22.3.13

Log-Lim

Aku menatap menengadah ke langit malam yang berawan. Ada bulan, beberapa bintang terang, dan Jupiter yang buram tertutup tipis awan. Malam itu cukup berangin untuk menerbangkan tubuhku yang sedang flu berat hampir demam begini. Bahkan mungkin sepertinya cukup untuk meniup susut-sudut pikiranku yang berdebu hingga mengebul.

Dalam opiniku, Sin agak sedikit aneh. Memberi jarak sedemikian lebar setelah lagi-lagi baik padaku. Langsung offline ketika aku baru online. Sedemikian singkat jika membalas pesan. Tidak lagi berusaha keras untuk mengungkit apapun mengenai apa yang harus kubayar.

Mungkin, aku akui, aku sedikit ketergantungan padanya. Dari dulu hingga kini. Satu-satunya orang yang hafal benar seberapa bodohnya aku untuk masalah hitung-hitungan, satu-satunya juga makhluk paling sabar sedunia, satu-satunya yang menawarkan kertas ulangan disaat terhimpit, satu-satunya orang yang menyuruhku mengambil kertas tugasnya dikala dia tahu bahwa aku belum selesai dengan tugas itu. Dia satu-satunya orang yang tahu seberapa keras kepalanya aku.

Aku juga ketergantungan padanya untuk beberapa hal yang tidak bisa kumengerti. Tapi.... berdasarkan yang sudah kujabarkan, dia juga ikut berperan dalam "ketergantungan"-ku ini, kan?

Tapi sungguh, hanya itu. Hanya sebatas itu. Tidak lebih. Aku tidak menyukai Sin seperti halnya aku menyukai Log. Tapi mungkin, Sin punya pendapat sendiri.

No comments:

Post a Comment