22.5.13

Log-Lim

Minggu ini absurd. Aku kembali dekat dengan Log... Rasa yang jadi abu kini tiba-tiba berubah jadi arang lagi. Aku juga bertanya-tanya mengapa bisa begitu.

Senin aku pulang dengan Log, Rabu juga pulang dengan Log, Kamis pulang dengan Log, Sabtu berangkat dengan Log. Kalau saja hari Selasa aku tidak harus pulang cepat, dan Jumat harus menghadapi tugas kelompok, pasti seminggu ini aku full pulang dengannya.

Belum lagi ditambah dengan chat yang dua hari ini membuatku menangis tidak karuan lalu tertawa histeris. Belum lagi ditambah suasana "awkward" saat Log tertidur diangkot dan aku harus membangunkannya, padahal ia duduk di depan temannya.

Ia berhasil menjungkir balikkan hatiku kembali, mewarnainya dengan kenangan manis lagi. Tapi kini tidak terlalu aku bawa serius. Lagi pula didasar hati yang paling dalam pun aku tidak ingin menjalin apapun dengan siapapun sampai masa pendidikanku berakhir.

Lalu... ada temanku yang aneh itu.

Minggu ini aku memang dekat dengan Log, tapi tidak dengannya. Mati-matian aku menghindarinya. Kata Ran, "Tapi ya jangan kayak orang jijik juga. Lo kalo mau ngejauhin ya pelan2, kasian tau:"".

Ya, karena bingung mau cerita kemana lagi, aku menumpahkan segalanya pada Ran.

Aku menciptakan karakter yang mudah marah dan emosian ketika ada dia. Mau bagaimana lagi? Sempat terlintas di kepalaku bahwa aku akan memanfaatkannya karena perasaannya itu padaku............ namun aku tidak mau jadi setega itu. Makanya aku menghindar sebagaimana mungkin agar dia berpaling dariku, mencari yang lain. Lebih baik begitu, kan? Daripada aku memberinya harapan palsu toh sebenarnya aku memang tidak memberi harapan apa-apa.

*******

Jadi minggu ini sebenarnya aku lebih banyak senang karena Log tiba-tiba jadi mau melihatku lagi, dan dengan segala bentuk perhatian aneh dan kejadian-kejadian lainnya. Tapi didasar hatiku yang paling dalam, aku turut sedih karena perilakuku yang absurd pada temanku yang aneh itu. Mungkin lebih kepada tindakan defensif yang refleks dilakukan otakku utnuk menghindarinya, karena aku ingin membuat ia benar-benar perpaling dariku...

"awas karma."

Diam-diam pikiranku berkata.

No comments:

Post a Comment