9.4.13

Log-Lim

Aku tidak pernah merasa sedemikian... entah bagaimana menjelaskannya. Cemburu? Iri?

Sebelumnya aku tidak pernah merasakan desakan egoisme yang begitu kuat sampai-sampai bisa meledakkan suatu bagian dalam dada. Menderu tak karuan ketika akhirnya kuhabiskan coklat dalam genggaman dan segera menyambar tas untuk pergi. Tak kuat lagi berlama-lama.

Aku egois? Ya. Cinta, sayang, apapun itu, sudah berhasil membutakan mata hatiku. Aku sudah tidak kenal lagi siapa itu Tan. Aku tidak tahu siapa lagi yang salah. Aku yang terlalu egois, atau Tan yang terlalu agresif? Aku tidak tahu.

Aku tidak pernah merasakan perasaan yang sedemikian sedih. Menghela nafas sendirian di sudut ruangan. Mematikan ponsel dan tidak mau tahu apa isinya. Aku egois? Ya. Bahasa jahat-nya mungkin seperti ini: untuk apa aku tetap menjadi kambing bila aku bisa menjadi burung? 

Untuk apa aku tetap diam dan bergeming sementara aku tahu aku terluka? Untuk apa setiap hari aku tersenyum tetapi hatiku hancur? Untuk apa tiap waktu yang kutunjukkan hanyalah bentuk lain dari penyangkalan?

Semakin kesini, aku semakin menyadari bahwa aku tidak butuh banyak teman. Aku bahkan tidak perlu mencari banyak teman lagi. Tapi yang aku butuhkan, adalah teman sungguhan. Bukan teman yang cuma ada bila aku senang, dan ketika aku jatuh malah ditertawakan.

Aku tidak mengerti mengapa aku harus berhadapan dengan segala sesuatu yang rumit. Atau memang sebenarnya akulah yang membawa ini semua jadi rumit? Tapi aku tahu jalan untuk kembali lagi.

Kini... sepertinya sudah amat jelas. Begitu keras Tan mencoba, menjadi alasanku menangis dalam hati. Dan aku berjabat tangan lagi dengan rasa sakit, karena tanpa itu aku tidak akan pergi.

No comments:

Post a Comment