Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

30.4.20

cereal

i went to the supermarket with my sis. well i was really happy to finally go out but then... i don't know. i thought it'll be better if i just stay at home.

it all starts when my sister said, "hey, i wanna get some cereals." and i followed her to the cereal section. it felt weird. there was something hurt in my chest when i saw those rows of cereal boxes. suddenly i felt like one of that box is calling me. i saw that one box... and remembered of how fool i was.

"i'm not feeling well. i can't go out with you."
'yeah i know. i bought your favorite cereals. eat it, you might feel better.'

i hate that memories.

"thanks for the cereal you bought me. i really feel better."

lie.
you were lying back then.
i knew that you were not sick. you...
...you just avoiding me.
you can't even look me in the eyes.
because of that one mistake you can't fix...

"if you really want it, just put it the cart. why are you staring at it? you'll scared the cereal." my sister shook me back to reality. but that heavy feeling stayed in my chest. i put that cereal box back. my sister saw me with a strange look, but i don't care.

"are you okay?" she asked me. i looked at her and said, 'yea.'

yea... i'm not okay. because of a f cereal box.


23.3.20

Hilang lagi

Badanku tidak enak sekali. Sudah lebih dari dua minggu aku tidak berolahraga. Biasanya aku bersepeda dua atau tiga kali dalam seminggu, namun minggu kemarin aku bekerja di luar kota dan minggu ini masyarakat dihimbau untuk tidak meninggalkan rumah. Angka kasus wabah COVID-19 kian melejit sehingga aku juga sebenarnya was-was bila harus pergi keluar rumah. Tapi besok aku ada ujian ekonomi, kalau badan sakit-sakit begini aku takut tidak bisa berkonsentrasi untuk mengerjakan ujiannya. Akhirnya, aku memutuskan untuk bersepeda malam ini, ditengah pandemi global seperti ini. Memang tidak ada yang mengalahkan kekonyolanku.

Sepanjang jalan aku sempat insecure, apakah aku akan bertemu dengan orang-orang yang kukenal? Bagaimana kalau aku bertemu dengan Dam? Tapi, ah, mana mungkin. Aku selalu lewat situ namun tidak pernah bertemu dengannya, malah lebih sering bertemu dengan Wal atau Rah. Toh juga ini sedang ada himbauan dirumah, dan juga sudah malam. 

Malam itu dingin. Waktu menunjukkan pukul 21:33 WIB. Rasanya aneh sekali bersepeda di jalanan yang biasanya jam segitu pun masih ramai... kini lengang seperti milik sendiri. Biasanya aku selalu waspada akan kendaraan bermotor, namun kali ini tidak. Benar-benar sesepi itu, di hari minggu malam, kota Jakarta. Aku sangat menikmati bersepeda kali ini. Akhirnyaaa aku "bergerak" lagi setelah sekian lama.

Dan setelah akhirnya melewati "kawasan rawan" tempat Dam tinggal, aku agak lega. Sampai seseorang memanggil namaku.
Ian: Kak Lim!
Lim: Loh, Ian! Lo mau kemana?

Ian bersama Kar saat itu. Mengendarai motor dan membawa beberapa bungkusan besar. Saking insecure-nya aku dengan Dam, aku sempat lupa kalau jalur bersepedaku juga melewati tempat tinggal mereka.

Ian: Kita mau buang sampah, Kak.
Lim: Oh, di pembuangan depan itu, ya?
Ian: Iya. Kak Lim lagi ngapain?

Notabene aku sedang sepedahan. Apa aku harus jawab: Aku lagi mandi... mandi keringet?

Lim: Sepedahan aja.
Ian: Dari tempatnya Dam, ya?

Memang temanku hanya dia seorang, ya? Sampai rasanya akhir-akhir ini semua orang terus mengasosiasikan kita berdua. Ini semua karena si Los yang kunjung tak ada kabarnya. Sialan.

Lim: Engga, gue dari rumah.
Ian: Oh, kirain dari Dam. Ya ampun, jauh-jauh. Mana ngga pakai masker lagi.
Lim: Omong-omong, gimana si Los? Udah ada kabarnya belom?
Ian: Belom, Kak! Tolong, ya Kak, coba dihubungi temannya yang satu itu. Dia belum bayar kontrakan.

Kan mereka yang satu kontrakan kenapa aku yang harus kontak Los? Tapi aku juga butuh Los, sih. Jadi kesal sendiri. Dan akhirnya tiba juga kami di tempat pembuangan.

Lim: Iya nanti gue coba hubungi, ya. Gue duluan.
Ian: Iya! Ampun deh, Kak Lim ini. Mana sepedanya ngga ada lampunya. Hati-hati, Kak.
Lim: Iya hati-hati juga kalian.

Aku melepas napas lega setelah berpisah dengan mereka. Uh, mengapa aku harus bertemu dengan orang-orang yang kukenal padahal sepertinya probabilitasnya sudah kecil sekali. Well, probabilitas kecil bukannya nol probabilitas, kan. Ah, seketika kedamaian bersepedaku langsung hilang entah kemana dan pulang-pulang pikiranku malah tambah semrawut. Tambah tidak keruan lagi ketika sesampainya dirumah aku mendapati Dam mengirimiku konten konyol dari sosial media.

Sungguh. Aku harap wabah ini cepat berlalu. Aku juga berharap agar aku tidak perlu lagi merasa insecure atau canggung ketika bertemu atau menerima pesan konyol dari Dam. Aku berharap Los cepat kembali kesini, menyelesaikan administrasi perkontrakannya, dan... sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan pada Los tentang Dam. Astaga pusing sekali kepala. Kalau saja Dam tidak tembok batu dan bisa diajak bicara, mungkin kondisinya akan lebih baik. Namun untuk saat ini, sepertinya biar saja begini.

19.11.19

Da-dum: i should be okay too.

Jadi akhirnya hari itu tiba juga. Ketika kita tak sengaja bertemu. Jujur aku terkejut, meskipun berhasil untuk tidak menampakkannya. Aku bertanya-tanya apakah itu juga yang Dam rasakan, ketika kulihat ia nampak biasa saja. Senyum khas itu, kembali terbit di wajahnya kala mata kita bertemu. Dan lagi-lagi, aku bertanya-tanya apakah senyum itu asli, ketika aku sendiri berusaha keras untuk tersenyum sewajar mungkin.

Aku menertawakan diriku sendiri dalam hati. Bisa-bisanya aku berkata pada diriku sendiri: aku ingin semuanya seperti sedia kala, aku ingin kita seperti dulu, tak perlu ada perasaan canggung diantara kita. Omong kosong, tidak masuk akal. Ternyata aku sendiri yang tidak kuat melakukannya.

"Gue tau lo orangnya ngga mau ribet kaya gue, tapi sesuatu yang se-complicated ini, ngga akan bisa diselesaikan dengan simple." Dulu Los pernah mengatakan ini padaku. Aku ingat membantah Los habis-habisan. Sekarang? Kalimat itu datang dan ikut menertawaiku. Hahaha, aku merasa seperti orang gila, yang masih terbayang-bayang akan kejadian sialan itu. Akan apa yang sudah Dam lakukan...

Yah, memang. Orang yang pandai bergaul, berbaur seperti Dam... pasti bisa dengan mudah menutupi semuanya. Bahkan, dengan sangat natural, bercanda sambil memainkan rambutku. Aku bisa apa? Duduk diruangan itu tanpa melakukan sesuatu yang ceroboh saja sudah bersyukur. Bisa mempertahankan pokerface yang kubuat saja aku sudah bersyukur.

Meski sejujurnya diam-diam aku senang, akhirnya bisa melihat senyum Dam lagi. Selama ini aku sengaja menghindar karena aku berpikir: aku tidak ingin mengganggu hidup Dam lagi. Aku hanya ingin Dam bahagia. Ya, aku senang, bisa melihat senyum Dam lagi. Dan karena Dam terlihat baik-baik saja, aku jadi meyakinkan diriku sendiri: Dam baik-baik saja, jadi aku juga harus baik-baik saja.

11.9.19

Lost: Da-dum

Setelah kejadian tidak mengenakkan bersama Dam semalam... tiba-tiba Los mengajakku untuk bertemu. Setidaknya aku lebih percaya kalau Los tidak akan aneh-aneh sejauh itu denganku. Aku kini tengah duduk di lantai dua sebuah kedai es krim, mengamati es krim cone yang baru saja aku beli. Kini gantian Los yang pergi ke bawah untuk beli es krim. Los agak lama di bawah, karena kedai ini juga sedang penuh karena akhir minggu. Lamat-lamat aku menikmati es krim itu sambil melamun--sambil menunggu Los juga. Aku masih tidak bisa mengenyahkan realita bahwa Dam... ah sudahlah. Los datang dengan membawa es krim cup. Sayang sekali ia beli yang cup, pikirku. Padahal cone disini enak sekali.

"Lo kenapa, sih? Bengong mulu dari tadi?" tanya Los ketika hendak duduk di kursi di depanku.
'Ah, ngga apa-apa, kok, Los.' jawabku sekenanya. Masih bertarung hebat dengan diriku sendiri, apakah aku akan menceritakan kejadian semalam pada Los.
"Lim, gue mau lanjutin cerita gue sama Nar." ujar Los. Ah, iya. Akibat kejadian semalam aku jadi sedikit lupa kalau cintaku pada Los kini benar-benar kandas. Dan Los hanya bisa menceritakan hal ini pada Dam dan aku. Namun karena Dam belum kembali, jadi Los menghubungiku. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?
'Eh, iya, gimana kelanjutannya lo sama Nar?" tanyaku, berpura-pura excited padahal aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini.

Yah, setelah cerita terakhir yang kudengar dari Los mengenai Nar yang membutuhkan space dari Los... Los masih tidak putus asa dan masih ingin memperjuangkan Nar. Los ingin sekali menjaga Nar karena, entah aku lupa Los bilangnya bagaimana, namun sepenangkapanku Nar itu punya masalah dan Los ingin sekali membantu Nar. Los bilang, setelah nembak Nar, Los jadi intens sekali mengirimkan pesan singkat untuk Nar. Los juga dengan polosnya bilang padaku, "Ya gue sempet bilang sih ke Nar kalau dulu gue sering banget mantengin twitter-nya Nar."

Kalau aku jadi Nar, mungkin saja aku jadi sedikit takut pada Los. Merasa Los jadi creepy, begitu. Apalagi dengan chat yang tiba-tiba menjadi intens, padahal tadinya ia tidak begitu. Mungkin aku juga akan merasa risih, kaget, shock? Meskipun sudah ada peralihan status hubungan sekalipun. Mungkin juga itu yang dirasakan Nar. Oh, dan sembari aku berbincang begitu dengan Los, aku membuka twitter Nar... yang kini ternyata sudah digembok, padahal tadinya tidak. Posisinya Los tidak punya twitter, jadi kini Los tidak bisa lihat lagi.

Sebenarnya aku tidak menyangka Nar akan seperti ini pada Los. Aku pikir semuanya akan lancar. Bahkan saat Los bercerita di perjalanan kami ke Gunung Salak pun, aku berpikir bahwa kalau Los nembak Nar, sudah pasti jadi, deh, mereka. Tentu saja aku bilang begitu tanpa embel-embel bahwa sebenarnya saat itu rasanya hatiku seperti sedang masuk mesin penggilingan.

Los juga berpikir semua ini akan lancar-lancar saja, dan ini semua jadi membuat Los kepikiran. Namun sama juga seperti yang sudah aku katakan di Gunung Salak bahwa semuanya ada risikonya, semua ada konsekuensinya: bagaimana kalau Los jadinya kehilangan sosok sahabat dari diri Nar? Dulu itu aku tanyakan pada Los. Los pasti sudah memperkirakan kondisi terburuk itu, kan.

Los bilang ia sudah tahu konsekuensi terburuk itu, namun ia tidak memperkirakan kalau ternyata hal itu yang kini terjadi. Hah, bagaimana pun juga kondisi terburuk itu juga punya probabilitas untuk terjadi, kan. Kebetulan juga Los kini sedang satu kantor dengan dua sahabat Nar, Ral dan Hay. Los bilang, kini Ral dan Hay tidak pernah lagi membahas mengenai Nar pada Los. Sama sekali tidak pernah. Ketika Los bertanya mengenai Nar pada mereka berdua pun, mereka akan menjawab seadanya, bahkan seminimal mungkin. Yah aku tidak heran. Pertemanan perempuan kadang memang begitu, kan. Saling backup kalau sudah soal cowok. Tapi apa-apa yang Los lakukan pasti akan dilaporkan ke Nar oleh Ral dan Hay.

Es krim ku cepat sekali mencair. Padahal aku sudah berusaha secepat mungkin untuk memakannya. Aku hanya bisa menatap lelehannya jatuh keatas tisu yang sudah kusiapkan sedari tadi. Untunglah yang mencair hanya es krim, kalau air mataku ikut mencair, kan, tidak lucu. Yah, sepertinya saat ini Los benar-benar harus membuat langkah yang benar agar tidak kehilangan Nar. Dan sepertinya aku juga harus menenangkan hati sejenak dari Los maupun Dam.

8.10.18

Lost: kali ini tidak hujan

Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu dengan Los lagi. Hahaha, kadang aku suka bertanya pada diriku sendiri, memangnya Los itu apa? Monster? Sampai aku sebegitunya ingin menghindar. Sebenarnya yang kutakutkan adalah diriku sendiri. Di penguhujung pertemuan, rasa itu pasti muncul kembali. Rasa yang kutepis mati-matian untuk membuktikan bahwa: kami hanya teman dan kami tidak ada rasa yang lebih. Menyedihkan memang, untuk menghadapi kenyataan bahwa ternyata aku memendam rasa pada Los, temanku.

Lebih menyedihkannya lagi, ketika aku tahu tipe perempuan yang Los sukai, meskipun Los tidak mengakuinya secara langsung. Ah, aku bukan tandingan perempuan-perempuan berparas cantik yang tinggal di kota, cerdas, dan banyak teman. Aku otomatis kalah. Bahkan otomatis tersingkir sebelum dipertandingkan. Ah, jadi yang seperti itu...

Bodohnya aku, masih saja mencari secercah harapan dibalik itu semua. 'Paling tidak, kini ia mengkhawatirkan aku,' pikirku. Diriku memang sedikit bebal dan bodoh. Sejak kapan Los mengkhawatirkan aku? Los hanya sekadar mau tahu saja apa yang sedang aku kerjakan, bukan berarti kalau Los peduli, ya, kan? Memang benar, Los menanyakan kabarku, bagaimana progress pekerjaanku, apakah aku perlu teman untuk menyelesaikan masalahku... namun itu semua adalah yang dilakukan oleh seorang teman, ya, kan?

Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu dengan Los lagi. Hahaha, kadang aku suka bertanya pada diri sendiri. Memangnya Los itu apa? Monster? Bukan, Los adalah temanku.


Lost: main

Aku akhirnya beranjak dari kontrakanku, menuju ke kampus. Biasa, kegiatan organisasi. Teman sekontrakanku, Gar, ingin ikut juga, maka berdua dengannya aku ke kampus menggunakan motor juniorku. Mendadak aku teringat, minggu lalu memakai motor Lim. Haha, tidak mungkin rasanya motor itu bisa dinaiki dua orang besar seperti saat ini. Dari kontrakan ke kampus tidak jauh, mungkin hanya sepuluh menit. Kepalaku riweuh dengan pikiran mengenai kegiatan yang nanti akan kuhadapi. Dan... eh... tunggu sebentar. Bukankah dia Han, sahabat baik Lim? Mengapa Han duduk disana sendirian?

'Ngapain sendirian aja?'
"Nungguin Lim jogging hehe"

Wah, mau kemana lagi Lim? Ah, masa bodoh. Namun tetap saja aku heran, perempuan itu selalu jogging sendirian. Ah, sudah-sudah. Buat apa aku memikirkan dia?

Sebelum kegiatanku dimulai, aku berdiskusi dulu dengan tetua-tetua organisasi dan beberapa junior yang di kantin kampus. Tidak lama, aku mendengar suara Lim di belakangku. Entah mengapa akhirnya aku menoleh ke belakang. Ternyata benar ada Lim dan Han, hanya terpisah dua bangku dariku. Dan mata kami bertemu. Aku tidak tahu apakah harus menyebutnya sebagai kesialan atau tidak.

Perempuan itu menanyakan sesuatu yang tidak dapat ku dengar, mengingat kantin saat itu cukup ramai. Kebetulan sesi diskusi yang penting sudah berlalu, maka aku pun menghampirinya.
"Udah makan belum, Los?" tanya Lim padaku.
"Belum." jawabku.
"Ini gue dapet makanan dari kantor, tapi tadi gue udah makan. Buat lo aja, enak rendang." ujarnya sambil menyerahkan sekotak nasi.
"Tapi gue masih kenyang." Agak tidak enak, minggu kemarin ia sudah memberiku sekotak bakpia. "Itu ada Gar dibelakang. Nanti gue kasih dia aja."
"Oke."

Lalu seorang teman, Pan, datang menghampiri kami bertiga. Ia berbincang akrab dengan Han. Lim lantas mengajakku bicara, menanyakan bagaimana kabar tugas akhirku. Maklum, saat ini kami berada di tingkat akhir perkuliahan. Sedari minggu lalu pun ia sudah menanyakan kabar tugas akhirku. Tumben sekali, padahal kami tidak pernah sedekat ini. Ia lalu menanyakan hal-hal lain seperti topik diskusiku bersama tetua-tetua tadi, apakah aku akan datang ke acara organisasi lain esok. Aku tidak bisa lama-lama meninggalkan diskusiku bersama tetua-tetua dan beberapa junior tadi hingga akhirnya aku kembali ke diskusi bersama mereka, meninggalkan Lim.

Aku sedikit gugup, namun ini sudah kali kedua aku melaksanakan kegiatan ini. Menguji calon ketua bukanlah hal mudah. Namun syukurlah acaranya terlambat sekitar satu jam sehingga rasa gugupku larut ditelan waktu. Aku duduk di paling pinggir. Sebuah kesialan lagi sepertinya. Mendadak aku melihat Lim, dengan jaket oranyenya yang menyala. Bagaimana aku bisa melewatkannya? Dan, kini Lim duduk di barisan paling depan. Kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Tunggu dulu... memangnya kenapa? Bodo amat, kan, ia mau duduk dimana pun. Lim kemudian pindah lagi ke belakang. Ku lihat sekilas ia berbincang amat serius dengan salah seorang temannya, Ifa. Kebetulan juga sesi uji menguji ini sudah selesai. Aku mendekat dan menguping sejenak apa yang mereka bicarakan. Ah... rupanya mengenai isu politik kampus yang sedang memanas. Tak kusangka perempuan macam Lim mengikuti juga kasus politik di kampus. Aku ingin nimbrung namun sepertinya sulit. Maka aku kembali ke bagian depan bersama manusia-manusia berpikiran kritis yang sedang menyiapkan pertanyaan ujian.

Tak lama dari itu, Lim pulang. Padahal aku berencana ingin berbincang lagi dengannya. Tapi ya sudahlah, masih ada hari esok.

4.9.17

hujan

Hujan. Ingatkah kamu? Dulu itu... sebelum kita dipisahkan oleh rentang dan ruang, selalu hujan dikala kita bersama. Entah mengapa, selalu hujan. Kuyup, dingin, di tengah lebatnya belantara hutan. Hujan. Seakan semesta tidak mengijinkan kita untuk bersama. Dan entah mengapa pula, momen itu selalu terjadi di kala hujan, di tengah hutan.

Jas hujan yang layaknya kantung plastik itu, selalu ribut sekali kedengarannya di telingaku. Meski akan tiba saatnya kita berhenti sejenak menembus belukar dan rimbunnya pepohonan berlumut yang kadang malang melintang di tengah jalan. Kemudian kita bisa menikmati damainya hutan, dikelilingi denting tetesan air hujan. Dan kabut diam-diam menyelinap diantara kekosongan kata. 

Hujan. Ingatkah kamu? Akan semua memori itu... ah... nampaknya tidak. Itu semua dulu. Kini hanya ada tembok dingin yang bersusun-susun hingga tinggi. Di dalamnya, deretan kursi berjajar rapi. Tak ada lagi kabut yang berkejaran bersama angin. Tak ada lagi batang pohon lelumutan yang harus di lompati. Tak ada lagi makhluk melata penghisap darah yang meliuk-liuk di atas sepatu.

Yang tersisa tinggallah langit mendung, yang seakan meredam sekuat tenaga agar air matanya tak tumpah ruah. Langit... tetap saja sama seperti langit yang dulu kita kenal. Selalu meruahkan hujan ketika kita bersama. Dulu, aku pernah bertanya-tanya, apakah semesta tak mengijinkan kita untuk bersama. Sekarang aku tahu apa maksud langit, ketika kulihat dirimu menggenggam erat tangannya, di ruang antara tembok dingin yang bersusun-susun hingga tinggi. Lantas hujan pun bergulir dari mata langit.

Langit yang tersedu sedan. Hujan. Kedamaian rimba hutan. Nada tetes-tetes air yang berdentingan. Merekam segalanya, sekaligus membungkam seluruhnya.

29.8.17

Lost

Aku melangkah turun dari gedung itu tanpa perasaan yang pasti. Ku lihat langit: berawan, mendung. Bisa-bisanya ada hari mendung di tengah musim panas seperti ini. Padahal aku baru saja ingin pasang status: Terlalu indah melewatkan cuaca secerah ini dengan berdiam diri di dalam kelas. Cuaca cerah? Itu kemarin. Di saat aku menyempatkan diri menatap Gunung Salak di kejauhan yang melambaikan tangan padaku. Agak sedih karena perkuliahan ini harus di mulai saat musim panas cerah, dimana seharusnya aku masih bisa jalan-jalan ke tempat lain.

Aku melangkah turun dari gedung itu. Perasaanku tambah kacau balau. Tidak hanya karena mendung. lebih kepada... intuisi akan sesuatu hal yang lain, mungkin.

"Ke kantin, yuk?" ajak Mir padaku. Ah, boleh juga. Melepas penat setelah kelas. Sekalian, aku ingin melihat mahasiswa baru dengan wajah penat mereka akan tugas-tugas orientasi. Namun, mengapa kini aku melangkah kesana dengan perasaan yang semakin amburadul?

Perasaan itu akhirnya bertemu dengan algojonya, kala kulihat Los duduk di salah satu kursi di kantin. Wajah itu, senyum itu. Kaus berkerah warna coklat bata yang dulu sering Los kenakan itu. Tak ada yang berubah dari diri Los. Mendadak muncul lagi seperti tanpa ada beban apapun. Aku kira, aku tak akan lagi pernah bertemu dengannya. Aku kira, Los benar-benar sudah ditelan bumi.

"Aku duluan ke kelas, ya." ujarku pada Mir setelah selesai membeli apa yang ingin kubeli. Aku... entah mengapa tidak ingin Los menyadari keberadaanku. Aku tidak ingin.

Aku melangkah naik ke gedung, ke kelasku selanjutnya dengan perasaan yang tidak pasti. Aku sedikit terkejut ketika bangku kelas itu ternyata berwarna senada dengan baju yang tadi Los kenakan. Ugh aku benar-benar berharap aku tidak sekelas dengannya. Aku segera memilih bangku paling belakang, tahu kalau ini kelas besar, dan nampaknya duduk dibelakang main ponsel seru juga.

Aku terlalu asik main ponsel sepertinya, haha keterlaluan memang, bahkan dari sebelum masuk kelas pun aku sudah tenggelam di dunia lain sendiri. Sehingga akhirnya aku kaget bukan main ketika menyadari bahwa tiba-tiba Los duduk tepat di depanku. Hah, memang seharusnya aku tahu kalau firasat burukku ini benar-benar bisa diandalkan. Astaga, apalagi ini? Satu semester ada satu kelas lagi yang sama?

up date: aku satu kelompok dengan Los di kelas ini. Terima kasih banyak kepada takdir yang sukses membuatku gagal move on.

23.3.17

Lost

Hari ini ujian salah satu matakuliah, yang sepanjang setengah semester ini tidak jelas belajar apa. Namun ketika aku tiba di ruang ujian, semua orang memegang catatan mereka. Dengan bingung, aku menatap mereka.
"Lah lo ngga tau, Lim? Ujian ini, kan, open notes."

Apa yang mau di open kalau sepanjang kuliah saja tidak tahu apa yang perlu di note? Yah, jadi aku tidak punya catatan seperti orang-orang lain. Dan seperti biasa, aku duduk di depan. Bukan karena ambisius, namun duduk di depan itu paling strategis: bisa open yang lain selain notes yang tidak kumiliki itu. 

Lalu tiba-tiba Los datang dan duduk di sebelahku. Aku terkejut bukan main. Jarang kuliah, tahu-tahu ia datang begitu saja saat ujian. Salah kelas pula, aku tahu karena semester ini kami hanya ada satu kelas sama, dan itu bukan kelas ini. Aku ingin bilang bahwa ia salah kelas... tapi, ah, masa bodoh. Lembar jawaban dan soal pun dibagikan. Kulihat Los langsung menuliskan namanya.

Tiba-tiba dosen di depan berkata, "Yak, yang bukan seharusnya disini, cepat pindah ke sebelah".

Lantas ia menoleh padaku,
"Emang ini kelas yang mana?"
'Ini kelas jam satu.' sahutku.
"Gue juga jam satu." jawabnya pede sekali. Aku hanya menatapnya bingung.
'Ini kelas jam satu...' ujarku lagi.
"Ehiya deng gue jam tiga. Kelasnya dimana?"
'Ntu di seberang'.

Memang, terlalu lama tidak kuliah sepertinya, sampai lupa kelas sendiri. Sudah lama aku tidak melihat Los. Sekarang sudah macam legenda saja, tidak pernah kelihatan di kampus, namun namanya masih ada.

'Kemana aja dah lu? Ngga pernah kelihatan' sapaku setelah ujian berakhir. Bisa dibilang sebenarnya aku menghentikannya di tangga. Tapi ah masa bodohlah, aku cuma ingin tahu kabarnya.
"Haha, ngga kemana-mana padahal." jawab Los santai.
'Terus, habis ini lo mau cabut?' tanyaku. Tapi sepertinya aku terlalu canggung:( sedih ih:( sehingga Los tidak paham dan malah bertanya:
"Cabut kemana?"
'Gue nanya, habis ini lo mau balik?' tanyaku, memperjelas pertanyaan canggung yang sebelumnya.
"Iya, udah ngga ada apa-apa gue." jawabnya. Kami lalu saling melambaikan tangan.

Aku masih duduk disamping tangga, sementara ia sudah ngacir turun tangga lebih dulu. Diam-diam aku harap ia tidak lagi sering-sering menghilang seperti ini. Baru setengah semester saja absennya sudah banyak, bagaimana kalau ia nanti tidak bisa ikut ujian akhir? Yah, semoga saja tidak aneh-aneh.

21.2.17

i never stop...

Hari ini, detik ini juga, perasaan itu datang menghampiri, untuk kesekian kali. Setelah mengetahui bahwa kini ia telah memiliki kekasih. Memang, aku tak akan bisa menghadapi ini semua. Saat ini, aku tahu jika semua harapan yang ada hanyalah sebatas khayalku. Cukup sudah, dari awal aku sudah menduga ini pasti akan terjadi. Namun aku tak bisa menutupi perasaan asing ini. Kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan. Terima kasih banyak, pernah menjadi bagian dari kehidupanku, mengisi hari-hariku, dan memberikan pengalaman paling berkesan untukku. Mulai saat ini, aku akan mencoba menjauh dari harapan yang pernah aku impikan, melangkah ke depan dan menjadi lebih baik lagi. 

Tak bisa dipungkiri, setelah kejadian ini, banyak pelajaran yang kudapatkan. Aku mulai sadar jika semua orang kadang suka bercanda, namun malah kutanggapi serius. Satu hal yang terlintas, mungkin saat itu dirinya hanya menjadikanku bahan candaannya. Dirinya takkan pernah tahu jika candaan itu malah membuatku menyukainya, hingga saat ini. Aku selalu berkhayal dapat melihatnya dari jauh, bagaimana kabarnya, apa yang sedang dilakukannya. Sudah masuk setengah windu, dan belum ada yang mampu membuatku berpaling. Hanya ada dia. Walau aku tahu, ini tak mungkin, aku tahu diri. Aku yang seperti ini, tak akan pantas untuk dirinya.

Mungkin aku terlalu banyak menonton drama, sehingga aku terlalu berharap dapat bersama dengannya. Padahal dari awal aku tahu, padahal dalam pikirku aku tahu. Ini semua tidak mungkin, tidak akan mungkin. Ini semua tak bisa, tak akan pernah bisa.

I never stop loving you.
I just stop showing it.

Hanya seorang perempuan yang bodoh dan terlalu naif. 


Jakarta, 5 Juli 2014


*di sadur dari sebuah catatan jaman SMA seorang teman

20.12.16

approximately 28 miles

kadang, aku hanya ingin pergi jauh. berjalan tanpa arah, dengan orang-orang yang bahkan asing sama sekali. biarlah asing. biar aku terasing. tanpa harus terkecamuk memori akan dirimu, akan senyumanmu, akan tatapanmu, akan candaanmu. akan pilihanmu.
aku sudah berkali-kali pergi jauh. berjalan tanpa arah, dengan orang-orang yang bahkan asing sama sekali. biarlah asing. biar aku terasing. biarlah pilihanmu, menjadi pilihanmu. namun ketika aku hilang, dirimu balik mencari. namun ketika aku ada, dirimu kembali meyakinkanku mengenai pilihanmu. ya sudah. tak mengapa. tapi biarlah aku terasing...
ah, memang tak akan ada habisnya dengan segala keanehanmu. ah, memang tak akan ada habisnya dengan segala rasa dalam hatiku untukmu.


24.10.16

see you later.

aku tidak pernah menduga, jika kala itu adalah akhir dari pertemuan kita. setelah beberapa hari yang melelahkan, kita akhirnya harus berpisah. mungkin memang begini semestinya. mungkin memang begini yang terbaik.

aku tidak pernah menduga, jika kala itu adalah terakhir kalinya kita bertemu. mungkin karena itulah mendadak mataku kabur akibat lelehan rasa sedih. tepat setelah dirimu mengucapkan, "sampai ketemu lagi." dan aku langsung memalingkan muka, beranjak pergi. ada rasa yang tajam menusuk sesak dada hingga isak itu tak kuasa ku bendung.

aku tidak pernah menduga, jika kala itu adalah terakhir kalinya kita bertemu. kata-kata terakhirmu sebenarnya membuatku sedikit lega kala itu, "sampai ketemu lagi." kala itu aku percaya, kita akan bertemu lagi.

beberapa minggu lalu aku mengirimkan pesan padamu. dirimu bilang, sedang pergi jauh. entah kapan kembali. namun aku tetap percaya, kita akan bertemu kembali. hingga akhirnya kukirimkan pesan lagi, yang kemudian tak pernah terbalas.

mungkin sebegitu jauhnya dirimu pergi. hingga kata-kata terakhir itu lenyap ditelan jarak. terhapus waktu. tergerus dengan memori-memori baru dari perjalananmu. hingga kata-kata terakhir itu ikut pergi bersama dirimu yang melangkah ke antah berantah.

namun aku masih percaya, kita akan bertemu lagi.



meski tidak begitu kenyataannya.

2.9.16

no, i just want to go...

"can i come too?"
'where?'
"to the beach. i want to see the sunset."
'i don't think it's a good idea. it'll be rainy they said. it'll be better if you stay at home.'
"but i really want to go... it's ok if i can't see the sunset btw." because i just want to see you to be exact.
'i think now is not the perfect time. i'll call you later when the weather is better so we can go. goodbye.'
.
.
.
and i'm here, still waiting for the "perfect time" you've said before. just tell me when. or just the hell tell me that i shouldn't go with you anymore. so i don't have to wait... so i don't have to ask to the time about when you'll call me. just say that i shouldn't go with you anymore...


29.1.16

Lost: did you get enough?

Sejak awal, semua orang membicarakan tingkah laku Nia yang tidak umum. Kalau mereka bilang, kamu terlalu sensitif atau... "baper".

Tidak, oh, tidak. bukannya aku tidak menghargai perasaan Nia. Hanya saja, kata baper dengan konotasi negatif itu memang nampaknya cocok sekali untuk tingkahnya.

Aku tidak mengerti apakah aku yang terlalu keras, terlalu batu. Apakah aku memang tidak memenuhi "persyaratan" menjadi temannya. aku tidak mengerti. dan akhirnya aku masa bodoh. Aku mungkin memang tidak akan pernah mengerti, kriteria seorang "teman" dimatanya.

Dan akhirnya aku masa bodoh.

Blokir saja semua akunku. blokir saja hidupmu dari hidupku.

Aku tidak rugi. Label bahwa aku adalah teman Nia akan hilang. Orang-orang tidak akan mempertanyakan lagi bagaimana aku bisa tahan menghadapi dirinya.

dan akhirnya...

pada Nia...

aku...

masa bodoh.

31.10.15

Lim...? 1571; 6.30 am

Kalut. dan semrawut. Rasa dalam hatiku tidak keru-keruan. Kepalaku terasa berputar-putar.
Padahal tak ada yang salah disini.
kenyataannya, kita tidak duduk berdampingan, tidak sama dengan apa yang aku bayangkan akan terjadi. kita duduk saling membelakangi. melewati waktu dini hari menuju pagi. biasa saja. tak ada apa-apa. bagimu. bagiku?

malam ini tidak seberisik ketika aku memikirkanmu, dan tidak bisa tidur karena kedinginan. ditemani suara gemericik air, derak kayu, dan gumaman orang-orang dari balik dinding. tidak, malam ini sunyi. bahkan angin malam yang biasanya menghampiri dedaunan pun tak kunjung datang. hanya saja malam ini lebih dingin.

hanya ada satu suara. nada dari petikan dawai gitarmu. greensleeves. aku tahu lagu itu.

malam ini cukup cerah. hanya ada sedikit awan tipis. dan bulan merangkak naik berjumpa zenith.

Kalau dipikir-pikir, konyol juga. ini waktu-waktu kritis untuk istirahat. masih panjang hari esok untuk dihidupi. dan bukannya istirahat, kita berdua malah duduk disana. membisu. antara memberi jarak atau sebenarnya menahan hal-hal yang seharusnya diperbincangkan karena bukan tempatnya.



namun sebenarnya aku bertanya-tanya apakah dirimu mungkin saja muak harus melihatku setiap hari. karena aku sejujurnya muak bertemu denganmu. muak akan segalanya tentang dirimu. muak akan rasa yang selalu muncul ketika melihatmu.

aku tidak ingin kita saling berbalas pesan singkat meskipun isinya tidak penting sekalipun, aku tidak ingin kita saling mengandalkan satu sama lain, aku tidak ingin dirimu datang dengan segala bala bantuan ketika aku sedang membutuhkanmu, aku tidak ingin melihatmu dengan senyumanmu ketika kita bertemu, aku tidak ingin. aku tidak ingin lagi.



dan ketika akhirnya sampai di ujung pertemuan, percakapan yang tak terduga-duga terjadi.
S: bangun, udah pagi.
L: nggak. masih ngantuk.
S: ayo pulang.
L: duluan aja.
S: bareng aja, gue anterin. nanti lo bisa tidur di jok belakang.

apa...?

L: nggak. gue jalan sendiri aja.

aku tidak peduli dengan sikap dinginku. aku tidak peduli dikira bodoh karena telah membuat "ruang" diantara kita. aku hanya tidak ingin diriku terlalu larut dalam kedekatan tiada akhir ini.

tak ada poinnya kita begini. Aku tahu posisiku, kamu tahu statusmu. Entah apa yang aku perdebatkan lagi dalam nuraniku meski logikaku berkata tidak.

semesta bagai hilang, runtuh berjatuhan, di suatu pagi dimana matahari baru melongok dari horizon. yang ada hanyalah punggung berjaket hijau yang menggemblok tas berwarna biru... yang perlahan menjauh. namun aku tidak yakin.



ini pasti hanya sementara.
sama seperti sebelum-sebelumnya.

23.8.15

Lost


Semua orang menyapamu ketika akhirnya kau datang berjalan kaki dari kejauhan. Bajumu, jaketmu, tas yang kau bawa, sandal jepit (yang entah sandal jepit apa bisa eksis di dunia padahal berat sekali), bahkan dirimu sendiri... tak terlihat adanya perubahan. Hanya saja rambutmu lebih rapi ketimbang ketika terakhir kali aku melihatmu. 

Lagi-lagi, senyuman yang itu-itu lagi, merekah sempurna di wajahmu menerima sambutan hangat semua orang. Dan seperti biasa, dirimu tidak merasa aneh ketika aku tetap sedingin biasanya. Tidak ikut menyambutmu sambil menjerit histeris "Aku rindu padamu!" seperti yang lain lakukan. Aku hanya memperhatikanmu selagi melanjutkan makan. Makanan yang kumakan terasa begitu manis, sedikit menghilangkan kepahitan yang muncul seiring dengan hadirnya dirimu. 

Namun pada akhirnya aku menemukan banyak kejanggalan. Aku sering mendapati dirimu menatap tajam diriku. Saat aku sedang melihat hamparan hijau rerumputan atau saat aku sedang menikmati dinginnya malam itu. Ketika akhirnya kita berbincang, ada yang aneh dalam tatapanmu. Dan aku tahu, aku tidak sebaiknya mengartikan tatapanmu itu berdasarkan kesimpulanku sendiri. Hingga pada akhirnya kita harus berpisah kembali. 

Tak biasanya. Dirimu menghampiri diriku dan menjabat tanganku dengan tanganmu yang hangat. Dengan matahari setengah condong ke arah barat tepat berada di belakangmu. Saat itu aku merasakan adanya keberatan dalam hatimu. Tapi, ah, mana mungkin. Banyak juga yang mati-matian berusaha mendekatimu, bahkan lebih baik dari diriku. Mana mungkin. Saat itu dirimu bertanya, 

"Beneran ngga mau bareng gue?"

Ngga. Nanti gue telat.
"..."
...
"Yaudah hati-hati."
Oke.

Hanya 'Oke.' padahal tidak oke sama sekali. Betapa aku sedih tak bisa bersama dirimu. Namun, yah, lagi-lagi. Memang siapa aku? Aku berhak atas apa akan dirimu? Meskipun berharap itu tidak dibatasi, lebih baik buat sendiri batas akan berharap. Dan aku tahu, memang tidak sebaiknya aku mengartikan tindakanmu berdasarkan kesimpulanku sendiri.



14.8.15

Lim...?

Hujan. Selalu hujan dikala dirimu memintaku untuk bertemu. Entah mengapa, selalu hujan. Dan entah mengapa pula, selalu aku yang kehujanan. Sementara dirimu sudah tiba di tujuan dan menunggu diriku datang.

Basah kuyup, kedinginan. Jaketku pasti selalu basah. Oh, dan aku tak pernah mengerti mengapa kamu tak pernah meminjamiku jaketmu. Baru hari ini saja, itu juga cuma sebentar. Untung saja senyumanmu begitu hangat sehingga aku selalu lupa akan rasa kedinginanku.

Ah sudahlah, lupakan masalah hujan dan jaket itu.

Aku selalu ada jika kamu butuh pertolongan. Demikian pula, kamu juga selalu ada jika aku butuh sesuatu. Namun aku selalu mengikuti jadwalmu, 'aku harus pergi setelah jam 3', 'aku ada urusan sebelum jam 5'. Sebaliknya dengan dirimu. Kamu pasti mengeluh bila aku harus pergi lebih awal. Apalagi jika aku sudah menyebutkan kata kunci itu, "pulang".

"Aku harus pulang sekarang."
'Jangan pulang sekarang.'
"Mengapa?"
'Jangan.'
"Tapi aku benar-benar harus pulang."
Di ambilnya tas kecil dari genggamanku. 'Kalau begitu tak kuberikan tasmu supaya kamu tidak bisa pulang.'
"Ah, tasnya cuma kamu pegang. Kalau aku ambil juga bisa."
'Memangnya kenapa, sih? Mengapa kamu sering meminta pulang ketika aku membutuhkan dirimu?'

Aku bingung. Entahlah. Dulu aku yang selalu mengambil tasmu. Dulu aku yang selalu menanyakan itu padamu. Kamu juga pada akhirnya menanyakan itu juga. Harus kujawab apa? Jujur? Atau kututupi saja? Tapi aku sudah tak ingin menutupi ini semua.

"Kalau kamu jadi rumahku, mungkin aku tak akan pergi lagi." Matamu yang berwarna coklat tua menatap mataku.
"Ah, tapi kamu, kan, sudah menjadi rumah untuk yang lain."

Kemudian aku menyambar tasku dari tanganmu, dan beranjak pulang ke rumah. Meninggalkan dirimu dengan pertanyaan-pertanyaan yang kini hanya bisa dijawab oleh kekosongan.

Sial, aku memang hanya berani mengatakan itu pada diriku sendiri.


23.7.15

Log-Lim: f san

kemana dia. setahun tak berjumpa dengannya rupanya mampu membangunkan rasa rindu dalam dada. namun, kemana dia. tak ada kabar sama sekali. dikirimi pesan singkat tak dibalas. kutanya pada teman dekatnya, yang kebetulan juga teman dekatku.

kemana dia? tak ada kabar sama sekali.
'kemarin dia akhirnya membalas pesan singkatku.'
apa katanya?
'dia tidak akan datang.' sudah aku duga. seperti biasanya. harusnya rasa kecewa ini bisa ditekan.
mengapa?
'ia sedang di luar kota.'

di luar kota rupanya. tunggu dulu, di luar kota? rasanya bukan. ini persis seperti tahun lalu, atau tahun lalunya lagi. tidak. ia tak berada di luar kota. ia lebih jauh daripada itu.

kemana dia. sebetulnya tak perlu dipertanyakan. ia jauh. sudah aku duga. seperti biasanya.


2.5.15

tak ingin lebih banyak argumen. tak ingin ada kata-kata kasar terucap dari dasar hati yang paling dalam meski memang kenyataannya seperti itu. apalagi perilaku kasar akibat amarah yang menyelimuti. aku mungkin jahat tak mengakuinya. aku mungkin bejat karena telah bermuka dua. mengiyakan segala hal dari ucapanmu tapi hatiku membencimu seutuhnya, sepenuhnya. sampai gemetar tubuhku jika mengingat seberapa bencinya diriku padamu. tapi aku tak ingin kau melihatku begitu. aku hanya ingin diam. dan pada akhirnya dirimu bisa melihatku berjalan menjauh, meninggalkanmu. meninggalkan dirimu beserta rasa benciku yang berkobar-kobar seutuhnya, sepenuhnya.

11.2.15

Log-Lim: Dam

Malam itu angin mengalun membawa sisa-sisa penat yang ada di kepala. Rasa dinginnya terhalang oleh lapisan parasut jaket yang lekat pada kulit. Namun alunan angin tidak hanya membawa dingin. Bertubi-tubi potongan lagu itu datang, terselip diantara banyaknya memori dalam pikiran. Memicu sekelebat gambaran sebuah wajah. Wajah yang sudah lama tak kujumpai, wajah yang tak sekadar punya kenangan. Berada di mana-mana dalam bentuk yang berbeda.

"masuklah ke pelukanku
  bersama kita mengarungi gelombang
  gelombang menjadi langkahmu
  langkahmu menjelma wajahmu
  wajahmu menyatu dalam sukma kita
  sukma menyinari hidup
  hidup ini indah"

Apa kabarnya Log sekarang? Ia sudah tidak pernah lagi muncul di chat perkumpulan jaman sekolah dulu, pun tidak pernah hadir di acara reuni. Bagai hilang saja ditelan bumi. Bahkan tidak membalas personal chat dari Bin yang notabene adalah teman dekatnya. Log tidak lolos di jurusan pilihannya yang sama dengan Tan. Dengar-dengar Log akhirnya mencoba peruntungan menjadi veteriner dan sudah damai disana. Log pasti sudah lupa akan kenangan konyol tahun lalu.

Ah, ya. Aku tiba-tiba teringat Log karena salah satu teman kampusku... namanya Dam, mirip sekali kelakuannya dengan Log. Agak sedikit freak, namun sangat open-minded. Sama-sama jago main alat musik. Sama-sama suka hal-hal yang berbau biologi juga, namun tidak semaniak Log memang.

Ya, Dam lumayan terkenal dengan "keanehannya" itu. Aku jarang sekali berada di jurusanku sendiri, mungkin hampir tidak pernah. Aku malas bertemu senior, jadi aku sering main ke fakultas lain. Tiap kali dapat kenalan baru dan mereka tahu jurusanku, pasti Dam yang ditanya:
"Wah, berarti kamu kenal sama Dam, ya, Lim?"
'Oh, aku belum bertemu dengan Dam, memangnya kenapa?'
"Anaknya freak abis, lo pasti terkesima deh karena saking anehnya."
Aku lupa, tapi sepertinya ada dua atau tiga orang yang mengatakan hal itu padaku. Mungkin aku pernah bertemu dengan Dam, tapi tidak ngeh.

Aku ingat kesan pertama bertemu dengan Dam, setelah hanya mendengar dari omongan orang-orang: Oh, jadi ini orangnya. Lantas tidak heran sama sekali. Kali pertama aku tahu mana yang namanya Dam... ia sedang memanjat pohon yang ada di lapangan kampus. Lantas guling-guling di rumput. Dia yang begitu kok aku yang malu:( Tapi setelah itu ia bisa jadi sangat serius ketika mendiskusikan sesuatu yang penting. Kalau tidak salah, setelah adegan panjat pohon itu kami mengobrol tentang lonte.

Namun, ya. Seperti yang sudah kukatakan. Aku jarang berada di jurusanku sendiri. Aku hanya beberapa kali saja bertemu dengan Dam. Aku tidak akan menjatuhkan diriku ke dalam hal-hal konyol lagi.

Malam semakin malam. Angin semakin dingin. Minumanku di meja kantin itu kini sudah habis. Temanku sudah mengajakku pulang. Aku harap... aku hanya berharap agar aku tidak konyol.