"LIM!!" teriak sebuah suara yang menyambut. Aku tahu benar suara siapa itu. Log dengan "rambut landak"-nya yang makin gondrong.
"Apa, Log?" tanyaku sedemikian hangat. Rupanya waktu sepekan tiada memudarkan rasa itu. Rasa yang kemudian bagai melimpah ke segala arah saat menatap lagi wajah itu.
"Keren," jawabnya singkat sambil melepas dasinya dan mengikatkannya pada kepalanya, persis seperti yang kulakukan. Tak sengaja sehabis mengerjakan tugas video tari, properti seadanya yang berupa dasi belum kulepas dari dahi.
"Rambut lo makin gondrong aja, Log" ujarku basa-basi. Rasa yang sudah kutepis mati-matian di belahan waktu yang berbeda dengannya rupanya pulang lagi. Tak peduli seberapa aku tidak menginginkannya.
"Yah, gue sendiri juga sebenernya udah mau potong rambut........" dan akhirnya kita mengobrol singkat sebelum tugas yang kutinggal menjerit minta dikerjakan.
Tan kemudian tiba-tiba menghampiriku dan berkata bahwa ia ingin mengemukakan sesuatu. Tapi sebelumnya aku sempat mencuri dengar percakapannya dengan temannya...
"Gue mengartikan suka itu sebagai perasaan terhadap teman, Tan"
"Nggak mungkin, pasti ada paling nggak 0,1-nya yang lebih dari sekedar teman,"
Seketika perutku rasanya saling belit-membelit tak karuan. Terlebih lagi ketika Tan berkata, "Gue harus ngomong ini sama lo, tapi gue nggak enak... Lo udah move on?" What???
Setelah itu, sebisa mungkin aku memaksa Tan untuk tidak membicarakan apapun itu yang ingin dilontarkannya. Karena apapun itu sepertinya adalah kalimat yang kutunggu, tapi sekaligus kalimat yang tidak ingin aku dengar...
No comments:
Post a Comment