12.9.13

ada dia di dalam

saya datang kesana. tempat... saya tidak tahu harus menyebut tempat itu dengan sebutan apa.

tanah terhampar luas. ada jalan setapak di tengah tanah itu. dan tanah itu berjejerkan batu-batu yang disesaki nama dan tanggal. penuh.

di atas jalan setapak, saya melihat sekelompok orang memainkan musik. bajunya hitam-hitam. saya sering melihat mereka semua dengan kegiatan yang sama. namun sepertinya tempat ini kurang cocok, bukan begitu? tapi saya menepis pikiran itu. bisa jadi mereka disewa oleh seseorang dalam suatu upacara.

entah mengapa, yang ada di kepala saya adalah mengunjungi ibu saya. namun saya tahu bahwa ibu saya belum bertemu dengan ajalnya. hal itu di perkuat dengan munculnya ibu saya ketika saya hendak masuk ke dalam tempat itu.

ibu saya muncul dengan baju terusan warna putih yang dirajut sedemikian rupa. seperti biasa rambutnya awut-awutan dan hanya ditahan dengan bandana kain.

tak saya sangka, ia memberikan saya buku (saya lupa buku apa itu), dan sebuah alat musik yang selalu saya inginkan. ia memberikannya begitu saja. alat musik itu besar rupanya, namun tidak seberat yang saya bayangkan. saya tidak peduli apa warna kayunya atau bagaimana suara nanti. saya hanya sangat senang.

kemudian ibu saya mendorong saya untuk masuk ke dalam tempat bertanah itu. mungkin untuk mengunjungi yang lain. mungkin untuk menyuruh saya bergabung dengan kelompok orang tadi. entahlah, saya terlalu bahagia saat itu, dan terlalu bingung.

.
..
...

Lalu saya tersadar, itu semua hanya mimpi belaka. Walaupun itu hanya mimpi, saya tetap senang. Namun itu hanya mimpi, saya sadar. Mungkin di mimpi itu, Ibu saya menyuruh saya masuk ke dalam tempat itu bukan untuk bergabung dengan kelompok orang tadi maupun mengunjungi yang lain.

Mungkin di mimpi itu, Ibu saya menyuruh saya masuk ke dalam tempat itu untuk menggali dan mengubur mimpi saya dalam-dalam.

No comments:

Post a Comment