Cerita itu dimulai. Tepat ketika ia meletakkan tasnya. Makhluk kecil dihadapannya hanya menatapnya kosong, lantas dialihkannya lagi tatapan itu darinya. Tak lagi penuh pertanyaan maupun sorot menduga. Karena kini makhluk kecil itu kini sudah tahu jawaban atas pertanyaannya, bukti atas dugaannya.
Ia kemudian bersiap-siap. Memakai jaketnya, lalu membawa kembali tasnya. Ia mendadak sadar, makhluk kecil itu tidak lagi berapa dihadapannya, entah kemana makhluk itu pergi. Ia berjalan, agak tidak rela untuk meninggalkan tempat itu lebih awal.
Ia mengecek satu ruangan sebelum ia benar-benar pergi. Disanalah ia menemukan makhluk kecil itu.
"Kosong." ujar makhluk kecil itu. Ia melihat makhluk itu, namun tak menggubris, seperti biasanya. "Matikan saja lampunya," ujar makhluk itu lagi sambil lalu.
Tapi makhluk itu tidak benar-benar pergi, menatap langkahnya menjauh dari tempat itu. Merekam rupanya yang kian mengecil karena jarak yang terbentang, lama-kelamaan hilang ia dari pandang. Belakangan makhluk itu mengetahui bahwa ia tidak mematikan lampu ruangan itu.
Tak ada lagi yang perlu diharapkan, makhluk itu mengesah pada dirinya sendiri. Kini saatnya untuk makhluk itu meninggalkan tempat tersebut.
Angin makin ganas. Awan makin gelap. Suasana makin dingin. Akhirnya hujan. Bunyi air terdengar bergemericik, jatuh dan menghantam segalanya.
Untungnya makhluk itu naik kendaraan beratap, terlindung dari hujan diluar. Dilihatnya kaca jendela disampingnya. Air hujan perlahan merambat turun. Membiaskan lampu jalanan menjadi ratusan titik-titik kecil cahaya. Seperti kepergiannya yang membiaskan segala rasa dalam dadanya.


No comments:
Post a Comment