Aku berjalan kaki ke restoran hotel, setelah salah satu rekan kerjaku memberi kabar kalau mereka meminta makan malam diantar ke kamar mereka masing-masing. Ini pertama kalinya aku aku ikut perjalanan dinas untuk hal pekerjaan, jadi aku sama sekali tidak ada clue harus seperti apa. Apalagi di hari pertama kedatangan ini, waktu kosongnya sangat banyak dan aku tidak dijelaskan harus berbuat apa. Bingung harus apa dan bosan menjadi satu, akhirnya aku memutuskan untuk makan malam ke restoran dari pada minta makanan diantar ke kamar.
Restorannya persis dipinggir laut, di teluk paling dalam di pulau itu. Tidak seperti siang tadi dimana angin bertiup dengan brutalnya, malam ini hampir tidak ada angin sama sekali. Hanya ada beberapa meja saja yang terisi di restoran itu. Aku segera memesan makanan, tidak ingin terlalu malam karena aku juga ingin cepat beristirahat. Rupanya rasa bingung dan bosan itu benar-benar menguras energi. Baru saja makananku tiba, tiba-tiba ponselku bergetar.
Beliau menanyakan aku dimana. Aku jawab seadanya, kalau aku sedang di restoran. Jadi beliau juga tahu bahwa aku masih makan malam dulu dan tidak bisa langsung bekerja atau menyediakan data, apabila tiba-tiba ia meminta. Aku cukup terkejut dengan responnya: Ya sudah, tunggu saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7:15 malam saat itu, aku hanya berharap agar nanti beliau cepat selesai dengan makanannya, karena aku mau cepat istirahat. Akhirnya aku makan saja duluan, mengingat aku juga memesan minuman manis.
Beliau tiba sekitar 15 menit kemudian. Hanya mengenakan kaos dan celana pendek, aku merasa asing. Rasanya seperti melihat teman sekolah saat tidak menggunakan seragam sekolah. Beliau duduk dikursi didepanku dan berkata, "Bosen banget di kamar mulu". Aku hanya menanggapinya sekilas. Padahal itu juga yang aku rasakan, makanya aku kemari. Aku menyodorkan buku menu agar beliau bisa segera memesan makanan, but to my surprise beliau bilang bahwa beliau sudah makan malam di kamar. Aku bingung, lantas mengapa beliau kemari?
Aku mengambil kesimpulan kalau ternyata beliau hanya mau teman mengobrol saja. Melihatnya meletakkan dua bungkus rokok diatas meja, aku menyemangati diriku sendiri karena tahu malam itu akan panjang. Malam itu kami mengobrol tentang banyak hal, tapi memang kebanyakan hanya tentang pekerjaan. Mulai dari hal-hal pekerjaan seperti inventarisasi hutan, inventarisasi sosekbud, tipe-tipe ekosistem, analisis deliniasi ekosistem, aksi nyata pemulihan ekosistem, dll sampai hal-hal diluar pekerjaan: sejarah pemetaan di Indonesia, belajar otodidak, film John Wick, naik gunung, kebiasaan di waktu kosong, temannya yang ternyata temanku juga, sampai pengalamannya dua tahun hidup di hutan Kalimantan.
Ada satu waktu dimana kami membicarakan tentang kebijakan dan penindakan kegiatan ilegal di kawasan konservasi. Menurut beliau, seharusnya data yang aku kerjakan bisa digunakan untuk menindak kegiatan ilegal tersebut. Namun jarang ada yang mau melakukan aksi nyata semacam itu. Beliau merasa geregetan karena inventarisasi hanya bisa sampai pendataan saja, tidak bisa sampai aksi seperti pekerjaannya dulu. Mungkin itu dia alasannya mengapa ia diposisikan di inventarisasi, agar inventarisasi ini ada ide harus berbuat apa, pikirku saat itu.
N: Ă–rang-orang, kan, pengennya on desk aja. Ngga mau ke lapangan, jarang banget yang mau ke lapangan. Ya mereka bersembunyi aja dibalik meja dan data.
G: Ya, iyalah, Pak. Mekanisme bertahan.
N: Iya, itu sudah by default, ya. Sudah tertanam di kepala manusia kalau maunya yang aman-aman aja. Ada itu teorinya yang bahas tentang itu, mekanisme bertahan Sigmund Freud. Tahu, kan?
Se-random itu tiba-tiba membahas teori mekanisme bertahan Sigmund Freud. Obrolan dilanjutkan lagi membahas hal-hal random lainnya. Sampai tiba ketika aku hendak menyanggah pendapatnya. Entah sedang membicarakan apa saat itu.
G: Nggak, Pak. Tapi kalau menurut saya...
N: No, saya rasa kamu sedang denial.
G: ...
N: Karena kalimat sebelum "tapi" itu denial, dan kalimat setelah "tapi" hanya bullshit.
Aku lalu bertanya-tanya dalam hati, apakah ini beliau saja yang gaslighting karena tidak ingin terlihat salah, atau aku yang sedang dalam mekanisme bertahan sampai beliau bilang aku denial? Atau dua-duanya? Entahlah. Ada perasaan-perasaan tidak nyaman yang timbul, namun cepat-cepat kutepis karena aku tidak ingin hal itu berpengaruh pada pekerjaanku.
Tepat ketika obrolan sudah semakin entah kemana dan malam juga semakin larut, rokok dua bungkus itu akhirnya habis juga. Beliau sempat bertanya apakah di restoran ini ada yang menjual rokok, namun syukurnya tidak ada. Aku menemani beliau ke warung untuk membeli stok rokok untuk besok. Beliau menawari aku untuk membeli sesuatu di warung tersebut, namun aku tidak ingin apa-apa lagi. Setelah itu kami kembali ke kamar masing-masing. Akhirnya malam yang aneh itupun usai juga.

No comments:
Post a Comment