Ya. Sepertinya kini aku sudah bebas lagi! Tanggal berapa ini...? Mungkin bulan depan aku akan membuat pesta satu bulanan berhasil "get out", "move on" dkk, etc.
Aku sudah cukup... apa bahasa tepatnya? Muak? Aku tahu aku sudah menjadi orang bodoh untuk kedua kalinya--merelakan sesuatu yang seharusnya bisa menjadi bagian dari diriku. Yang pertama mungkin masih bisa disesali, karena aku merelakan kesempatan sekali seumur hidup dalam suatu olimpiade. Tapi yang kedua ini.... hanya Log. Demi Tuhan, memangnya hidupku akan berakhir pada seorang Log?
Dalam kenyataan yang kusimpul sendiri, Tan kini mengikuti tiap jengkal aktivitas Log, sementara itu Log sendiri sedang dekat dengan salah seorang temanku. Well belakangan ini aku memang harus menggigiti bibir untuk melihat semua itu, tapi dalam hati sebenarnya aku tertawa. Apa yang kulihat bahkan lebih ironis dari pada "diam-diam melihat gebetan lo yang lagi melihat gebetannya diam-diam." Tidak, oh, tidak. Ini lebih ironis.
"Gue diam-diam melihat sahabat gue yang diam-diam ngeliatin gebetan 'kita' sama gebetannya."
Terharu, ya? Entah mengapa aku terharu.
Tapi aku memang sudah rela, lagi pula Log bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang sudah berhasil memberiku satu lagi kenangan lucu dalam hidupku tepat sebelum aku pergi.
Dan aku ingat, sore itu. Sore itu yang membuat otak, hati, dan logikaku jadi jungkir balik, koprol, skipping, swimming, dll. Sore itu yang membuatku tertawa cekikikan dalam hati tanpa henti. Sore itu yang membuatku untuk ikhlas agar semuanya tidak berbuntut panjang.
That afternoon, I saw everything. You sat alone, because he played her a song.
No comments:
Post a Comment