Aku kembali lagi (lagi-lagi), pada ruangan bercat kuning gading itu. Tak bisa menahan kuasa untuk tidak datang kesana, padahal sekedar melongok ke dalam lalu pergi lagi. Aku rindu pada ruang peralatannya yang kadang sering di pakai oleh "Wifi Hunter", julukan untuk para fakir wifi rsas2 dari Mar.
Dan aku juga salah satu dari Wifi Hunter itu, jadi... mungkin tak ada salahnya untuk mampir sebenta.....r.
Ada beberapa alasan mengenai mengapa aku jadi kurang nyaman berada di ruangan bercat kuning gading itu ketimbang di ruang peralatannya. Bukan, Log. Ada yang lain yang belum aku tahu pasti.
Ditengah kehidupan yang penuh tugas dan tugas tanpa henti, bisa dibilang.... jadi pemersatuku dengan Tan kembali. Mungkin yang dulu-dulu hanya aku bawa emosi, salah padaku juga. Dan Tan sekarang kepincut sama kakak kelasnya di salah satu lombanya. Dan...... aku juga rindu pada Tan, rindu pada laptopnya lebih tepatnya. Tapi sepertinya aku harus memakai laptop itu ditempat yang asing.
Dan kini bisa dikatakan bahwa aku dan Log mungkin jadi dekat lagi. Tapi aku benar-benar cuek jutek dan tidak peduli padanya. Hanya beberapa kata saja yang muncul untuk menanggapi cerita-cerita dan komentar-komentarnya mengenai kehidupannya.
Dan hari ini (lagi-lagi), Log minta di temani pulang. Padahal ia sedang menunggu gebetannya yang cantik jelita itu. Ketika gebetannya datang... aku jadi merasa tidak enak.
Diangkot.... ceritanya absurd. Log ketiduran, dan diangkot itu ada temannya Log yang sepertinya lumayan tahu banyak tentang korban-korban pehape-an Log--" Mereka sempat membahas mengenai alasan kenapa tadi Log berkunjung ke kelasnya. Setelah itu, aku tidak berusaha mengajak Log mengobrol atau semacamnya, jadi mungkin temannya itu menganggap aku tidak kenal dengan Log.
Dan............ oke, mungkin ini bagian terabsurdnya. Jeng jeng jeng jeng!!!
Log tidur.
Wajahnya ditopang tangannya, tangannya secara tidak sengaja mengangkat kacamatanya sehingga jadi di dahi. Pokoknya itu wajah jadi absurd se-absurd-absurdnya. Mau foto, tapi baterai handphone habis. Sial, padahal kesempatan emas.
Dan sampai dekat wilayah biasa dia turun pun, Log tidak bangun juga. Log duduk di pojok kanan angkot, sementara temannya itu persis didepannya, dan aku disamping temannya itu (jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya jadi temannya itu, beberapa menit yang lalu ia berbincang dengan Log dan menit berikutnya Log tidur dengan posisi seperti itu). Jadi... rada gimana gitu yah.
Tapi akhirnya aku paksakan untuk membangunkannya. Habis mau bagaimana lagi? Aku tendang beberapa kali kakinya, dan ketika bangun, dia berkata sesuatu tapi aku tidak mendengarnya. Antara bertanya mengapa aku membangunkannya disana, atau mengapa aku baru membangunkannya padahal sudah sampai disana.
Setelah ia turun... aku benar-benar tidak peduli mengenai penilaian temannya itu padaku, atau pada Log.
No comments:
Post a Comment