17.5.13

my sadness of the day

Ada nada violin yang gelap, yang sejak kemarin menghantui isi kepala. Tak mau pergi dari sana, buat si pemilik kepala jadi berwajah suram. 

Ia pulang dengan hati yang lelah. Seperti biasa bertemu dengan yang terkasih, tapi yang tak terkasih.

Namun, sang terkasih yang tak terkasih itu tidak dalam kondisi yang seperti biasanya. Sang terkasih yang tak terkasihi memutuskan untuk pergi. Ia jadi sedih, ingin membantu sang terkasih yang tak terkasih, tapi Ia tak tahu caranya.

Rasa yang telah lama hilang, kini kembali. Rasa sayang dan rasa memiliki. Ia jadi mengutuk dirinya sendiri karena yang dipikirkannya selama ini hanyalah dirinya sendiri. Ia jadi tersadar betapa egois dirinya, namun sang terkasih yang tak dikasihinya itu rela menemaninya.

Ia bagai masuk ke dalam lembaran buku lama. Di sana, dilihatnya sang terkasih yang tak dikasihinya itu mendekatinya, berusaha menenangkan hati gundahnya, namun Ia malah dengan tega berpura-pura seolah sang terkasih yang tak dikasihinya itu tak ada. Saat sang terkasih yang tak dikasihinya itu tertawa di sampingnya, dan yang Ia lakukan hanyalah memarahinya. Dan ketika sang terkasih yang tak dikasihinya mengangis tersedu, yang Ia lakukan hanyalah mengusirnya.

Ia jadi menyesal, mengapa selama hidupnya, tidak Ia berikan kenangan yang manis untuk sang terkasih yang tak di kasihinya.

Dan di saat terakhir di mana sang terkasih yang tak terkasihi akan pergi, Ia sedih setengah mati.

Dalam hati, Ia bertanya pada dirinya sendiri, "Mengapa ketika yang sang terkasih akan pergi, aku baru merasakan rasa sayang yang amat dalam untuknya...?"

Pertanyaan itu tak terjawab. Bahkan sampai sang terkasih yang tak terkasihi pergi darinya.

No comments:

Post a Comment