"Lo tau nggak sih ekspresi Log gimana?" tanya Uni.
"Yaampun! Dia tuh sampe SMS gue, "TAN" gitu," timpal Tan.
Aku hanya duduk kalem disamping Sin yang kakinya berkali-kali mengenai punggungku. Bukan maksud over juga, sih. Tapi ini sudah lama. Tan sahabat yang paling aku percaya. Tapi, karena semua di dunia ini punya kekurangan, termasuk diri ini juga, tentu Tan juga punya kekurangan yang bisa kunilai dari sisi pandang diriku. Terungkap lagi karena Tan keceplosan.
Aku ingat dulu Log sering sekali bilang padaku, "Ayo, Lim, kita pulang," ujarnya. Ketemu aku dikantin pun sempat-sempatnya mengajak aku pulang bersama. Tapi sejak ada Tan, kalimat itu berubah....
"Ayo, Log, pulang," dan itu berasal dari Tan.
Bin pernah bilang langsung ke Log, "Lo PHP banget, Log. Dari dulu lo PHP," di kondisi sedang bercanda. Hanya ada aku, Log, Bin, serta Sin yang sedang berduaan dengan adik kelas. Aku pikir Bin hanya bercanda, tidak, kalimat Bin benar dan sudah kubuktikan. Memang, sih, Bin tidak tahu kalau ternyata aku tertarik dengan Log, hanya Tan. Tapi Tan....
"Gue habis di MT-in sama sahabat gue, dia jalan sama orang yang gue suka" curhatku pada Hex. Setelah Tan cerita padaku dia habis selesai jalan dan makan bersama Log.
"Yah, lo nggak bisa berkutik juga, toh? Dia bukan pacar lo dan sahabat lo juga berhak jalan sama dia, ya, kan? Jangan ambil pusing," saran Hex. Ya ampun. Betapa dulu aku selalu dapat nasihat dari Log, betapa dia benar-benar berhasil menyentil hati nuraniku yang paling dalam untuk membuka mataku mengenai permasalahan yang sedang kuhadapi. Untung, sekarang ketika aku menghadapi kondisi aneh dengan Log aku masih punya Hex, yang entah kenapa bisa bijak saat itu.
Belakangan ini, ketika aku dan Log punya kesempatan bicara, Log selalu bertingkah aneh.
"Lim," panggilnya, otomatis aku menoleh. Aku punya ciri khas dimana ketika seseorang mengajak aku bicara, aku pasti selalu menatap mata orang yang mengajak aku bicara. Dan ketika aku menoleh, aku menatap matanya, dan Log selalu lama membiarkan aku terjun ke dalam pekat warna matanya sebelum ia berbicara mengenai topiknya. Terakhir kemarin pagi di angkutan umum. "Lim," panggilnya. Aku menoleh lagi dan menatapnya. Lama sekali sampai batas "fifty meters to the end" dan aku mengingatkannya, "Awas kelewat," dan langsung membuang pandang. Disitu ada Hex juga.
Sekarang, aku menengadah ke langit malam, menatap bulan yang tertutup awan tipis. Menjadikannya agak sedikit buram. Bayangan Tan dan Log mengganggu pikiran. Aku mungkin dulu pernah bilang, "Nggak mungkin kan gue galau terus makan chacha crispy sambil denger lagu jazz atau ngerjain matematika dasar sambil dengerin lagu orkestra?" Kini aku melakukan hal itu.
No comments:
Post a Comment