---sakit
aku bercerita pada sahabat baikku, kalau aku mau "menjodohkanmu" dengan perempuan itu. sahabat baikku hanya bertanya balik, "kamu mau menabur garam ke luka? sakit banget, lho."
sakit? entahlah, rasanya malah... kosong. aku akhirnya berhasil mengajak perempuan itu untuk bertemu denganku. lantas aku mengajak dirimu juga. aku yakin betul, kalau saja malam itu tak kusebut nama perempuan itu, kamu pasti tidak akan mau ikut pergi. melihatmu sangat bersemangat ketika aku menyebut nama perempuan itu... aku jadi semakin sadar bahwa aku benar-benar tidak pernah ada dalam daftar pilihanmu. pikiranku kembali melayang ke masa lalu ketika aku mengajakmu pergi dan kamu membatalkan sepihak beberapa jam sebelumnya.
dan kini, kamu bilang kamu ada acara kantor di hari yang sama aku akan bertemu dengan perempuan itu. namun kamu dengan mudahnya merelakan acara kantor itu. semua jelas terbaca.
aku belum memberitahu perempuan itu kalau kamu akan ikut juga, biar saja jadi kejutan untuknya ditengah-tengah pekerjaan dan masalah keluarganya yang agak rungsing.
---tawakkul
mereka bilang, "apa yang ditakdirkan menjadi milikmu, maka selamanya akan menjadi milikmu". maka aku juga mempercayai kebalikannya, apa yang ditakdirkan menjadi bukan milikku, maka mau kukejar sampai ke ujung dunia pun, tidak akan menjadi milikku. jadi sekarang tugasku sebagai manusia tinggal bertawakkal saja, berserah diri kepada tuhan. aku tidak semata-mata berserah diri begitu saja, aku sudah berusaha dan sudah berdoa juga. namun jika kamu memang bukan untukku, maka aku akan ikhlas menerima takdir tuhan ini.
mereka juga bilang, "bentuk tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan". Ikhlas dengan segala bentuknya. Ikhlas terhadap bentuk, ikhlas terhadap sikap, ikhlas terhadap keputusan yang dibuatnya, ikhlas melihatnya bahagia dengan yang lain. Ikhlas disini bisa bermakna banyak, bisa merelakan, bisa pengorbanan, macam-macam. Tapi intinya adalah menerima. Juga sebagai bentuk penghambaan terhadap tuhan yang maha kuasa, atas segala takdir dan ketetapannya.
---dunia fana
lagi-lagi, dunia fana. perasaanku padamu ini fana. sakit yang kurasakan ini fana, akan segera tergerus dengan waktu meskipun entah sampai kapan. setidaknya aku sudah mencoba berbagai cara agar kamu menemukan kebahagiaanmu itu. siapa orangnya, aku serahkan kembali kepada tuhan.
No comments:
Post a Comment