Rupanya, tak selamanya i menghilang dari peredaran. Itupun hanya muncul untuk menikam a. Sayangnya, pemilik luka tikaman tidak merasakan apapun. Sehingga ketika kenyataan telah menari di depan matanya sekalipun, a tidak mengindahkannya.
Dan meskipun luka-luka itu sudah berbicara lantang, a hanya bisa tersenyum melihat i melangkah pergi. Mungkin dulu i sering mengajaknya pergi, namun kondisi kini telah berbeda, i mengajak u. Berjalan beriringan sambil bernyanyi riang dan senyum merekah di wajah. Tak ada lagi a.
"Bila kamu suka bermain alat musik itu, lantas mengapa kamu keluar dari les?" u bertanya suatu hari.
"Aku tidak tahu.... Aku lebih suka memainkannya disini denganmu." ya, itu jawaban i.
Diseberang, tak jauh dari sana, a memperhatikan. Tetap tidak merasakan rasa sakit luka barunya.
Kadang, kecepatan rotasi Bumi bisa menjungkirbalikkan otak seorang manusia yang terluka. Kadang, orang yang terluka suka menyalahkan hal-hal tak umum demi meyakinkan dirinya sendiri, meski ia tahu, ia yang salah.
Pict source.
Pict source.

No comments:
Post a Comment