log, tapi Tan selalu memilih bagian yang sama dengan Log. Mereka pun akhirnya jadi dekat. Memang, aku juga faktor pendekat mereka. Kemarin mereka berada di satu bagian. Dan ketika Log menjelaskan padaku tentang bagiannya, dia mulai mempraktekannya padaku. Mengangkat dagu dan tanganku. Lalu, entah apakah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana, Tan mengalihkannya. Dia menunjuk nomor 6.
"Kalo yang ini gimana, Log?" tanyanya.
"Kaya gini," lalu Log mendekatkan tubuhnya pada Tan.
Saat-saat begini adalah saat dimana aku mau meneriakkan nama seseorang yang berada didasar memori. Nama yang kini sudah berdebu dan entah berada di realitas sebelah mana. Dan jeritannya yang tertahan pun keluar dengan lemah, "Arc...".
Ya, Arc. Kemarin aku dapat pesan darinya,
"Akhir minggu begini memang paling enak bergulat sama matematika.."
Ah, tentu saja. Di saat begini, di saat kita terpisah jarak ribuan kilometer, masih ada saja kontak batinnya. Dia juga sedang suka matematika rupanya. Arc. Kini jadi pemegang rangking nomor 3 di sebuah SMA Negeri ternama di nun jauh disana. Arc, Arc, Arc. Ingin rasanya kupeluk, tapi dimana dia? Jauh.
Aku harus mengakhiri rasaku pada Log. Sendirian.
No comments:
Post a Comment