4.3.13

Log-Lim

Senin.... Jadi sekarang hari Senin, ya? Pantas sial.

Senin juga dimana aku dan teman sebangku dapat jatah duduk di bagian belakang kelas. Senin juga yang mengirim entah pasukan apa dari mana yang mendatangkan bebauan aneh; hari ini bau bangkai tikus dan semilir aroma ikan asin --"

Senin juga yang mendadak menghancurkan semangat jiwa raga untuk belajar limit trigonometri, untuk membantu seorang guru yang belakangan keadaannya memang tidak fit. Orang-orang di ruang guru membicarakannya, tepat ketika aku sedang ulangan susulan.
"Kasihan dia, wajahnya pucat dari pagi," celetuk seorang guru.
"Iya! Tadinya katanya dia lagi istirahat ya?" timpal guru lain.
"Ah, aku tengok dulu deh, takut ada apa-apa," ujar guru satunya sambil keluar ruangan.

Yah.... pupus sudah semua rencana. Dan akhirnya aku memustuskan untuk datang ke ruangan bercat kuning gading itu.

"Lim, ini bagian kamu, kerjain sama Kim ya, nak," guru itu langsung memberiku setumpuk kertas. Kim dan aku segera mengambil tempat dibawah kipas (tempat favorit, atau kalau kata Bin: tempat surga). Lalu Mar datang dan memilih untuk bekerja bersama Kim dan aku. Kemudian datang Log yang juga membawa setumpuk kertas dan duduk di meja yang sama. Aku sudah memasang wajah "ngapain lo disini" tapi sepertinya Log tidak mempedulikannya. Ia malah bergabung dengan Kim, Mar, dan aku. Lalu ada Tan.

Sepertinya bisa ditebak, ya? Kita bertiga kemudian pulang bersama ketika adzan magrib sedang berkumandang. Menyebrang jalan raya ditengah gerimis yang mulai deras. Dan di angkutan umum itu hanya berlima; kita bertiga, sang supir, dan penumpang di depan. Seperti biasa, aku mengambil tempat di belakang supir sementara Log di pojok kanan angkot dan Tan ikut duduk di seberang Log, pojok kiri angkot.

Membicarakan sedikit tentang tugas...
L: besok ada pr, Tan?
T: bahasa inggris yang buat kalimat
A: yang dari kolom B itu kan?
T: iyaaa!
L: halaman berapa?
T: lupa, nanti gue sms aja
L: nggak usah, nanti gue minta BBM-in yang lain aja

Kemudian tak lama Tan turun. Dan Log mengajakku mengobrol. Aku hanya menjawabnya tanpa melihatnya. Ketika ia berkata lagi, dan aku menoleh ke arahnya, tiba-tiba ia sudah berada disampingku. Akhirnya karena kaget, aku tertawa. Log juga ikut tertawa tapi segera memperlihatkanku sebuah foto. Foto paus. Kenapa paus lagi? Aku juga mempertanyakan hal yang sama.

Disana terpampang foto paus yang besar sekali dengan seorang juru foto di depannya (jadi bisa dibilang, si juru foto itu seperti perbandingan besarnya si paus tersebut), di laut yang terbilang dangkal dan airnya jerniiih biruuuuu banget! Aku terlalu mengagumi warna biru yang dominan itu, dan baru sadar bahwa justru paus dan juru foto itu yang sebenarnya objek utama foto itu.

Baru sebentar melihat foto itu, Log harus turun. Dan dia harus menyebrang jalan lagi. Kalimat itu kemudian refleks terucap, "Hati-hati nyebrangnya,". Log berterimakasih dan turun dari angkot. Lalu melambaikan tangan sambil menatapku.

Setelah angkot kembali melaju, hatiku serasa hanyut di tengah laut.

No comments:

Post a Comment