"Why the long face?"
Manusia cenderung menginginkan hal-hal yang tidak bisa mereka miliki, yang tidak mampu mereka gapai. Seperti delusional. Seperti tidak sadar, dimana kaki mereka berpijak. Mendongak jauh ke atas, cukup untuk membuat leher mereka patah. Patah. Kadang hal-hal yang mereka inginkan itu, bisa jadi semangat motivasi. Tak jarang juga membuat patah hati yang terlalu berharap. Lalu lagi-lagi kecewa. Kecewa karena realita tidak bisa memenuhi ekspektasi.
Atau apakah yang aku rasakan ini hanyalah bentuk kelelahan berkepanjangan: mencari apa yang tak kunjung menemukan temu. Malah berujung pecah yang lain. Mereka bilang, tiap masa ada orangnya, tiap orang ada masanya. Aku tahu aku sanggup, namun semua butuh waktu. Semua butuh proses, tak terkecuali untuk sesuatu hal yang sudah berlangsung sangat lama.
Memang, pada akhirnya aku harus berdiri sendiri, dengan kedua kakiku sendiri. Pada akhirnya, aku hanya punya diriku sendiri. Kadang pikiranku berhamburan kian kemari, tatkala kakiku melangkah diatas jalanan desa sialan yang masih berbatu. Dan ketika kulihat kedua kakiku melangkah, aku kembali tersadar: aku hanya punya diriku sendiri.
No comments:
Post a Comment