27.12.11

Jam berapa sekarang? *the last*

Hahaha... Seseorang yang tak berharga itu bagai menertawakan nasib gue yang dia pikir berada di jalan Tuhan Yang Maha Adil.

Pukul 7.21 PM, gue terjebak di ruangan 4 x 4 meter yang diterangi lampu neon kecil berwarna kuning. Terjebak diantara kepulan asap rokok yang memenuhi ruangan itu. Seakan mereka ingin membunuh gue perlahan dengan asap penuh racun itu. Sementara seseorang yang tak berharga itu entah berada di mana, tapi gue melihatnya tadi.

Padahal gue udah muak melihat wajahnya. Tapi takdir (yang menurutnya adalah jalan yang dipilihkan Tuhan dan tidak pernah salah atau bukan semata-mata sebuah kebetulan belaka) mempertemukan kita kembali. Dimana dua jam sebelumnya gue melihatnya sedang berdakwah, kembali mengumbar kata-kata itu di depan banyak orang yang acuh tak acuh mendengarkannya. "Tuhan itu Maha Adil. Ia tidak akan mempertemukan anda dengan saya kalau Ia tidak adil. Ia mempertemukan anda dengan saya karena Ia yakin anda adalah orang-orang beriman."

JEGERRRRR!!!! *ada petir *nggak deng, itu cuma khayalan gue doang.

Dan orang-orang tadi langsung meninggalkannya selesai ia berdakwah, apalagi yang perempuan. Teman-temannya yang laki-laki langsung menyalakan rokok dan mengobrol. Bodohnya gue, ngapain ke tempat laknat ini lagi?

Sebelum pulang jam delapan tadi, sendal gue hilang. Ternyata di pakai sama temannya seseorang yang tak berharga itu.
"Kak... itu sendalku," ujar gue.
"Yah, maaf deh. Habisnya sendal gue ilang di embat gatau sama siapa," katanya sambil mengembalikan sendal gue itu.
"Gak mungkin, pasti ada, broh!" ujar seseorang yang tak berharga itu sambil berjalan ke depan ruangan 4 x 4 meter tadi yang sejujurnya tidak ingin gue masuki lagi.

Temannya seseorang yang tak berharga itu, yang membuatnya sukses sampai bisa beli mobil, mempercayai gue, entah mengapa. "Saya yakin kamu pasti sukses," ujarnya sebelum gue keluar dari ruangan yang bikin sesak paru-paru itu.

Kini, di tengah hujan yang mengguyur Jakarta malam ini, gue di temani oleh rasa kalut, bingung, dan takut. Satu-satunya kata penyemangat hanyalah dari istri temannya seseorang yang tak berharga itu, "Kamu harus tahu bahwa kemenangan itu adanya di balik hambatan. Kalau kamu mau kemenangan itu, kamu harus terjang hambatannya."

*** THE END ***

No comments:

Post a Comment