Aku terpaksa menulis lagi. Atas gertakan isi hati. Karena pengaruh situasi dan kondisi. Lengkap dengan duduk di pojok kelas dan udara berbau terasi. Sebab dari hati yang mendadak sakit. Bagai terlilit. Dalam sirkum yang rumit.
Log kembali menghantui hidupku dengan segala manis-manis yang entah asli atau bukan. Dan Tan yang makin kemari kian sulit diduga. Serta lingkup pertemanan yang menjadi aneh.
Kali ini Log meminta bantuan. Aku sudah menduga dari jauh sana, ketika ia berkali-kali melirik tanpa alasan yang jelas. Sebelumnya bertanya basa-basi,
"Lo udah cek fb?" Tentu saja sudah! Bagaimana aku bisa melewatkannya?
"Belom," jawabku enteng sambil lalu, berjalan ke arah ruang seni dimana Hun dan Nig sedang menunggu Ima yang sedang sholat. Kemudian kami bertiga gibah sedikit (baca: banyak) tentang seorang adik kelas.
Kemudian Log menghampiri tanpa rasa bersalah dan segera menyeret bangku, karena meja yang goyang-goyang. Lalu mengeluarkan map. Terlihat jelas di dalamnya banyak sekali data-data penting, yang harusnya ada padaku. Sepintas, kalimat yang dulu terucap oleh rekanku itu lewat di kepala tanpa permisi, "Lo nggak malu, Lim? Semua tugas lo, selalu Log yang ngerjain!". Tapi kutepis mati-matian. Log menyodorkan ponselnya, membuka sebuah chat-nya dan menyuruhku untuk menulis apa pun yang seharusnya kutulis disana.
Tak lama Ima selesai sholat, segera kusemangati Log yang berkutat dengan ponselnya. Sebuah jawaban terimakasih terlontar. Tepat saat Tan lewat. Wajahnya berubah. Sulit diprediksi, susah dimengerti.
Saat aku bercerita tentang Log pada Ima pun, wajah Tan berubah. Sukar diartikan, rumit dijabarkan.
Aku tidak mengerti ada apa sebenernya yang terjadi pada Tan. Aku sudah jelaskan tiap senti sudut hatiku pada Tan, tentang seperti apa aku dengan Log. Lantas, mengapa tidak jujur saja?
No comments:
Post a Comment