11.3.13

Just A Note... (sma part xiii)

Betapa ironis hidup beberapa (baca: banyak) orang di dunia ini. Ada yang kaya raya tapi hidup sendirian, dia nggak bahagia padahal punya harta banyak. Ada yang masih berharap cintanya berbalas, padahal cintanya itu sudah kadung jujur bahwa dia nggak suka. Ada yang terlalu mengagumi seseorang, tapi seseorang itu cuma ada di kacanya (emang ada ya...?)

Apalagi kalau beberapa di antaranya adalah teman lo sendiri. Mereka bergaul apa adanya, terlihat bahagia, terlihat amat normal, tapi ternyata di balik kenormalan mereka itu tersembunyi sesuatu yang pahit.... Gue juga sempat (dan masih) mengalami masa-masa pahit, tapi pembawaan gue nggak sebagus teman-teman gue itu.

Coba aja gue kasih contoh N. Gue lumayan deket sama N. Dia cowok, DAN UDAH PUNYA PACAR yang cantik banget nggak pake aja haaaaaaft. Dia juga baik walaupun kadang jahilnya nggak ketolongan. Bijak banget walaupun kepepet sekalipun! Dan humoris. Kalo lagi ada kesempatan bisa ngumpul (gue satu ekskul sama dia), gue sama dia pasti ngambil kursi paling belakang dan ndengerin yang lain pada adu pendapat. Nanti kalo ada yang memulai pertikaian, biasanya dia cuma ketawa dan memberi tahu pandangan-pandangannya ke gue.

Lalu suatu hari pas ada rapat ekskul, dia cerita ke gue..................................
N: Gue mesti balik, hari ini gue harus ke Tebet.
G: Oh, ya? Mau ngapain ke Tebet?
N: Mau ketemu bokap gue
G: ...
N: Lo nggak tau ya? Orangtua gue cerai.
G: ...
N: Jadi ada waktu-waktu tertentu dimana gue ketemu nyokap dan ketemu bokap. Nah hari ini
     jadwal ketemu bokap.
G: ... *speechless tingkat langit ketujuh*

Oke, mungkin gue agak lebay ya. Kasus perceraian dengan anak mereka akhirnya terombang-ambing antara harus sama bokap atau nyokap begitu kan sudah sering dan banyak terjadi. Tapi yang bikin gue agak down itu.... pembawaan si N ini.

Gue melihat bahwa dia pintar (apalagi tentang gadget teknologi udeh nggak usah ditanya), dia punya pacar, bijak banget, humoris, kepala dingin kalo lagi kena masalah padahal punya latar belakang yang lumayan rumit. How can...?

Sementara di lain sisi, gue nggak kaya gitu. Dulu gue selalu mengungkit masalah gue. Dan akhirnya pembawaan gue bener-bener nggak enjoy. Ada masanya gue rutin di panggil BK dan gue inget dulu gue cuma punya enam temen di tingkat menengah pertama. Selebihnya mungkin cuma kenal nama dan wajah.

Makanya gue berusaha maksimal supaya gue punya identitas baru di tingkat menengah ke atas walaupun gue mesti berbohong untuk menutupi status gue (yang mana gue tahu kalo gue bohong itu berarti gue membohongi diri sendiri karena orang yang gue bohongi itu nggak tahu kalo gue bohong). 

Dan rupanya, di tingkat menengah atas ini gue juga di pertemukan dengan orang-orang yang latar belakangnya hampir mirip sama gue, macem si N ini, dengan pembawaan yang lebih normal (malah ada yang selalu terlihat ceria!) sehingga gue bisa belajar.

Belajar membawa diri dengan normal juga, dan memahami bahwa yang punya masa lalu buruk, nggak cuma gue doang, serta berusaha menerima kenyataan, bahwa yang sudah terjadi tidak bisa kembali lagi. Untuk itu, gue akan terus belajar supaya jadi orang yang nggak terbayang-bayang masa lalu.

Mungkin masa lalu yang buruk karena orang lain memang tidak bisa diubah, tapi lebih baik bila kita belajar dari masa lalu tersebut untuk menyiapkan masa depan kita.

No comments:

Post a Comment