19.5.13

Log-Lim

Aku jadi teringat kejadian beberapa minggu lalu. 

Aku punya teman dekat... dan sudah bisa di tebak layaw--" Jujur, aku hanya menganggapnya teman, tidak lebih. Tapi, mungkin dia tidak beranggapan sama denganku.

Jadi saat itu, ketika aku hendak pergi ke tempat lain (saat itu aku memang sudah ada urusan di lain tempat), dia memintaku untuk duduk sebentar dan mendengarkan lagu yang saat itu jadi lagu favoritnya. Aku sempat menolak karena selain waktunya mungkin tidak akan cukup, juga ngeri akan lirik lagunya. Tahu, kan, lagu jaman sekarang kebanyakan tentang apa...

Tapi ternyata lagunya enak, karena kebetulan aku juga suka dengan penyanyi satu ini. Tapi tidak terlalu update, jadinya tidak tahu kalau ternyata dia sudah punya lagu baru.

Setelah lagunya habis, aku langsung beranjak untuk pergi. Tapi lalu kembali lagi, dan bertanya pada diri sendiri sambil mencoba mengecek isi kantong, "Kok rasanya ada yang ketinggalan, ya?"

"Hati gue belom lo bawa, Lim."

What.the.what?

Karena saking dekatnya, aku jadi tahu. Mustahil ia melontarkan hal-hal seperti itu untuk bercanda, karena sebelumnya, ia tidak pernah jahil. Aku bisa memastikan hal itu. Lalu terputar kilasan-kilasan memori yang jelas dalam kepala. Tapi aku tidak bisa mengklarifikasi kebenaran akan kesimpulan yang aku terik sendiri itu. Sebelum aku berbalik untuk benar-benar pergi, aku menatap wajahnya yang datar memperhatikan layar ponselnya.

Sepanjang jalan, yang kuingat hanyalah sebait dari lagu tadi, "Just give me a reason..."

Sial.sial.sial. Secara tidak langsung, ia tahu kalau aku dulu menyukai Log. Dan sebelum aku mendengarkan lagu itu, aku sempat bercerita pada temanku yang lain bahwa aku ingin move on pada seseorang (walaupun kenyataan berkata bahwa seseorang itu PHP-nya lebih tingkat tinggi dari Log). Dan ketika aku bercerita, ada dia disana. Berarti secara tidak langsung dia tahu..... ya, kan...?

***

Dan baru Jumat kemarin aku bertemu dengannya lagi setelah tragedi awkward itu. Aku tidak punya banyak waktu untuk bertemu dengannya, dan ternyata setelah aku telusuri, ia habis pergi ke suatu tempat, dan bahkan membawakanku oleh-oleh... tapi aku tolak.

Saat ia mau cerita ini itu, aku harus... lagi-lagi pergi, karena sesuatu. Padahal ia sudah memintaku untuk duduk sebentar. Lalu temannya datang (aku tidak terlalu dekat dengannya walaupun saling kenal), dan berkata, "Temenin dulu lah, Lim. Kasian, kan, dia kangen sama lo di sana." (Maksudnya di sana itu di tempat ia pergi kemarin).

Tapi saat temannya itu bilang seperti itu padaku, ia menatapku penuh makna, sambil tersenyum tipis. Sial.sial.sial. Jadi ini sudah fix...? Jadi kesimpulan yang saat itu aku tarik sendiri benar adanya...?

Satu-satunya hal yang saat itu ingin aku lakukan hanyalah sembunyi. Dan itu yang aku lakukan.

No comments:

Post a Comment