27.4.24

sundreesoro

Biasanya, sore-sore sehabis pulang kerja dari Bogor ke Jakarta dengan keadaan kereta kosong melompong, tidak akan kuat godaan untuk segera memejamkan mata. Tidur. Apalagi badan sedang awut-awutan, radang tenggorokan dan lelah bekerja. Teman satu tim yang tinggalnya di Bogor saja juga hampir tumbang, jadi tidak heran kalau aku tumbang duluan. Kami masih berusahan beradaptasi dengan ritme pekerjaan dan transportasi.

Tapi sore ini berbeda. Aku lelah, tapi tidak ingin tidur. Kepalaku penuh dengan pikiran-pikiran yang kesana kemari. Hatiku sesak dengan perasaan-perasaan yang tidak tenang. Tak hentinya mereka berdua bertanya: Mengapa?

Lalu si akal sehat balik bertanya: Mengapa mempertanyakan?
Aku tahu semuanya sudah jelas. Aku tahu semua tandanya sudah diberikan. Tapi mengapa? Mengapa aku masih mempertanyakan?

Batuk. Tenggorokan gatal. Kepala senat-senut. Pemandangan luar kereta yang silih berganti. Matahari terbenam. Awan kelabu yang bergumul-gumul. Wajah manusia-manusia penglaju yang berbagai rupa. Tak mampu mengalihkan pikiran dan perasaan itu.

Kecewa.

"Tidak apa-apa kalau merasa kecewa atau marah, yang terpenting maafkan dulu dirimu sendiri," begitu ucap seseorang. Boleh jadi memang aku yang mengecewakan diriku sendiri, berharap pada yang tak pasti. Kecewa sendiri ketika semua meleset dari prediksi. Dan lagi, bukankah semua kemungkinan bisa saja terjadi? Mengapa aku malah tak kuasa mengantisipasi?

Aku berharap pikiran dan perasaan ini bisa segera kembali reda. Aku berharap akal sehatku tetap senantiasa "sehat" sehingga aku dapat berpikir jernih meskipun sedang berkubang dalam pikiran dan perasaan yang keruh.



No comments:

Post a Comment