8.10.12

Log-Lim

saya harap hanya bulan saja yang terlalu mengerikan tuk jadi nyata malam ini. saya harap hanya langit yang terlalu kelam tuk jadi tambahan hari ini. saya harap tak ada lagi warna abu-abu yang begitu ambigu menghiasi. berada dalam realitas yang sulit diterima nurani.
20.17 p.m. jalanan benderang, kaya dengan segala lika-liku malam hari kota besar. telusuri tiap senti aspalnya yang berdebu. menghabiskan tenaga, kayuh sepeda tanpa tahu tujuan akhir. makin jauh makin kuat kaki mengayuh. antara murka atau menambah dosis kesabaran yang kini mulai habis. mengenang memori yang lewat sekelebat. memori kejadian sore tadi.
bercerita tentang hati tak akan pernah ada ujungnya. apalagi kalau ego di kedepankan. ego jarang kenal kawan, hanya diri sendiri yang di mau. rasa tak selalu benar. apalagi kalau terlalu banyak di tumpuk, sampai busuk. seperti sampah, makin lama di tumpuk makin busuk, makin besar tekanannya. suatu hari pasti meledak.
jalanan kota ini kini tampak lengang, sepi sudah malam. gulita menyelimuti kala tak ada kendaraan lewat. tinggal lampu jalanan dan gedung yang tuntun kaki yang kini punya arah. saya harap saya seperti kaki saya yang kini punya arah untuk pulang, bukannya luntang-lantung seperti mengemis pada sebuah ketidakpastian hati seseorang disana yang jelas tak berpihak pada hati saya.

No comments:

Post a Comment