Pada pagi hari, hari Jumat, yang sebenarnya sudah tidak tidak terlalu pagi, sekitar jam 9.30, aku berpapasan dengan beliau di koridor. Kebetulan aku ingin mengambil paketku di satpam, sementara beliau baru saja datang. Sepertinya beliau habis berolahraga karena wajah dan tubuhnya berkeringat, beliau juga masih memakai kaos. Aku jadi merasa tidak terlalu berdosa karena masih memakai kaos juga setelah lari pagi. Sempat-sempatnya beliau menyapa, "Hai, gimana kabar hari ini?"
Aku hanya bisa mengacungkan kedua ibu jariku sambil tersenyum karir. Lalu beliau bertanya, "Tapi happy, kan?"
.
.
.
Saat aku hendak kembali ke ruangan, aku menemukan beanie beliau (yang lebih mirip ciput) tergeletak terjatuh di lantai, jadi sekalian saja aku bawakan. Ketika aku akhirnya masuk kembali ke ruangan, orang-orang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Mereka mengucapkannya karena aku membawa makanan untuk traktiran. Beliau terlihat bingung. Sejujurnya, sepertinya itu juga responku kemarin ketika beliau datang dan orang-orang mengucapkan selamat ulang tahun. Aku tidak menyangka ternyata tanggal ulang tahun kami benar-benar hanya beda sehari.
Tiba-tiba beliau jadi seksi sibuk, auto membantu aku membagikan makanan. Tapi beliau minta makanannya dua kotak. Aku tidak tahu apakah aku menyinggungnya atau tidak. Beliau tidak terlalu suka dengan kebiasaan traktiran atau semacamnya seperti ini. Padahal orang-orang di tim ini senang sekali membawa makanan untuk dibagikan, apalagi kalau ada momen seperti ulang tahun, merayakan keberhasilan pekerjaan atau keluarga, atau sesederhana habis bepergian dari luar kota atau pulang kampung. Ya, kemarin tidak ada perayaan apa-apa. Tapi semoga saja aku tidak menyinggungnya.
Tumben sekali, hari ini beliau banyak sekali komentarnya. Beliau tahu kalau aku akan ikut kegiatan trail run besok. Kegiatan ini kolaborasi antara direktorat kami dengan salah satu organisasi trail run dari salah satu universitas ternama. Makanya aku sudah membawa barang-barang dari hari ini sehingga aku bisa langsung pergi ke venue tanpa harus pulang dulu. Beliau mengomentari sepatuku, "Wih, orang lapangan emang beda, ya," begitu katanya sambil mengamati sepatu gunung yang kugunakan.
Lalu beliau unboxing racepack dan peralatan trail run milikku yang lain. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa beliau random sekali. Racepack itu berisi baju jersei, BIB, termos minum, dan tas. Sementara peralatan pribadi milikku ada tas running dan soft flask. Beliau menamat-namati jersei itu.
"Wah, ini jersei larinya, ya. Bahannya gini, ya."
'Ya... begitulah, Pak. Jersei pada umumnya.'
"Iya, jersei-jersei murah gitu, kan. Saya boleh minta ngga nanti? Buat dikasih ke temen saya yang suka ngoleksi baju trail run kaya gini. Kemarin dia minta ke saya." Gapapa banget, Pak, gausah spik buat Bapak juga gapapa asal dinas bulan depan ngga sama Bapak lagi, pikirku. Tapi jersei itu memang rencananya akan beliau kirimkan untuk temannya yang tinggal di kaki Gunung Merbabu. Katanya sudah sejak lama temannya itu suka ikut kegiatan trail run dan mengoleksi jersei dan medalinya. Lalu kami mengobrol sebentar mengenai temannya itu, yang katanya mahir penginderaan jauh dan pemetaan.
Tidak terasa sudah hampir menjelang waktu salat Jumat. Beliau bergegas ganti baju, bekerja sebentar didepan laptopnya sambil sesekali berbicara dengan dirinya sendiri, lalu berangkat salat Jumat. Setelah salat Jumat, beliau merapihkan mejanya lalu pergi keluar ruangan. Enak juga jadi ketua, masuk jam 10 cuma buat komen doang terus jam 1 udah entah kemana, pikirku saat itu.
.
.
.
Jarang sekali ada yang bertanya padaku "Are you happy?". Aku tahu beliau menanyakan hal itu padaku hanya karena out of politeness saja. Namun probabilitas untuk ditanya apakah aku bahagia atau tidak, terlebih lagi di hari ulang tahunku, peluangnya nyaris nol. Aku bahkan tidak bisa mengingat apakah ada orang lain selain beliau yang pernah menanyakan hal tersebut padaku, bahkan aku tidak ingat apakah aku pernah menanyakan hal itu pada diriku sendiri, "Are you happy?"
Pada akhirnya aku tidak ingat sama sekali apa jawaban yang aku berikan padanya. Namun aku masih terngiang kalimat beliau, "Saya ngga peduli metode apa yang kamu pakai untuk tetep happy, pokoknya kamu harus tetep happy."
Aku tidak bisa menyatakan apakah makna dibalik kalimat itu mengandung konotasi positif atau negatif. Terasa seperti out of politeness (lagi), namun juga terasa seperti perintah, disaat bersamaan juga sekaligus terasa seperti orangtua yang memastikan anaknya tetap senang dan tidak ingin anaknya sedih. Atau mungkin aku saja yang terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang sebenarnya hanya basa-basi.
Dunno, probably the most confusing, mixed feeling birthday in my life.
No comments:
Post a Comment