Aku kembali lagi. Masuk ke dalam ruangan bercat kuning gading itu lagi. Menemukannya lagi, duduk di tengah ruangan, di kelilingi beberapa perempuan yang tampak antusias memandangi layar laptopnya. Rambut landaknya lebih rapi dari pada terakhir kali aku melihatnya. Well, sebenarnya aku melihatnya sekilas saat ia masuk ke kelasku, tapi tidak memperhatikan potongan rambutnya.
Dan keadaan jadi lebih tegang. Atau aku yang membawanya terlalu tegang? Ya. Takdir. Senin ceria yang kulalui bersama teman sebangkuku mendadak lenyap. Aku jadi ingat, tadi pagi saat aku tidak bisa berhenti tertawa, kukatakan padanya, "Jangan-jangan pulang sekolah nanti gue nangis lagi, habis dari tadi gue ketawa mulu."
Itu yang terjadi. Aku mungkin menangis, tapi dalam hati. Hex dan aku memutuskan untuk pulang bersama, tapi kemudian ada Mar...... dan Log. Mengapa harus Log? Dan ketika ia pergi ke kantin untuk menukar uang, mengapa aku ikut saja? Mengapa aku tidak berjalan kearah gerbang dan pulang sendirian ketimbang harus terjebak di angkutan umum bersama Log? Mengapa aku mengiyakan saja saat Log minta di tunggui karena ingin ke toilet? Mengapa aku membantunya saat ia memakai jaket?
Dan sialnya lagi, Hex ternyata mau pergi dan satu angkutan dengan Mar.... itu artinya Hex tidak pulang bersama Log dan aku.
Hari berhujan. Itu sebabnya mengapa Log memutuskan untuk memakai jaket. Dulu itu aku pernah melihatnya nekat menembus hujan yang amat lebat hanya dengan jaket yang tadi berada di genggamanku itu, jaketnya tipis sekali dan berwarna hitam. Log memintaku untuk memberhentikan angkutan umum, "Gue nggak kelihatan," katanya. Setelah aku lihat, Log tidak memakai kacamata bututnya itu.
Dan ketika aku mengambil tempat di belakang supir... "Geser, geser. Itu tempat favorit gue."
Dari pada lama-lama, aku geser saja, karena sang supir tidak kunjung melajukan mobilnya sampai semuanya duduk. Dulu, tempat di belakang supir itu justru tempat favoritku, sementara tempat favorit Log itu di kursi kecil di depan pintu atau memojok di belakang.
Seperti biasa, mengobrol singkat. Tapi yang ini benar-benar singkat. Log bertanya mengapa aku tidak datang ke sebuah festival besar, Log bilang, tidak mungkin aku tidak tahu. Aku memang tahu, tapi aku sedang malas pergi kemana-mana. Log kemudian bertanya tentang praktek yang hasilnya seharusnya di kumpulkan minggu ini. Dan aku menjawab sekedarnya. Ya atau tidak, berikut penjelasan singkat. Setelah aku tidak menjawab, ia sesekali menatapku. Dan kemudian...... Log tidur.
Yah, wajahnya damai, dan ia terbangun tepat ketika aku ingin membangunkannya. Sudah dekat dengan tempat dimana dia biasanya turun. Ia melepas jaketnya dan menjejalkannya kembali ke dalam tas. Aku agak heran mengapa, padahal di luar hujan masih lumayan deras. Tapi aku tidak bertanya.
"Gue duluan ya, dadah!" ujarnya.
"Yo, hati-hati nyebrangnya."
Dan sepanjang jalan, aku mungkin agak menyesali mengenai sikap diamku tadi. Tapi bagaimanapun juga, aku bersyukur karena aku diam.
"He had got me holding on to nothing, and nothing is all I've got. But now I'll admit, that I'm never changing who I am."
No comments:
Post a Comment