Mereka menangis, menjerit, memekik tanpa ampun. Suaranya tinggi dan keras, nyaring menggetarkan udara, merambat sampai telinga. Siapapun dalam radius 10 meter akan mendengarnya.
Mereka masih menangis, menjerit, memekik tanpa ampun. Tanpa mau tahu bahwa di sekelilingnya, siapapun jadi gila karena pekik tinggi itu.
Tapi, seberapa kerasnya mereka menjerit, menangis, atau memekik... tidak satu pun makhluk di sekelilingnya mengindahkan mereka. Hingga akhirnya, satu dari mereka berubah jadi dingin, kaku, bibir dan mata terkatup rapat-rapat. Dan mereka akhirnya tinggal bertiga.
Sisanya, tetap menjerit, memekik, dan menangis. Meski tinggal bertiga, belum juga ada yang memperhatikan mereka. Sampai suatu ketika, lagi-lagi satu dari mereka menjadi dingin, kaku, bibir dan mata terkatup rapat-rapat. Dan mereka akhirnya tinggal berdua.
Makhluk di sekitar mereka akhirnya mulai memperhatikan mereka... sayangnya dengan cara yang salah. Sampai akhirnya suatu malam, mereka berhenti menangis, menjerit, dan memekik. Mengundang rasa ingin tahu makhluk itu. Dan makhluk itu mendapati mereka berdua masih bernapas.
Namun tubuhnya dingin, terdengar suara erangan tertahan, dan tubuhnya berubah biru.
Saat itulah sang makhluk akhirnya berdoa. Mendoakan mereka berdua. Dan minta agar dirinya sendiri diampuni. Karena mendadak ia merasa seperti layaknya seorang pembunuh.
No comments:
Post a Comment