Showing posts with label random thoughts. Show all posts
Showing posts with label random thoughts. Show all posts

10.9.22

Relief 1.0

 Whew, it's almost two years since the last time I showed up in here.

Di luar hujan. Minggu ini, hampir tiap harinya hujan. Di Jakarta. Padahal mau ke Naga, belanja. Mungkin memang sudah takdirnya, aku istirahat saja di rumah. Lagi pula kepala sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Sudah dari sore tadi senat-senut tidak karuan. Namun disinilah aku, pada akhirnya.

Duduk di lantai kontrakan 3x10 meter. Di temani suara hujan dan kucing yang seenaknya tidur di kasurku. Dengan barang-barang yang berserakan di lantai kamar. Indahnya. Aku ingin bersyukur atas kondisiku saat ini.

Dari hal yang paling dasar: aku punya tempat tinggal untuk bernaung yang lebih dari cukup, ada makanan dan minuman tersedia disini, aku juga punya banyak pakaian layak pakai. Aku membeli AC dua minggu yang lalu (meski pada akhirnya jarang terpakai karena tidak kuat dingin), aku baru saja menyelesaikan sertifikasi pekerjaan yang biayanya seharga AC baruku:') aku masih berjuang untuk menyelesaikan pendidikan jenjang magister, aku punya pekerjaan setidaknya sampai akhir tahun ini, aku punya teman yang senantiasa menanyakan kabarku, aku punya keluarga yang bisa diandalkan, aku akhirnya berhasil keluar dari hubungan toxic, aku sudah selesai menjadi pelatih pendidikan dasar meskipun hanya bertugas 10 hari, aku berhasil menahan niat membalas dendam meskipun disakiti "teman" sendiri, aku di follow back banyak selebgram seminggu terakhir ini. Wow. It's actually so many, huh. Dari yang paling penting, sampai yang paling nggak penting. Hahaha.

Damai sekali. Baru segini saja, rasanya sudah damai sekali.

Kalau ditanya apakah aku pernah menyesali keputusanku dan apa yang telah terjadi... yah, kalau kata orang: nasi sudah jadi bubur. Rasa menyesal pasti ada. Tapi mungkin karena saking seringnya aku menjerumuskan diriku sendiri ke "jalan yang tidak benar", rasa sesal itu tidak sebesar rasa bersyukurku karena sudah diberikan kesempatan untuk belajar. Belajar dari kesalahan dan pengalaman. Tidak punya orangtua yang bisa menjagaku 24/7 sejak masih SD, membuatku mau tidak mau akhirnya belajar sendiri. But that's a cool thing, though.

Dahlah, sekarang aku hanya mau hidup yang damai dan stabil saja. Stabil secara finansial, stabil secara emosional, stabil secara mental, dan stabil secara spiritual. Ada uang lebih, ya, naik gunung. Kalau tidak ada uang lebih, ya, kerja dulu. Sedang ingin memutuskan diri dari hal-hal yang hanya bikin pusing pikiran saja. Hanya berharap semoga rencana ke depannya bisa lancar... dan stabil, dan damai. Aamiin.

4.1.20

tahoen baroe 2020

Masih aja ya gue nulis blog. Dah macem diary kedua gue ini blog sebenernya. Bulan agustus nanti blog ini umurnya udah 11 tahun ya Tuhan aku merasa tua T.T emang udah tua sih :'''

Nothing special 2020 ini wq tahun baru rasa akhir bulan raono piti. Tahun baru rasa tengah semester karena masih ada deadline tugas makalah kuliah tanggal 3 Januari:))) Tahun baru rasa... rasa apa ya gloomy banget rasanya. Mungkin karena hujan terus.

Tahun ini kayanya gue ngga mau terlalu maksa diri gue sendiri kayanya wq. Gatau rasanya lelah aja. Padahal gue ngga ngapa-ngapain wqwq. Sedih sih kalo ngelihat orang lain pada produktif... Temen-temen gue pada ikut kegiatan penulisan ilmiah, sementara gue gegulingan aja di rumah scrolling twitter. Temen-temen gue pada ikut SAR banjir, gue malah ke margo jajan pepper lunch WKWKWK:( Temen-temen gue pada bikin resolusi 2020 sementara gue masih aja mencoba berdamai dengan masa lalu.

Bomat lah gue mau dibilang pemales kek, ngga ada rasa kemanusiaan kek, no lyfe kek. Bomat asli. Kayanya gue kembali berada ditahap dimana gue capek ketemu orang, capek nolongin orang, capek dimanfaatin, capek diandelin. Mau tidur aja. Dan akhirnya gue nge ghosting banyak orang. Ngga tau mau sampe kapan.

Wq semangat tahun baru gue: nge ghosting orang:))) Semuanya bisa aja dikomunikasikan sebenernya, tapi mereka keburu t ngejudge duluan sih karena gue mager juga bikin alesan, akhirnya ilang aja udah. Jangan kaya gue ya guys. Masih tahun baru udah ngga semangat haha.

Tapi ya lagi-lagi its okay to not okay ya kan kaya gue wq-_- capek tjuy kalo gue ngikutin ekspektasi orang mah. Capek tjuy kalo gue melakukan sesuatu bukan atas dasar kesadaran gue sendiri, bukan atas dasar kemauan gue sendiri. Bodo amat orang lain mau ngomong apa. Beneran. Toh yang ngejalanin hidup gue ya gue:(

Huehe. Taun baru gini amat ya. Gue jadi berbagi energi negatif gini. Tetap semangat guys karena meskipun tahun ini masih panjang, pasti rasanya bakal cepat berlalu kaya 2019. Kalau mau berdamai sama masa lalu, mending sambil jalan aja, jangan kaya gue, karena akan banyak waktu yang terbuang cuma untuk mikirin hal yang udah berlalu:') yang orang lain juga udah gabakal inget sama itu lagi:')

Dah ah. Selamat tahun baru 2020:)

28.12.19

thoughts

'kamu tahu, kan, stasiun x? pasti pernah kesana, kan?'
em... iya, aku tahu. kita akan transit disana?
'iya, rencanaku kita akan kesana. lalu berjalan kaki sebentar, baru lanjut lagi dengan bus.'
"ngapain atuh ke sana? kejauhan, cari aja rute ke stasiun y, lanjut lagi pakai kereta sambungan ke stasiun z."
.
sesaat aku takut. aku pikir aku harus ke stasiun x, kembali ke kota itu, meski hanya transit sekalipun. aku memang cinta sekali dengan kota itu, tapi aku tidak ingin kembali lagi. aku tidak ingin teringat memori terakhir disana bersama dirimu. aku tidak ingin.
.
.
.
kebodohan luar biasa adalah pergi ke terminal pada pukul satu pagi. aku kira disini seperti di jakarta, 24 jam mau kemana pun pasti ada transportasinya. ternyata bus paling cepat baru berangkat pukul lima pagi. akhirnya aku duduk di ruang tunggu.
.
aku kesal sekali jika harus terjebak di luar ruangan seperti ini di kota ini. kota yang dikelilingi gunung, siang pun aku pakai baju lapis dua. bayangkan saja dini hari, sehabis hujan, dinginnya seperti apa.
.
dibelakangku dua sahabat saling berceloteh. tak lama dua sahabat lain duduk di sampingku. aku jadi teringat malam itu: kehabisan tempat menginap, menunggu pagi, duduk di kursi jalanan, berceloteh dengan salah satu temanku. di kota stasiun x. ah... sudahlah aku hanya ingin kembali ke jakarta.

13.12.19

thoughts...

Ya ampun. Rasanya kepala ini penuh sekali. Daun-daun yang bermunculan dari ujung ranting. Ranting-ranting menjalar kian kemari dari dahannya. Dahan-dahan yang tumbuh dari batang utamanya. Pikiran. Penuh. Kalau saja mereka nyata, ingin kupatahkan paling tidak dua dahan saja. Agar batang utamanya tidak berat sebelah. Astaga, aku ingin patahkan dahannya! Kalau aku gila... mungkin... kupotong saja sekalian batang utamanya...

let me die in peace...

10.11.19

Luminara

Akhirnya aku membongkar ranselku setelah tiga hari kudiamkan saja di pinggiran tempat tidur. Ini termasuk cepat, biasanya aku baru membongkar ranselku sekitar seminggu setelah kepulangan. Haha, jorok memang. Tapi aku teringat, baju dalam packinganku basah. Alat masakku juga terakhir masih kotor belum dibersihkan, pun gosong karena dibakar diatas perapian. Dengan segala rasa terpaksa, akhirnya kukeluarkan semuanya. Sebelum mereka berkerak dan berjamur.

Seketika setelah kubuka ranselku, bau asap sisa perapian menyeruak keluar ke seantero kamar. Baunya menyengat, menusuk hidung, membuat kepalaku pusing. Baunya memunculkan memori yang tidak menyenangkan: harus cepat-cepat cari kayu lagi untuk ditumpuk diperapian agar apinya tetap menyala. Ah, tapi sudahlah. Itu hanya memori saja.

Aku keluarkan satu per satu barang-barangku dari ransel. Astaga, sampai ke dasar pun bau kayu bakar. Aku jadi teringat, bahkan kemarin saat di lapangan pun, air yang kuminum juga bau kayu bakar karena dijerang diatas perapian. Ah, tapi sudahlah. Itu hanya memori saja.

Perapian. Kayu bakar. Bara api. Asap. Mata perih yang terus menerus mengeluarkan air mata namun tak bisa dibuka karena terkena asap. Napas yang habis untuk meniup bara agar apinya muncul kembali. Aku terkejut karena ternyata itu yang kubutuhkan selama ini. Untuk pergi dari kenyataan hidup di kota, untuk pergi dari kenangan buruk di kota.

Perapian, membuat malam-malam di lapangan jadi terasa tidak terlalu dingin. Mengisi kekosongan kata dengan retak-retak kayu yang perlahan menjadi abu, jatuh ke tanah, minta ditumpuk dengan kayu yang baru. Aku harap memori burukku seperti kayu-kayu yang dibakar itu, memang membara pada awalnya, terngiang tak terkendali. Namun kemudian menjadi abu dan hilang diantara tanah. Kenyataannya? Memori itu malah seperti asap. Membumbung ke segala arah, menempel dimana-mana, dan muncul ketika tak diharapkan.

Ah, aku harap aku bisa mencuci pikiranku, agar "bau asap" itu bisa hilang. Aku harap...

"Tuh lihat kayu-kayu gede, sebentar lagi jadi abu." -as

2.9.19

harusnya hari ini aku mulai sekolah lagi

Harusnya hari ini aku mulai sekolah lagi. Namun ketua kelasku baru saja memberi kabar lewat aplikasi chatting bahwa dosen pengampunya berhalangan hadir. Aku senang, meski ada sebersit rasa kecewa. Aku bersemangat ingin masuk kelas perdana karena berencana untuk bolos di pertemuan kedua. 

Dasar aku. Taktik itu sudah kulakukan sejak empat tahun yang lalu. Aku adalah mahasiswa busuk yang berusaha mendapatkan secercah waktu berlibur ditengah hiruk pikuk akademis.

Tidak hanya aku, beberapa senior bahkan berencana untuk tidak hadir di kelas perdana. Gila, pikirku. Namun semua orang punya prioritas dan kepentingan yang berbeda, kan? Seperti diriku, yang lebih memprioritaskan kebahagiaan diatas akademik dan kesuksesan.

Memang, patah hati kadang membuat semuanya terasa buram. Sudah dua minggu berlalu semenjak sang pujaan hati tiba-tiba bercerita: aku mau nembak perempuan itu. Sudah dua minggu berlalu semenjak akhirnya setelah tujuh tahun hati ini runtuh lagi, berkeping-keping.

Sudah hampir seminggu pula aku ditraktir karaoke oleh seniorku, untuk happy-happy katanya. Dan sudah hampir seminggu pula aku dicekoki anggur merah oleh sahabatku, untuk happy-happy katanya. Semua yang katanya bisa bikin happy tak ada pengaruhnya untuk hatiku yang sudah terlanjur muram.

Harusnya hari ini aku mulai sekolah lagi. Aku berharap si dosen yang mengampu mata pelajaran esok hari tidak berhalangan hadir seperti hari ini. Dan aku berharap segala kegiatan akademik yang akan kujalani dapat mengalihkan segala rasa sedih dari fenomena patah hati ini.

13.8.19

katanya... tapi...

Kata temen gue, umur segini lagi rentan kena quarter life crisis. Sebenernya gue ga terlalu ngerti juga tentang begituan. Gue tidak merasa crisis sih, mungkin karena gue terlalu cuek kali ya haha. Tapi belakangan ini gue merasa sangat kehilangan orang-orang... Anjir geli bahasanya:(((

Tapi serius, itu yang gue rasakan. Apalagi setelah mengingat kalo gue ngga pernah kontak-kontakan lagi sejak masuk kuliah sama temen gue dari jaman TK. Terus gue merasa kehilangan beberapa teman masa SMA yang padahal dulu rasanya deket sekali. Gue juga merasa kehilangan sosok-sosok di keluarga gue. Dan juga merasa kehilangan teman-teman jalan gue meskipun cuma pernah bersama sesaat doang pas jalan. Di tambah lagi gue gabut belom kerja belom mulai sekolah jadi kerjaan gue saban hari cuma ngelihat foto lama. Sekangen itu cuy.

Ada yang bilang, what comes around ya goes around. Sedih, ya? Aku berasa alone. Padahal mah enggak.

Beberapa hari kemarin gue sempet sepedahan sendiri 48 kilometer kek orang bener ye kan. Merenungi nasib hidup gue yang entah kemana. Nah ternyata crisis juga deng gue. Terus ketemu sama temen kuliah gue yang doyan jalan tapi kini sudah sibuq bagai quda:' Iya, dia ngajak gue jalan-jalan ke gunung. Dan disitu gue merasa... oh, mungkin mereka yang hilang, digantikan sama doi.

Beberapa hari yang lalu juga, dengan randomnya gue ngajak temen gue yang lain untuk hedon makan chicken wing 5 potong dan kentung seharga 75 rebu. Random banget yekan gue. Tapi dia mau aja dong nemenin gue. Terus ghibahin orang-orang sampe mau diusir mas-masnya karena kelamaan ngobrol. Dan disitu gue merasa... oh, mungkin mereka yang hilang, digantikan sama doi.

Dan baru hari ini, seorang teman lama... teman dari SMP, masih mau-maunya nanyain kabar gue. Eeeh ternyata dia lagi crisis juga. Nganggur juga. Makan mulu juga. Dan banding-bandingin hidupnya sama orang lain juga. Ternyata ngga cuma gue yang kaya gitu haha. Temen yang satu ini ngga ada bosennya kalo ngobrol, ngga peduli jarak juga, padahal terbentang jarak 3290 kilometer diantara kita:( Dan disitu gue merasa... oh, masih ada juga yang bertahan walaupun gua gajelas.

Jadi... apasih sebenernya yang gue sedihin:( Tak tahu pun:( Gue sepertinya harus berusaha untuk melihat bagian positif dari diri gue ketimbang melulu ngelihat bagian negatifnya. Sayang sama diri sendiri ternyata sepenting itu cuy. Dan gue juga sepertinya harus bersyukur lebih sering lagi. Kaya katanya Banda Neira yekan, yang patah tumbuh, yang hilang berganti anjay. Kadang gue suka sedih, udah setua ini tapi masih gajelas:( Udah gitu doang.

26.3.19

lelah dan bingung

Kini aku duduk di dalam mobil elf jurusan Jakarta-Bandung yang melaju 100 km/jam. Setelah berkali-kali bolak-balik Jakarta-Bandung dengan travel, baru sekali ini aku duduk di depan: di samping Pak Kusir. Melihat lampu-lampu mobil dari arah berlawanan yang bermunculan dan hilang kembali, merasakan ketegangan mobil-mobil yang saling menyalip di depan.

Saat travel ini masih terjebak macet di dalam kota, aku sudah membayangkan rasanya bila sudah masuk tol, bengong-bengong menatap horison jalan. Dan merasa sangat bahagia ketika travel ini sudah memasuki jalanan arah tol. Ketika itulah lagu Suicide Saturday dari Hippo Campus mengalun.

oh, don't you wait now

Akhirnya aku mulai mengetik. Atas dasar gugahan seorang kawan lama. Seorang kawan lama yang nampaknya membangun dinding tebal karena kami kini berbeda "kasta". Aku sudah pernah mengenalnya, namun kini terasa asing.


Tujuanku ke Bandung sebenarnya bukan untuk bertemu dengannya. Namun siapa sangka ia kebetulan menjadi pemateri sebuah kegiatan penulisan jurnalistik yang kuikuti. Aku ingat ia memanggilku untuk meresume kegiatan hari sebelumnya, ketika hari masih pagi dan pikiranku masih berada di balik selimut tempat tidur semalam. Untungnya aku tak tergagap.

Ia bilang kalau ia percaya aku mampu mengutarakan resume kegiatan kemarin karena telah membaca tulisanku. Naon? pikirku saat itu. Kemudian ia bilang tulisanku bagus. Ya, sebelum ikut kegiatan ini, peserta harus mengirimkan contoh tulisan mengenai apa saja. Percaya tidak percaya, tulisan yang ia bilang bagus itu hanya selembar ukuran A4 (peserta lain ada yang sampai 12 halaman, dengan tambahan foto) dan kukerjakan terburu-buru dalam waktu 15 menit karena sudah hampir deadline.

Semua keanehan dan kecanggungan itu... tak mengapa, yang penting ia benar-benar sangat menginspirasi dan akhirnya berhasil menggugah diriku untuk kembali menulis.

Jalan tol saat itu masih lengang. Ujung jalanan itu gelap tanpa lampu jalanan. Lalu lagu berganti menjadi Sejuta Kabut. Aku seketika jadi teringat, hari ini salah satu pelatihku meninggal dunia karena sakit paru-paru.

Kemudian tiba-tiba pikiranku bercabang kesana kemari: seleksi S2, organisasi, keluarga, omongan orang, materi untuk presentasi, rumah sakit, seorang teman, rasa gatal di kaki, pekerjaan, status teman-temanku yang kini sudah mulai married satu per satu... Sama seperti mobil-mobil yang silih berganti, pikiran-pikiran itu cepat sekali melaju, datang dan pergi, lewat sekejap mata.

Berganti lagi, kini lagunya berjudul Starlight yang dibawakan oleh Jai Wolf. Pas sekali sedang gerimis. Tetes-tetes kecil air di kaca depan yang terhantam sinar mobil dari arah sebaliknya terlihat seperti bintang-bintang dengan latar belakang jalanan malam yang gelap. Sesekali tersapu wiper mobil, namun dengan cepat membentuk "langit baru".

Tetes kecil air gerimis itu mengingatkanku pada banyaknya manusia. Terhapus begitu saja dan penggantinya sama saja bahkan lebih banyak. What am i between millions of people?

#NP Way Out There by Lord Huron. Mengingatkanku pada banyaknya perjalanan yang telah aku lalui. Dan salah satu bagian favoritku ketika sedang perjalanan adalah ketika sedang berada di kendaraan. Melihat jalanan dan pemandangan. Bertemu orang-orang baru yang kadang menawarkanku makanan atau bercerita tentang hidup mereka: dari mana mereka datang, mau kemana mereka, dan mengapa mereka pergi ke suatu tempat, dll.

Aku jadi rindu diriku yang lama. Yang mampu berkelana seorang diri dan... yah... setidaknya nyaman dengan apa-apa yang aku lakukan. Ugh... i wish i can turn back time...

Yah, berada di kendaraan seperti ini, berpindah dari satu kota ke kota lain, kadang membahayakan juga karena pikiran liarku akan ikut berjalan-jalan entah kemana. Aku hanya berharap, kali ini pikiranku tidak brutal dan semoga apapun pilihan yang kuambil... semoga tidak menyesatkan...


-sebuah tulisan yang nggak ada juntrungannya-
Jalan Tol Cikampek, 17 Maret 2019

2.9.18

a thoughtful pause(?)

I can't help but write it down. Everyone been asking me, "how ya feelin?" "are you really okay?" "what's with the sudden decision?" "are you following someone?" Actually i'm not fine and i think it's okay that i'm not fine. Why is the "why" with everybody or am i just being sensitive? OH and this is my decision, i'm not following anyone-_-

Gue sadar kok kalo gue ngga produktif dan bener-bener cuma guling-guling di kamar aja seharian penuh selama tujuh bulan terakhir. "WHAT? TUJUH BULAN?" iya, gausah kaget gitu ah. Gue udah dapet gelar Bachelor of Doing Nothing 2018 neeeh. Well I've been trying to find jobs but their schedule doesn't suits my trip so i just let it go. "Jadi lu masih mentingin trip lu ketimbang kerjaan atau bahkan skripsi lu?" Iya.

Somehow gue selalu yakin bahwa setiap makhluk yang turun ke bumi, punya jalannya masing-masing. Beneran deh, makin kesini gue makin ngga peduli orang bilang apa tentang jalan hidup yang gue pilih. After all, this is my life anyway. Gue mungkin menyesal karena baru belakangan ini tersadar, tapi sepertinya gue akan lebih menyesal lagi kalau gue ngga menjalani jalan yang sudah terlanjur gue jalani.

Ya, disaat manusia-manusia lain sudah berkutat dengan tugas akhir, pekerjaan, keluarga... gue? malah ikut berkebun di kaki gunung tertinggi Sumatera bersama warga lokal yang baru saja gue kenal sekitar 2 jam yang lalu. Nyabutin wortel dan kentang dari tanahnya langsung, sambil ngobrol santai tentang kehidupan, di temani dua pelangi yang tumpang tindih di langit sore sehabis hujan. Ketika gue dengan semangatnya mbersiin wortel dari tanah, si warlok yang dipanggil Pakde berkomentar: "Tumben ada orang kota kaya kamu, mau aja disuruh main tanah." Ya gimana ya... secara gua posisinya numpang sama doi, kalo ga bantu mbersiin ntar gua makan apa ahaha. Terus kemudian beliau ngasih gue wejangan untuk hidup.

Gue mungkin menyesal, kenapa gue ngga cepet-cepet nyelesein tugas akhir like mostly people do. Tapi sepertinya gue akan lebih menyesal kalau aja gue ngga bisa melihat fenomena babi yang ukurannya dua kali lipat badan gue, jalan-jalan di depan kios di Paniai. Bertemu langsung sama manusia-manusia berkoteka di daerah pegunungan tengah Papua. Merasakan makan mujaer seharga Rp50.000 di Indonesia ku ini:') dan juga merasakan listrik yang cuma nyala setengah hari--dengan sinyal telepon ilang-ilangan, jalan makadam dan lumpur, sambil menyaksikan mama-mama tak beralas kaki bawa ubi pake noken dan nggendong anaknya yang ingusnya udah sampe jidat.

Gue mungkin menyesal, kenapa gue ngga ikutan nyari kerja like mostly people do. Tapi sepertinya gue akan lebih menyesal kalau aja gue melewatkan momen matahari terbenam paling cantik sepanjang musim kemarau di salah satu bukit di Gunung Lawu. Bengong-bengong ngeliatin sabana sambil sempit-sempitan di hammock bertiga kaya orang bener. Menyusuri punggungan paling tipis, paling curam, dan paling licin untuk lintas ke jalur sebelah.

So... apakah gue menyesal karena tidak mengikuti "waktu orang lain"? Tentu tidak. Somehow gue malah berpikir bahwa... ya ini jalan gue. Ini jalan yang sudah ditentukan Tuhan untuk gue. Gue mungkin terlambat, tapi dengan terlambat itu gue bisa belajar lebih banyak, dan berjalan lebih jauh lagi, dan mudah-mudahan bisa memberi manfaat lebih banyak lagi untuk sesama. Jadi... yah, bukannya gue "meyakinkan diri" bahwa gue nggak salah atau gimana. Sebenarnya, kuncinya cuma bersyukur aja dengan apa yang sudah gue lewati.

Jadi... buat semua yang diluar sana dan mungkin sedang berada dalam posisi seperti gue saat ini entah tentang apa itu, kerjaan kek, atau apa... terlambat itu bukan gagal. Kalau pun gagal sekalipun, ya udah syukuri aja dulu. Bisa aja Tuhan punya rencana lebih baik, toh? Sesekali kita harus melihat kebelakang, apa aja yang udah kita jalani dan udah kita lalui hingga kita sekarang disini. Semuanya seharga dengan apa-apa yang sudah kita korbankan kok.Percaya saja, rencana Tuhan itu lebih baik dari apapun juga.

Bonus foto sunset di Lawu. Aslinya mah lebih cetar.


12.6.16

salahkan dia...?


Sedekat januari. Namun januari tak bisa disalahkan. Hanya karena februari datang, lalu menghancurkan segalanya. Januari tak bisa disalahkan. --Sedekat januari, yang tetesan hujannya masih segar menerpa memori, yang angin dinginnya masih menghembus nurani. Hanya karena februari datang, lalu mengenyahkan segalanya. --Sedekat januari, yang rasanya seperti bertahun-tahun lalu. Padahal hanya beberapa waktu yang lalu. Sedekat itu. --Namun januari tak bisa disalahkan, begitu juga februari. Dilihat dari sudut mana pun, keduanya sama-sama benar. Keduanya sama-sama salah. --Meski, dulu kita sedekat januari. Jangan rindu pada januari. Jangan pula sedih mengingat januari. --Meski, kita mencintai januari. Jangan salahkan januari, akan kenangan-kenangan yang dibawanya pergi....


14.3.16

Elektron

Belakangan ini ada banyak suara dalam kepala. Sebenarnya aku tidak yakin, apakah benar suara itu datang dari kepala ini?

Ada yang sedih.
Ada yang senang.
Ada yang minta makan melulu dan membuat tubuh ini makin tak berbentuk.
Ada yang memanggil-manggil namaku. Mengajukan banyak pertanyaan dan melontarkan banyak pernyataan.

Apa effort-mu? Sudah semester empat.
Gimana perijinan gedung?
Peta udah di salin ke kalkir?
Udah belajar? Besok UTS geofis 10 ppt, 50 soal.
Tiga minggu lagi kita nanjak. Jogging, ya!
Coklat. Pokoknya habis dari Dekanat lo harus beli coklat.
Kak aku ngga bisa dateng, gimana dong?
Tolong jaga bebi jam 5 sore.
Gue butuh lo ngundang Kepala Departemen untuk acara besok jam 4 sore, ya.
Ajarin gue prak metkuan, dong.
Kamu hari ini pulang atau ngga?
Kasi tau caang untuk revisi laporan sama poster.
Ngga ada Data Interoperability di ArcMap gue, mungkin tugas ini ngga seharusnya dikerjakan.

Lalu suhu tubuh memaksa air raksa naik menyentuh tick mark berangka 39. Kalimat Pak Sobirin mendadak masuk dalam pikiranku.

"...bayangkan kalau Bumi berhenti berputar barang semenit saja, barangkali kita semua jatuh, tidak bisa berdiri..."

bukan itu yang aku bayangkan. Apa jadinya..... kalau ternyata Bumi dan planet-planet lain di tata surya hanyalah elektron-elektron dan matahari hanyalah sebuah inti atom. Ada kehidupan yang jauh lebih besar..... lalu atom yang kita pelajari itu ternyata sebuah tata surya yang punya kehidupan seperti di Bumi......

dor!

Entah dari mana petasan itu tiba-tiba meledak pecah diatas atap rumah. Suaranya nyaring. Dadaku terasa sesak, katanya itu karena dingin malam. Bukan karena sakit hati. Kelelahan.

Lelah fisik. Lelah mental. Aku memang payah.
dia bilang: sebuah tugas... tak pernah jatuh di pundak yang salah...
namun bagaimana jika begini: tugasnya yang salah. Atau ternyata pundaknya tepat, tapi pemilik pundaknya yang tidak tepat.

Ia hanya menatapku hampa sambil mengedikkan bahu, lalu pergi mencari sebotol minuman ringan.

27.1.16

3 + 46 + 96 jam menggila: PSE-KM-BO

hmm 46 jam menggila..... itu sebenernya 14 jam didalamnya cuma ngeliatin pemandangan dari kereta hixx.

Senin, 11 Januari 2016
(3 jam...)

Gue bangun jam tujuh pagi astagaa superb!
Kenapa bisa? Karena gelion dari semalem udah bilang: jam 10 gua jemput ya.
Dan karena gue tau doi orangnya tepat waktu banget, jadilah jam 7 pagi gue udah bangun, siap-siap. Dah kek mau kondangan, pake baju batik. Iya, ngurusin perizinan acara to. Dan......... dia nyampe jam 09:54 :')
Yaudah dah tuh, ngurusin surat ke tendor, diledekin sama ibu-ibu pengurusnya gara-gara warna bajunya samaan-__- Terus gue gemeteran pas lihat kontraknya........
Ibu tendor: jadi kapan sisanya mau di transfer, mas?
Gelion: ehiya jadi total yang kurang berapa lagi, bu?
Ibu tendor: tujuh puluh lima juta lagi, mas.

----meninggal w dengerinnya----

terus puter balik ke polda. Meni macet pisan euy (hari senin bok), mana muternya jauh banget lagi karena ada beberapa jalan yang motor ngga bisa lewat, dan pas pulangnya nyasar:( mana tengah hari bolong itu pas baliknya. cukup sekian dan terima kasih.



Senin, 11 Januari 2016 - Rabu, 13 Januari 2016
(46 jam...)

Harusnya gue hari selasanya ada rapat di tendor, (((tendor lagi))). Maka dari itu, jam 10 malem sebelum jalan ke entah berantah yang gatau dapet sinyal pakagak, gue pamitan dah sama gelion dan bilang kalo gue baru balik tanggal 17 wakakak lama-___-"

Jam 8 gue jalan dari stasiun tanjung barat ke stasiun senen. nyampenya pas banget setengah jam sebelum kereta berangkat. cukup buat ngeprint tiket dulu :')

jadilah itu 7 jam di kereta. tidur mangap-mangap. Jam 2 pagi berenti di cirebon prujakan terus gangguin ibu-ibu depan gue karena dia bawa peyek dan gua kelaparan. ya gitu deh gua kayanya kalo lagi menjelajah sendirian gini sering banget makan jajanan orang lain (((orang lain)))

Pagi pagi dari kereta keliatan Sumbing Sindoro OMG OMG AAAAKK

stasiun kutoarjo cuyyy!
Terus dijemput chamidah:') kita naik bus yang.... disana sih disebutnya angkot. Busnya kecil gitu ukurannya, lucu banget:( Terus sebaru sampenya gue, kita langsung main ke pantai-__- karena gue ngebet banget pengen ke pantai.

karena ngga ada angkot yang bisa nganterin sampe pantai... jadilah kita jalan melewati ladang... hingga akhirnya bertemu pasir... DAN BERTEMU PANTAI BOK!

ladang...
pasir... LAUT SUDAH TERLIHAT!
MAKIN DEKAT!
YAAAAAY!!! akhirnya pantai:'')))

Sempet main perahu-perahuan di laguna deket sana kek orang bener haha. Terus sebelum soreh kita balik. Mandi... Airnya masih nimba omg:') Dan gue ngga jadinya ngga berani make airnya banyak-banyak karena ngga ikutan nimba. This is chamidah's house. No ubin. With atap yang ngga pake langit-langit. The best experience i can get, though. Jadi inget, dulu rumah gue juga kaya begini. Chamidah's house remind me of my childhood:''')



Magrib ke mesjid, solat dan baca doa bareng disana. Salim-salim sama "sesepuh-sesepuh" disana:'))) Pulang dari mesjid, dirumah kita tadarusan. Kaya pesantren yah... tapi seru sumpah. Malem-malem disini nyamuknya keroyokan bok, akibat suhu panas yang dipengaruhi oleh lokasinya yaitu dataran rendak deket pantai:(

Makanan disini bener-bener yang didapet dari sekitar sini aja, keluarga-keluarga yang ada di daerah sini pasti jarang belanja makanan ke luar, mereka mengandalkan hasil ladang dan kebun. Kata chamidah, kalo musim ujan, sawahnya kadang tergenang air dan menyerupai kolam... dari situ biasanya bakal banyak ikan nila dan ikan mas bawaan dari sungai yang biasanya juga dijadiin makanan keluarga. Seru yah?

Sayang sekali keesokan harinya banget..... gue harus balik. Untuk PSEG. Dianterin chamidah naik bus... eh angkot... yang lucu itu wkwkwk.



Kamis, 14 Januari 2016 - Minggu, 17 Januari 2016
(96 jam)

Kinda crazy. Yha. PSEG berlangsung pada 14 Januari 2016-17 Januari 2016. Sejauh yang gue ingat... ngga ada hal menarik:(

Yang ada malah masalah:( ternyata dekanat mau surat keterangan juga, ngga cuma proposal. Terus masalah perijinan tempat, yang advance cuma ijin ke Kepala Desa, ngga ke orang yang punya lapangannya. Lah ribet dah ntu. Untung Sodi pinter ngomong dan negosiasi, jadi yang punya lapangan ngga baper lagi:')

Selama 96 jam gue adalah anak konsum yang full dengerin suara genset berisik banget. Tidur seharinya cuma 3 jam (kecuali hari pertama) itu juga shift-shiftan sama yang lain. Inget banget gue, baru selesai masak nasi jam 12 malem, jam 2 pagi harus bangun untuk nyiapin suguhan alumni wakakakak. Pindah lobang untuk nyuci peralatan masak yang segede-gede alaium gambreng dan ngangkutin air berember-ember. Motongin bawang, sayur-sayur. Jadi anak royco masako apapunlah itu hahaha. Gue jadi "Penanggung Jawab Sop" coba wahahaha.

Udah susah payah masak makanan buanyak banget, ngga kebagian makan (padahal anak konsum), cuma kena diomelin angkatan karena katanya makanannya ngga nyukup:( wah parah lah itu pokoknya. Gue berakhir nyemilin coklat yang gue bawa sendiri:'''

Tiap hari bangun cuma kepikiran: kapan pulangnya?:( Derita anak konsum deh kayanya.

Tapi alhamdulillah acara ini selesai dengan damai:') Ngga damai sih, masih ditunggu LPJ kegiatannya-_- ngga punya foto pseg:( udah gitu aja wkwk cuma mo curcolz ajahh hehe.

20.11.15

nyatanya

ketika aku berlari sore itu, banyak yang menyapaku. mungkin takjub, di tiga perempat semester ini bisa-bisanya aku malah berlari. yang lain sibuk tugas, rapat, survey, hitung-menghitung... aku?
berlari.

setelah selesai berlari, nafasku berkejar-kejaran dengan kebutuhan oksigen. sambil terengah-engah, aku berjalan dengan gontai ke arah kantin. banyak yang menanyakan, ada apa dengan diriku. aku balas saja, aku habis berlari.

apa? berlari? berlari dari kenyataan?

kala itu hanya tertawa. bagaimana mungkin seseorang bisa berlari dari kenyataan?

nyatanya?

aku termakan dengan kalimatku sendiri. hari ini aku berlari. bukan berlari dalam arti sebenarnya. aku berlari. dari kenyataan. meninggalkan segunung masalah dibelakang. aku berlari. dari kenyataan.

namun tentu saja, pada akhirnya kenyataan selalu bisa mengejarku.

1.8.15

bobo

tidur. itulah apa yang dikatakannya padaku tiap malam, tiap ia melihatku tak beranjak dari layar komputer. tidur. itulah apa yang dilakukan kebanyakan orang setiap malam tiba. tidur. itulah apa yang kini rasanya sulit untuk dikerjakan. tidak. tidak bisa tidur. sulit tidur. tidur. itulah apa yang dilarang untuk dilakukan pada pagi hari. tidur. tapi tubuh hanya bisa tidur di pagi hari. kemudian meninggalkan tidur pada siang hari. tidur. tidur. tidur...

16.2.15

11.57pm

Ketika waktu terlalu cepat bergulir. Tak sadar bintang di angkasa telah tergantung menghiasi. Tengah malam menanti untuk ditemani kembali. Nyamuk-nyamuk riang mengerubungi kaki. Baling-baling kipas angin mendesing. Perasaan putus asa dengan sigap menghampiri. Pertanyaan "apa yang kau lakukan?" mengelilingi nurani. Sesekali di atas atap terdengar suara jejak musang berlari. Detik jarum jam tak hentinya menari. Suhu malam berubah makin dingin. Leher yang terasa makin nyeri. Aduhai. Apa yang kulakukan disini?

24.9.14

Let me go home........

Di saat weekend lo berubah dari donlot lagu jadi donlot materi kuliah...
Di saat malem-malem waktu bobo lo berubah jadi begadang mantengin laptop buat nyelesein tugas...
Di saat lo lagi ketemu sahabat lo tiba-tiba di telpon untuk rapat...
Di saat lo nggak ada temen untuk berbagi rasa suka dan duka...
Di saat lo nggak bisa ngerjain kuis perdana aljabar sama sekali...
Di saat lo harus bolak-balik lantai 1-lantai 4 demi secoret tanda tangan dosen...
Di saat lo curi-curi waktu untuk sekadar mengingat kembali materi kuliah yang banyak banget...
Di saat lo nggak bisa ngandelin temen sekelompok lo padahal deadline tinggal sejam lagi...
Di saat lo harus pulang malem banget sementara besok ada tugas dan kelas masuk pagi...
Di saat lo belom bisa adaptasi dengan itu semua...

Yaudah syukuri aja.

Jalanin aja dulu.

Ntar juga selesai...

..............................

...........................

......................

..................

..............

..........

......

...Tapi nggak tau kapan selesainya...

31.7.14

lolos vs nyelos

Yeaaah! Jumpa lagi dengan saya! *mulai gajelas*
Liburan panjang, penantian panjang, galau-galau berkelanjutan... semua itu membuat gue nggak jelas. Udah genap 3 bulan gue nggak belajar (itu mah ganjil bukan genap ya?). Otak gue serasa tumpul, makanya gue jadi agak-agak error gini. (Gue sempet ngerjain soal mtk gitu kemaren, terus karena udah terlalu error....2x3 pun gue jawab 10-_- *curcol)

Kemarin (nggak kemarin juga sih), gue akhirnya diterima di salah satu ptn ternama. Tapi entah kenapa saat itu yang gue rasakan malah ngedown, tiba-tiba gue berpikir bahwa hidup gue berhenti saat itu, rasanya ada bagian di hati gue yang luruh jatuh pecah kemudian berserakan tak karuan dilanjutkan dengan menyanyikan reff salah satu lagu Naif, "MENGAPAAA... AKU BEGINIII?". Tapi setelah gue ngasih tau nyokap dan keluarga gue yang lain... rupanya mereka seneng banget dan langsung mengucap syukur.

Bersyukur. Mungkin itu yang gue lupakan setelah lihat pengumuman.

Sekarang gue jadi tersadar karena ternyata lumayan juga temen-temen gue yang nggak dapet ptn. Gue tersadar bahwa... gila banget ya, bukannya kemaren gue bersyukur, gue malah ngedown gara-gara ketolak di pilihan pertama dan kedua. Malah ada yang baru keterima setahun setelah lulus SMA, tapi dia langsung ngucap hamdalah di twitter (gue sempet ngepoin twitter salah satu kakak kelas gue yang dulu galak sama gue, DAN DIA SEKARANG SATU FAKULTAS SATU JURUSAN SAMA GUE HAYOLOOO).

Tapi jujur, ngelihat temen-temen gue yang pada ga lolos seolah-olah jadi tamparan buat sikap gue kemarin.

Ada yang menarik diri, ada yang menutupi kesedihannya dengan senyuman lebar (padahal......sakitnya tuh.....disini *nunjuk dada*), ada yang tetep berusaha sekuat tenaga dengan semangat juang berkobar-kobar demi dapet satu kursi di ptn. Beragamlah sikapnya.

Tapi gue selalu percaya, apapun yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik buat kita dan sesuai dengan kemampuan kita juga. Yang penting, tetap bergerak, tetap membuka lembaran buku kehidupan kita.....because life must go on no matter what:')

Ahahah, dasar lo sok bijak, sok inggris-___- Namanya juga error ye gak. Btw udah pagi nih, gue harus siap-siap untuk pergi ke antah berantah:') babaay!

19.6.14

woof

Udah lama nggak ngepost:/ bingung mo ngepost apa lagi (sambil bersiin sarang laba-laba). Yaudah sesi curcol aja deh *loh*

Ceritanya............ gue belom keterima di perguruan tinggi mana pun. Gue tetep kekeuh mau kebumian, tapi keluarga gue (selain nyokap) nggak setuju gara-gara gue nggak lolos undangan kemaren. Mereka takut gue susah move on kalo ikut tes buat kebumian dan nggak lolos lagi. Sampe gue bertanya-tanya, apakah mimpi gue dari 7 tahun yang lalu harus gue relakan begitu saja? Padahal gue udah nguatin niat, kemana pun gue tahun ini seandainya nggak lolos kebumian, gue akan coba lagi tahun depan:'

Yah, ini mimpi gue, apa mimpimu?

Dan............ baru dua hari yang lalu gue ikut sbmptn. Jujur gue nggak yakin sama hasilnya:' Dan omongan orang-orang seakan bikin dunia gue serasa runtuh, "Mimpi aja terus!"

Tapi daripada pusing mending seneng-seneng yea bok. Semenjak selesai sbmptn, kerjaan gue cuma shopping sama nonton youtube sampe gila. Sempet dapet rekomendasi buat liat vine indonesia sama rani, tapi gue takut vine lebih bikin addict dari pada youtube dan 9gag, jadi gue nggak nonton vine lagi.

Terus gue nemu iklan gitu di youtube sedih banget:' Ada 3 tapi yang paling sedih yang ini.


Terus nemu lagu ini :3 lebih suka video sama suara saxophone......atau apalah itu.


Huffft sampe hari gini gue masih aja sempet nulis blog:' Padahal besok ada try out buat simak:' Jam 7 brohhh! Semoga besok bisa bangun pagi deh biar nggak mager kesananya:'

10.6.14

little fighter







dear my little fighter,

ketika kau merasa mimpimu terlalu jauh untuk digapai,
ketika kau harus bersaing bahkan dengan yang kau sayangi,
jangan putus asa.
berdoalah.
selagi masih ada waktu, selagi masih ada kesempatan,
gunakanlah untuk meraih mimpimu

nothing's impossible, my darling.
fighting, my little fighter.
may God leads your way.
Aamiin.







8.4.14

random song: Nyasar...

Yap. I was lost among my files and folders in my laptop. And then.... I found a lyric of a song titled "pitter patter on my wndw". I don't know the song, but the lyric really describe my situation right now. I've tried to search the song on the internet, but there are nothing. So, if you know this song or familiar with the lyric, please kindly tell me hihi thanks :)

"pitter patter on my window,
I wonder if it's the sound of the rain,
pitter patter on my window,
or the sound of my tears.

clouds are forming in the sky,
cloulds are forming in my heart,
why do people cry,
when they're apart.
why do people smile,
when they're really hurting
walk another mile,
just to see it's circling.

a wound that you can't heal,
a curse that you can't seal,
a sound that you can't hear,
before you know it'll disappear.
live my life on the edge of the hill,
this emptiness that you can't fill
this touch that you can't feel,
that's right..
this wound that you can't heal"