Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Sambil mengingat pesannya untuk membuka website itu, aku akhirnya mengeluarkan handphone jadul warna putih dari sakuku. Lalu sayup-sayup terdengar sebuah tawa. Tawa yang sangat kukenal. Ketika aku menoleh.... langsung terputar sebuah lagu di kepalaku.
"Lo tega, ya, Lim sama gue," ujar Tan yang tiba-tiba sudah berada di depanku. Log melenggang begitu saja. Aku menatap Tan dengan memasang wajah tak berdosa.
"Tega apa?" tanyaku singkat, pura-pura tidak tahu.
"Lo ng-upload foto gue! Lo tega!"
"Yang ng-upload, kan, si Log, kenapa jadi gue yang disalahin?"
"Kata Log, lo yang milih."
Tapi lalu aku meninggalkan Tan di depan gerbang. Kemudian ia berbalik arah ke dalam sekolah. Aku pulang duluan, tapi arahnya memutar sehingga lebih jauh. Dalam hati aku berpikir, mungkin aku masih bisa melihat Log di arah pulang ini. Dan benar saja, aku melihat Log.... dengan Tan di sampingnya. Sugestiku tidak berhasil. Lagu itu kembali terputar di kepalaku. Semua pesan itu, semua pesan yang memang mau dikirimnya untukku tanpa membebankanku, justru kini jadi terasa berat.
Lalu mengirim nada lagu itu pada Ran.
"Pararararam...."
No comments:
Post a Comment