20.6.13

Locked

Tetap disana, terluangkan walau sebentar, waktu di malam-malam sebelum saya tertidur. Memikirkanmu sambil menatap nyalang langit-langit kamar. Fokus tak fokus memperhatikan kayu-kayu berwarna merah muda yang menyangga atap.

Memangnya kamu siapa? Orangtua bukan. Saudara bukan. Teman bukan. Lantas untuk apa waktu-waktu tersebut?

Saya akui kamu memang manusia yang hampir sempurna buat saya.

Hanya saja sayang. Kamu tak pernah punya hati untuk saya. Seberapa keras saya mencoba tidak akan pernah berarti apa-apa dalam hidupmu.

Saya pikir kita satu pikiran. Tidak. Kita berbeda dalam segala hal.

Namun pernahkah terlintas dibenakmu? Apa yang terjadi bila dua kerta berada dalam satu jalur yang sama? Mereka akan hancur walaupun tujuan mereka sama.

Mungkin memang bukan seharusnya kita saling menjadi.

Tapi semua kesempatan yang kamu berikan pada saya untuk sedikit jauh mengenal dirimu sudah sangat berharga. Senyum, cerita, opini, keluh kesah, "tamparan" untuk saya, ide gila... 

Mungkin akan sulit untuk melupakannya, tapi patut dicoba.

.......

Mungkin ini salah saya juga yang mudah terpengaruh dunia saya sendiri. Kamu mungkin menatap saya dalam jalan yang berbeda. Sehingga kemunculanmu selalu mendadak dan begitu cepat pula menghilang.

Membuat saya bingung, linglung.

Bahkan latihan fisik selama berjam-jam tak mampu menghapus bayangan-bayanganmu dari sana. Dan ketika malam menjelang, bukannya segera tidur, saya malah memikirkanmu.

.......

Tentu saya berbagi cerita. Saya juga makhluk yang butuh mengeluarkan isi kepala.

Dan hanya dua kalimat yang sampai saat ini menghantui.

"Apakah sebenarnya Anda tahu kalau memang dia seperti itu?"
"Lebih baik Anda tidak berharap. Itu kunci."

No comments:

Post a Comment