14.6.13

1 jam. 2 jam. 4 hari. ...

243 menit sebelum...
Saya mengecek handphone. Tapi tidak ada email atau pun pesan. Maka saya tinggalkan lagi.

185 menit sebelum...
Saya kembali mengecek handphone. Tetap tidak ada apa-apa. Sial, mengapa jadi begini?

49 menit sebelum...
Terlalu serius membaca buku jadi bikin lupa waktu. Kembali berkutat dengan handphone, nihil. Tapi online. Buat apa saya buka handphone ini?

34 menit sebelum...
Saya menyerah kepada keputusan gila saya. Kini kedua tangan saya mengepal keras sampai warnanya berubah putih. Melaju tanpa arah tanpa pikiran. Melawan arus, batu-batu, asap dan debu. Hanya berdasarkan alasan gila. Biar saja. Saya tak peduli mau dibilang apa.

Otak saya sedang berkabut, semua terlihat kabur. Berdentam-dentam banyak suara dalam telinga, yang campur baur dengan hiruk pikuk semesta.

Rasanya seperti ada yang ingin keluar dari dada, tapi yang di dalam dada pun entah mengapa rasanya seperti teriris, perlahan-lahan. Seperti ingin agar saya dapat mengenali rasa itu lebih dalam, lebih dalam lagi. Saya hanya bisa menghela napas.

Kalaupun tidak, juga tak mengapa. Biar saja ini jadi pelampiasan pertama, toh masih ada malam hari.

7 menit sebelum...
Rasa lelah menghampiri. Keringat membanjiri. Meski begitu, rasa itu tak kunjung pergi dari hati. Malah makin menyakiti. Mengapa saya tak kunjung sadar bahwa kenyataan berkata ini? Mengapa saya masih tetap menyangkal bahwa kondisinya memang begini.

Kulepas jaket merah yang melekat pada kulit, lalu mengambil minuman dari pendingin. Mencoba menenangkan batin. Toh nanti bisa dilihat juga. Toh memang seperti ini seharusnya.

Sekarang...
Adzan maghrib berkumandang. Nyaring bersahut-sahutan. Saya masih menikmati minuman. Sambil menyusun kembali semua yang buyar barusan.

No comments:

Post a Comment