Aku rasa nggak akan ada hari dimana aku merasa tenang seperti hari ini. Tidak mendapat kesempatan memang, tapi entah mengapa plong. Sesenggukan masih ada sisanya dari setelah aku menangis tidak karuan tadi. Jam tujuh di sebuah ruangan bercat kuning gading. Setelah ada yang iseng mematikan lampu, aku langsung mencari Bin, dan menangis sejadi-jadinya. Mungkin masih ada yang lihat, aku tidak peduli. Aku mau minta maaf sama perempuan satu itu karena tidak mendengarkan kalimatnya, "Udah, keluarin semua unek-unek lo," sambil habis itu memegang tanganku.
Dan aku menyesal tidak mengeluarkan unek-unek itu. Sin sudah bilang kalau aku tinggal mendengerkan kata hati. Jadilah aku berdoa dalam sebuah kesempatan, dan meminta yang terbaik. Pada akhirnya toh aku tidak juga membeberkan semuanya. Dua kakak kelas yang wajahnya tampak seperti malaikat itu benar-benar bisa membuat tangisku reda. Mereka salah satu dari alasan mengapa aku bertahan. Tolol memang. Ketika aku berbalik tampaklah Log, dan........ aku malu. Log melihatku menangis seperti ini. Tidak lama akhirnya kita semua meninggalkan ruangan itu dan pulang. Di depan gerbang, dua kakak kelas itu mengobrol sama penjaga sekolah yang mungkin hampir mengamuk karena acara tadi terlalu lama. Mau tidak mau aku menunggu dua kakak kelas itu juga. Tapi Log bilang, "Lim, ayo pulang," katanya. Walhasil aku tidak bisa dengan mudah menolak ajakan itu dan pamit pada kedua kakak kelas itu. Sebelum menyebrang, Log bertanya, seakan tidak ada hati.
"Ngapain deh lo bikin acara tambahan kaya gitu?" ah, apa dia benar-benar menungguku? Harusnya ia bisa langsung pulang saja, kan, tidak perlu dingin begini.
"Tekanan batin," jawabku sambil sesenggukan. Wajahku pasti masih merah.
Saat aku dan Log menyebrang, kakak kelas itu juga ikut. Dan akhirnya kami berempat pulang bersama. Malam ini juga, aku mengetahui secuil informasi berharga. Dimana akhirnya aku bisa menerima kenyataan dan menerapkan semua kata-kata Log.
No comments:
Post a Comment