Toxic.
Itulah kata pertama yang muncul di kepalaku saat membaca post-post lama dari media sosialku. Malu sendiri. Tak habis-habis aku bertanya: "Kok dulu gue setoksik ini, ya? Kok bisa, ya, gue malu-maluin kaya gini?" Bahkan sampai kuliah pun, ternyata aku toksik untuk orang-orang disekelilingku, setidaknya itu kesan yang kudapatkan sekarang ketika membaca ulang semua jejak digitalku sendiri. Saking malunya, kuhapus semua yang memang memalukan. Ada beberapa yang masih tersisa karena aku masih belum kuat membacanya, saking cringe, pickme, dan sememalukan itu. Betapa sabarnya teman-temanku yang masih mau menjadi temanku saat itu, yang masih kuat menghadapi drama yang kubuat saat itu. Maaf, ya, teman-temanku. Terima kasih banyak sudah sangat bersabar denganku.
Astaga betapa memalukannya. Betapa aku menyakiti teman-temanku, berpikir bahwa saat itu aku yang paling benar. Astaga. Memang masa muda itu masa-masa banyak salah..... tapi, ya, ngga gini juga wei:')
Aku hanya bisa menghela nafas panjang, seperti bertemu dengan ABG yang benar-benar labil. Aku jadikan hal-hal memalukan yang kutemukan itu sebagai pembelajaran, agar aku tidak seperti itu lagi ke depannya. Ternyata, kebanyakan drama yang muncul justru karena diriku sendiri, karena aku tidak tahan emosi. Semua kulepaskan saja tanpa memperhatikan perasaan orang lain, tanpa melihat dari sudut pandang yang lain. Kepalaku penuh dengan pembenaran terhadap diri sendiri. Egois.
Memang itu yang kubutuhkan, menahan emosi dan menahan diri agar tidak terlalu banyak oversharing. Kadang informasi mengenai diri sendiri yang diceritakan terlalu rinci kepada orang lain, justru bisa jadi bumerang atau pemicu masalah yang sebenarnya tidak berarti. Cukup kembali ke setelan mendengar dan mengamati saja. Rasanya pasti akan sedikit melelahkan, tapi tidak apa-apa jika rasa lelah itu bisa mengantisipasi hal-hal bodoh yang akan aku sesali lagi dimasa mendatang.
Sejujurnya aku sedikit bangga pada diriku sendiri, setelah berkaca pada masa laluku yang sangat memalukan itu. Ternyata aku sekarang lebih baik. Mungkin memang belum terlalu baik, ada kalanya juga aku merasa tidak kuat dan sedikit melontarkan kata-kata, namun setidaknya aku sudah bisa mengontrol untuk tidak terlalu berapi-api. Atau bahkan aku malah tidak berkata-kata sama sekali, mengiyakan saja semuanya daripada aku menyakiti hati yang lain.
Menjadi dewasa tidak mudah. Memahami diri sendiri dan orang lain tidak mudah. Menjaga hubungan baik tidak mudah. Apalagi semakin kesini, temanku juga semakin sedikit. Orang baru memang berdatangan, tapi yang tetap tinggal bisa dihitung dengan jari. Aku tidak mau menyakiti mereka. Semoga aku selalu terus mau belajar untuk membuka mata dan pikiran, baik untuk orang lain maupun diriku sendiri.
No comments:
Post a Comment