3.5.26

Hello 2026!!

Waw sudah lama sekali sejak gue terakhir nulis disini. Bahkan gue melewatkan ritual tahunan nge-list "pencapaian" apa saja setahun kemarin. Hahaha. Yowes kita list dulu, deh, ya sembari back up memory nih.

  1. Masih mengawali 2025 dengan duka, tapi kita semua perlahan bangkit
  2. Ikutan Soekarno Run bareng bu-buibu dari RKK
  3. Ngga dilanjut di RKK karena anggaran mereka diblokir, dialihin buat MBG. Yak, gue bersama 70rb tenaga yang dirumahkan karena MBG:)
  4. Kena banned Sh*pee karena berusaha menjual obat-obatan ii yang masih baru-baru WKWKW
  5. Aseupan-Pulosari-Malabar yang full kabut karena masih bulan Januari tapi maksa nanjak
  6. Random tiba-tiba Curug Cibeureum sama Ida dan Sodi
  7. Diselundupin jalan sehat World Wetlands Day sama buibu RKK
  8. Alhamdulillah masih lanjut kerja di pemprov
  9. Diajakin GH1 sama tim MPP gelombang 3 Jakarta
  10. Tiba-tiba banget umroh T.T ya Allah mau lagiiii
  11. Pulang umroh langsung naik perbukitan di Sentul pas puasa sama Martha, ketemu sama Abivictor
  12. Ketemu Kyrie, ternyata dia skrg mualaf(???) kaya mimpi bgt dengernya
  13. Tiba-tiba ikut acara anggota luar biasa Wanadri
  14. Ikut Sahur Run, ketemu orang cosplay Yesus T.T
  15. Ngajak bebi nanjak ke Halimun
  16. Nanjak ke Pangparang dan Lembah Tengkorak hmm not knowing gue bakalan bolak balik kesana sampe jadi warlok-___-
  17. Pulang dari Pangparang ada tragedi lagi dong WKWKW pertama kali naik mobil di towing
  18. Ngajak mepi ke Gede, tapi akhirnya cuma sampe Curug Cibeureum wkwk
  19. Ikutan Bogorun 10K gratisan dari buibu RKK
  20. Main ke Pulau Rambut sama Martha dan makan seafood oooiii senaaaank
  21. Akhirnya donor darah, dianterin Zeni wkwk
  22. Ikut malam renungan Wanadri di Jakarta
  23. Trekking ke Artapela dan mencari Gambung Sedaningsih
  24. Tiba-tiba banget jadi juri percobaan masak lapangan di GMC
  25. Ke Cisadon bersama Martha
  26. Gunung Pancar-Paniisan bersama Martha dan Diki
  27. Tiba-tiba banget diculik gerombolan 5 hari:') ini lah awal mula jadi warlok kampung pangli. Membelah pegunungan bukittunggul sampai ke bukanegara.
  28. Dieng Caldera Race 25K dan main ke Bismo yihaa
  29. Piknik ke UI bareng Zulfa dan Martha
  30. Trekking ke Rogojembangan, menyaksikan sunrise paling cakep di dalem hutan terus lanjut ke Sipandu WKWKWK
  31. Tiba-tiba jadi pemateri navigasi GMC
  32. AKHIRNYAAAA muncak juga ke Gede sama Bebi hahaha
  33. Pertama kalinya main di board game cafe(???) Seru banget???
  34. Bantuin Daffa bikin peta operasi untuk diklat dan ekspedisi hahaha
  35. "Nad, mau gabung jadi Komandan Navigasi?" "Nad, bisa bantu di kurikulum?" woaduh
  36. Jadi pemateri navigasi darat untuk mapala di Universitas Timor Lorosa'e T.T what an honor
  37. Trekking ke Sanggabuana bersama Marthaaa
  38. Selabintana-Putri bareng Zulfa dan Sodi. Asli sih ini mah random pisan wkwkw
  39. Illegal trekking ke Puncak Tangkuban Parahu, bahkan di Puncak Upasnya alesan ngga bawa duid biar ngga bayar WKWKW tydac untuk ditiru
  40. Loop Puntang-Sangar yang jalurnya beneran sesangar itu. Tydac untuk diulang lagi trims.
  41. Alhamdulillah kontrak kerja kedua
  42. Mencai peta AMS Second Edition sampe ke Perpusnas eh ternyata bisa didownload di NLA-_-
  43. Nemenin Martha galau nonton Juicy Lucy
  44. Dieng Trail Run dan main ke Pakuwaja bersama Marthaaa
  45. Survei ngider Kampung Pangli biar ada gambaran untuk diskusi bersama senior-seniorku
  46. Survei ngider Kampung Pangli lagi tapi sekalian nanjak ke Sanggara. Dikira baru turun sama penjaga pos pendakiannya wkwk karena 2 hari berturut-turut lewat situ.
  47. Pulang survei ngikut karnaval 17an dulu di Cibodas.
  48. Jadi pendamping regu Ragajiwa Camp
  49. Survei pertama GH menembus Bukittunggul-Bukanegara
  50. Jajan bunga sama Martha ke Rawa Belong
  51. Lari-lari di ladang Kampung Pangli (lagi)
  52. Donor darah (lagi)
  53. Menyesatkan senior angkatan TARA di kebon orang
  54. Jalan-jalan di Glodok mengembalikan Martha ke habitatnya wkwk
  55. Jadi petugas seleksi renang
  56. Melarikan diri ke Bromo meskipun itungannya DNF hahaha
  57. Puyeng banget perencanaan Navigasi Darat, masih ngurusin juga ekspedisinya Daffa hadeh tapi gapapa soalnya habis itu gue menyandera Daffa T.T
  58. Main ke Situ Lembang, menyaksikan ciwi-ciwi STIN lari-lari gapake baju di kamar mandi-_-
  59. Main ke Villa Wanadri(?)
  60. Ikutan event Ku Lari Ke Hutan dari Dadang, tapi yo Dadangnya ngga ikutan
  61. Udah mepet waktu ke lapangan, tambelan gigi malah copot T.T
  62. Tur GH yang sangatlah aduhai
  63. Main ke Panaruban. Kenapa ya Panaruban tuh vibes pohon-pohonnya cantik banget.
  64. Tiba-tiba dinas ke Lampung, main ke Way Kambas.
  65. Masuk rangkaian PDW, ikutan Long March 1 bener-bener kaya siswa lagi bareng Kak Jen.

Cuy ternyata seseru itu 2025 gue ya:')))

Tapi yah, balik lagi. Gue lagi semales itu nulis. Memang rasa-rasanya gue harus kembali nulis lagi, sih. Kepala rasanya lebih ruwet kalau ngga nulis, ya. Well, jadi kalau lagi ramai banget isi kepala, gue biasanya babbling uncontrollably sambil gue record di voice recorder. Sebenernya itu udah kebiasaan sejak 2019 karena kadang rasanya seramai itu kepala, tapi males nulis. Tapi kalau ngga ditulis nanti lupa:( Ya, begitulah.

Tapi... mari kita mulai lagi!

So, sebenernya gue lagi ngerasa down. Hahaha. Kalo lagi down aja, langsung nulis dan curhat kesini.

Barusan gue ngelihat salah satu kenalan gue pas kuliah, dapat podium dua trail run kategori 60K, di salah satu race yang paling beken pada masa kini. Terus gue down HAHAHAHA. Padahal gue tahu, dia tipikal orang yang "ngotot" dulu baru "ngotak". Tipikal orang ambisius yang harus dapet apa yang dia mau. And she got what she wanted. Agak konyol, sih, kalau gue mau ngebandingin diri gue sama dia. Tapi nyeseknya ada wei. Gue udah berkutat di dunia trail run sejak 2023, dan baru pernah podium sekali doang, itu juga di event komunitas kecil yang bisa dibilang saingannya tuh ngga ada. Setahu gue, dia terjun di dunia trail run ini baru banget, mungkin baru tahun lalu. Terus tahun ini dia udah bisa podium 2 kategori 60K tuh kan bikin gue:)

Heheheh gue ngga tahan dan akhirnya break instagram lagi for a while. Cemen? Iya.

Tapi akhirnya dia membuat gue jadi termotivasi juga. Kebetulan gue udah daftar juga trail run kategori 60K di bulan September nanti. Gue masih ada waktu untuk latihan:') Ya, semoga aja gue kuat wkwk:')

Btw gue emang kebanyakan main instagram juga, sih, belakangan ini. Mantau story orang-orang, atau ya doom scrolling aja berjam-jam. Semoga aja keputusan gue untuk break dari instagram ini bisa konsisten agak lama hehe biar waktunya bisa dialihin untuk kegiatan lain:(

Yaudah, gitu aja kali, ya:( gue mau lanjut bikin laporan lagi. Bye!

7.10.25

"why the long face?"

 "Why the long face?"

Manusia cenderung menginginkan hal-hal yang tidak bisa mereka miliki, yang tidak mampu mereka gapai. Seperti delusional. Seperti tidak sadar, dimana kaki mereka berpijak. Mendongak jauh ke atas, cukup untuk membuat leher mereka patah. Patah. Kadang hal-hal yang mereka inginkan itu, bisa jadi semangat motivasi. Tak jarang juga membuat patah hati yang terlalu berharap. Lalu lagi-lagi kecewa. Kecewa karena realita tidak bisa memenuhi ekspektasi.

Atau apakah yang aku rasakan ini hanyalah bentuk kelelahan berkepanjangan: mencari apa yang tak kunjung menemukan temu. Malah berujung pecah yang lain. Mereka bilang, tiap masa ada orangnya, tiap orang ada masanya. Aku tahu aku sanggup, namun semua butuh waktu. Semua butuh proses, tak terkecuali untuk sesuatu hal yang sudah berlangsung sangat lama.

Memang, pada akhirnya aku harus berdiri sendiri, dengan kedua kakiku sendiri. Pada akhirnya, aku hanya punya diriku sendiri. Kadang pikiranku berhamburan kian kemari, tatkala kakiku melangkah diatas jalanan desa sialan yang masih berbatu. Dan ketika kulihat kedua kakiku melangkah, aku kembali tersadar: aku hanya punya diriku sendiri.

23.7.25

brokenheart: dunia fana (1)

---sakit
aku bercerita pada sahabat baikku, kalau aku mau "menjodohkanmu" dengan perempuan itu. sahabat baikku hanya bertanya balik, "kamu mau menabur garam ke luka? sakit banget, lho."

sakit? entahlah, rasanya malah... kosong. aku akhirnya berhasil mengajak perempuan itu untuk bertemu denganku. lantas aku mengajak dirimu juga. aku yakin betul, kalau saja malam itu tak kusebut nama perempuan itu, kamu pasti tidak akan mau ikut pergi. melihatmu sangat bersemangat ketika aku menyebut nama perempuan itu... aku jadi semakin sadar bahwa aku benar-benar tidak pernah ada dalam daftar pilihanmu. pikiranku kembali melayang ke masa lalu ketika aku mengajakmu pergi dan kamu membatalkan sepihak beberapa jam sebelumnya.

dan kini, kamu bilang kamu ada acara kantor di hari yang sama aku akan bertemu dengan perempuan itu. namun kamu dengan mudahnya merelakan acara kantor itu. semua jelas terbaca.

aku belum memberitahu perempuan itu kalau kamu akan ikut juga, biar saja jadi kejutan untuknya ditengah-tengah pekerjaan dan masalah keluarganya yang agak rungsing.



---tawakkul
mereka bilang, "apa yang ditakdirkan menjadi milikmu, maka selamanya akan menjadi milikmu". maka aku juga mempercayai kebalikannya, apa yang ditakdirkan menjadi bukan milikku, maka mau kukejar sampai ke ujung dunia pun, tidak akan menjadi milikku. jadi sekarang tugasku sebagai manusia tinggal bertawakkal saja, berserah diri kepada tuhan. aku tidak semata-mata berserah diri begitu saja, aku sudah berusaha dan sudah berdoa juga. namun jika kamu memang bukan untukku, maka aku akan ikhlas menerima takdir tuhan ini.

mereka juga bilang, "bentuk tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan". Ikhlas dengan segala bentuknya. Ikhlas terhadap bentuk, ikhlas terhadap sikap, ikhlas terhadap keputusan yang dibuatnya, ikhlas melihatnya bahagia dengan yang lain. Ikhlas disini bisa bermakna banyak, bisa merelakan, bisa pengorbanan, macam-macam. Tapi intinya adalah menerima. Juga sebagai bentuk penghambaan terhadap tuhan yang maha kuasa, atas segala takdir dan ketetapannya.



---dunia fana
lagi-lagi, dunia fana. perasaanku padamu ini fana. sakit yang kurasakan ini fana, akan segera tergerus dengan waktu meskipun entah sampai kapan. setidaknya aku sudah mencoba berbagai cara agar kamu menemukan kebahagiaanmu itu. siapa orangnya, aku serahkan kembali kepada tuhan.

21.7.25

brokenheart: dunia fana

---nama perempuan itu
hatiku terasa gusar, tatkala nama perempuan itu terucap lagi dari bibirmu. entah sejak kapan, buatku dirimu seperti buku yang terbuka lebar, sangat mudah dibaca. ketika namanya disebut, matamu akan langsung berbinar: tertarik dan penasaran. dan aku tidak suka melihat itu. ketika kamu menyebut namanya, suaramu akan terdengar riang. dan aku tidak suka mendengar itu.

"kamu sudah tidak main lagi dengan [nama perempuan itu]?" kali ini suaramu rendah, namun aku tahu pasti apa intensimu menanyakan perempuan itu padaku.
'ah, aku sudah jarang kontakan sama [nama perempuan itu]' jawabku singkat.
"kemarin aku sempat bertemu [nama perempuan itu] di [sebuah acara]" sekarang ada seberkas nada riang. tipis sekali, namun aku bisa mendengarnya.
'oh, ya? bagaimana kabarnya?'
"[kamu menjelaskan, namun aku tidak mau mendengarnya. aku tidak mau tahu.]" kini aku mendengar ada sedikit nada kecewa, karena perempuan itu nampaknya masih sibuk dengan pekerjaannya. setahuku, perempuan itu memang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya, sangat profesional.

hatiku terasa gusar, tatkala mengingat pertemuan terakhirku dengan perempuan itu.
"kamu, mah, enak. masih ada [menyebut namamu] yang bisa diajak berdiskusi. aku ngga ada." ujar perempuan itu padaku. padahal saat itu, aku dan dirimu sedang tidak terlalu dekat. aku bahkan tidak menceritakan apa-apa padamu, aku hadapi semuanya sendirian. ada rasa sedikit lega ketika perempuan itu berpikir demikian. biarlah perempuan itu berpikir demikian untuk sementara.

di tiap kali pertemuanku dengan perempuan itu, perempuan itu selalu menanyakan kabarmu. di beberapa kesempatan, perempuan itu akan menceritakan jika ia bertemu denganmu. perempuan itu tidak menunjukkan rasa gembiranya ketika menceritakan itu padaku, namun aku bisa melihat semuanya. buatku, perempuan itu juga sama seperti dirimu: layaknya buku yang terbuka lebar, sangat mudah dibaca. pertanyaan-pertanyaannya yang diajukannya padaku tentang dirimu, aku tahu persis itu perasaan yang sama seperti yang kamu rasakan padanya. itu perasaan yang sama seperti yang aku rasakan padamu. aku tidak suka melihat itu. aku masih menginginkanmu.



---dunia fana
dalam agama kita, jika seseorang berhasil menjodohkan pasangan sampai menikah, maka seseorang itu dijanjikan pahala yang besar. apakah menjodohkanmu dengan perempuan itu patut kucoba? nampaknya kamu memang tidak pernah, dan tidak akan pernah, melihatku sebagai pilihan untuk menjadi pasangan hidupmu. dan aku juga sudah terlalu kasihan melihatmu terus gagal dalam hubungan asmara. dan aku terlalu kesal melihat kalian berdua yang sama-sama buta tidak bisa melihat perasaan kalian, baik masing-masing atau satu sama lain. seperti melihat dua orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.

tapi aku tidak munafik. aku masih menginginkanmu.

tapi aku tidak mau egois, aku ingin melihatmu bahagia. meskipun jika itu bukan denganku. dunia ini fana. perasaanku padamu ini fana. biarlah aku berperang denganku diriku sendiri. untuk apa Tuhan tiba-tiba memberikanku "wangsit" untuk menjodohkan kalian? apakah memang ini jalannya?

akan kucoba, segera.

20.7.25

toxic

Beberapa hari belakangan ini pekerjaanku sedang kosong setelah beberapa bulan digempur deadline, sepertinya itulah mengapa aku jadi merasa malas belakangan ini. Rasanya seperti ingin balas dendam bermalas-malasan setelah kerja rodi menyelesaikan target pekerjaan. Jadilah doom scrolling tanpa henti dan berakhir dengan scrolling media sosial milikku sendiri. Notifikasi pengingat memori dari salah satu media sosial yang kugunakan menjadi trigger-nya.

Toxic.

Itulah kata pertama yang muncul di kepalaku saat membaca post-post lama dari media sosialku. Malu sendiri. Tak habis-habis aku bertanya: "Kok dulu gue setoksik ini, ya? Kok bisa, ya, gue malu-maluin kaya gini?" Bahkan sampai kuliah pun, ternyata aku toksik untuk orang-orang disekelilingku, setidaknya itu kesan yang kudapatkan sekarang ketika membaca ulang semua jejak digitalku sendiri. Saking malunya, kuhapus semua yang memang memalukan. Ada beberapa yang masih tersisa karena aku masih belum kuat membacanya, saking cringe, pickme, dan sememalukan itu. Betapa sabarnya teman-temanku yang masih mau menjadi temanku saat itu, yang masih kuat menghadapi drama yang kubuat saat itu. Maaf, ya, teman-temanku. Terima kasih banyak sudah sangat bersabar denganku.

Astaga betapa memalukannya. Betapa aku menyakiti teman-temanku, berpikir bahwa saat itu aku yang paling benar. Astaga. Memang masa muda itu masa-masa banyak salah..... tapi, ya, ngga gini juga wei:')

Aku hanya bisa menghela nafas panjang, seperti bertemu dengan ABG yang benar-benar labil. Aku jadikan hal-hal memalukan yang kutemukan itu sebagai pembelajaran, agar aku tidak seperti itu lagi ke depannya. Ternyata, kebanyakan drama yang muncul justru karena diriku sendiri, karena aku tidak tahan emosi. Semua kulepaskan saja tanpa memperhatikan perasaan orang lain, tanpa melihat dari sudut pandang yang lain. Kepalaku penuh dengan pembenaran terhadap diri sendiri. Egois.

Memang itu yang kubutuhkan, menahan emosi dan menahan diri agar tidak terlalu banyak oversharing. Kadang informasi mengenai diri sendiri yang diceritakan terlalu rinci kepada orang lain, justru bisa jadi bumerang atau pemicu masalah yang sebenarnya tidak berarti. Cukup kembali ke setelan mendengar dan mengamati saja. Rasanya pasti akan sedikit melelahkan, tapi tidak apa-apa jika rasa lelah itu bisa mengantisipasi hal-hal bodoh yang akan aku sesali lagi dimasa mendatang.

Sejujurnya aku sedikit bangga pada diriku sendiri, setelah berkaca pada masa laluku yang sangat memalukan itu. Ternyata aku sekarang lebih baik. Mungkin memang belum terlalu baik, ada kalanya juga aku merasa tidak kuat dan sedikit melontarkan kata-kata, namun setidaknya aku sudah bisa mengontrol untuk tidak terlalu berapi-api. Atau bahkan aku malah tidak berkata-kata sama sekali, mengiyakan saja semuanya daripada aku menyakiti hati yang lain.

Menjadi dewasa tidak mudah. Memahami diri sendiri dan orang lain tidak mudah. Menjaga hubungan baik tidak mudah. Apalagi semakin kesini, temanku juga semakin sedikit. Orang baru memang berdatangan, tapi yang tetap tinggal bisa dihitung dengan jari. Aku tidak mau menyakiti mereka. Semoga aku selalu terus mau belajar untuk membuka mata dan pikiran, baik untuk orang lain maupun diriku sendiri.

8.7.25

kj

"Nad." Seseorang memanggil namaku. Namun semuanya terlihat gelap. Aku tidak tahu siapa yang memanggilku itu.
"Nad, Nad?" Seseorang itu masih berusaha memanggilku. Siapa? Ada apa?
"Nad, ayo piket." Seketika aku langsung mengenali suaranya tatkala mendengar kata itu: piket. Mataku langsung terbuka lebar, jantungku langsung berdegup kencang. Aku terbangun dari tidurku.
"Iya." Jawabku sekilas lalu melihat jam di tanganku. Hampir jam setengah tiga pagi. Aku ingat baterai ponselku habis, sehingga aku harus mengisi dulu dayanya. Paling tidak harus 2% agar bisa dinyalakan. Sialnya semalam aku sudah sangat lelah dan tertidur begitu saja tanpa sempat menyalakan ponsel itu, tanpa sempat membuat alarm. Jadwal piket kami sebenarnya dimulai dari pukul satu hingga pukul tiga pagi. Mengapa ia baru membangunkanku jam segini, setengah jam sebelum waktu piket berakhir?

Aku cepat-cepat mengganti kerudungku dan keluar dari sleeping bag yang hangat menuju udara malam di pegunungan yang dingin. Secepat mungkin aku bersiap, belum lagi harus memakai sepatu. Aku menoleh sekilas, ia sibuk saja memberi makan perapian dengan kayu-kayu untuk perapian. Mungkin aku terlihat grasak-grusuk karena kaget sudah jam segini, ia hanya berkata, "Minum dulu, Nad."

Aku menuruti saja kata-katanya. Toh memang seharian ini bisa dibilang aku tidak minum. Air di botol minumku hampir saja masih penuh. Padahal kegiatan kami lumayan berat: mendaki gunung. Sepertinya cuaca yang sejuk tidak membuatku merasa haus dan jadi malas minum. Pada malam-malam sebelumnya, aku juga memang lebih banyak minum saat piket. Minum air hangat di pegunungan yang dingin memang lebih enak daripada minum air dingin. Aku mengambil gelas dari meja di bivak dapur, lalu menuang air dari ceret yang ada di samping perapian. Aku duduk berseberangan dengannya, di depan perapian itu. Air dalam gelasku terasa panas, namun aku tetap menenggaknya sedikit demi sedikit.

Aku memperhatikannya selagi duduk menikmati air panas rasa kayu bakar itu. Ia menggosok arang yang menempel pada batang kayu perapian yang besar, merontokkannya sehingga kayu yang di dalamnya terbakar lagi. Lalu kesana kemari mencari ranting kering. Sesekali ia mengipasi arangnya agar apinya naik kembali. Sibuk sekali, pikirku. Waktu sudah menunjukkan sekitar 2.37 dan kami masih saja di depan perapian. Mengapa kita tidak langsung jalan kesana? pikirku, agak gusar. Air di gelasku habis, lantas kuisi kembali. Lalu aku menenggak isinya lagi. Lalu aku menatap ke perapian lagi. Gusar.

"Udah minumnya? Mau jalan?" tanyanya tiba-tiba. Akhirnya.
"Yuk." jawabku. Aku meletakkan gelasku tak jauh dari perapian.

Kami pun berjalan ke arah bivak peserta pelatihan. Jaraknya mungkin sekitar 300 meter dari area bivak pelatih, namun medannya sedikit berbukit. Setelah melewati tanjakan, ia berkata, "Nad, ada yang bangun."
"Lagi pipis, mungkin?"
"Lihat, ada dua headlamp yang nyala."
"Tunggu, deh, kok terang banget? Itu bukan lampu kampung?'
"Bukan. Eh, apa itu lampu tembak buat briefing kemarin, ya?"

Kami menghampiri cahaya itu. Ya, itu lampu tembak untuk briefing. Tergantung di dua pohon yang berbeda, menyinari lapangan tempat briefing. Mengapa tidak ada yang mematikan dan membawanya kembali? Sayang sekali baterainya. "Copot, Nad." ujarnya. Aku menghampiri lampu yang paling dekat denganku lalu melepaskannya dari ikatan ke pohon. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke area bivak peserta.

Ia menyalakan lampu tembak yang dibawanya untuk penerangan. Maklum, di malam ketiga ini, baterai headlamp kami sudah mulai menyusut, membuat cahaya headlamp kami menjadi redup. Lampu tembak itu pun sama, meskipun memang jauh lebih terang daripada headlamp kami, cahayanya juga sudah lebih redup dibandingkan saat pertama kali dikeluarkan dari tas sore tadi.

Area bivak peserta tidak jauh dari lapangan tempat briefing. Kami berdua segera mengecek masing-masing bivak dan peserta di dalamnya. Ada enam regu peserta, berarti ada enam bivak. Semuanya terlihat aman. Hanya saja malam ini berbeda, sleeping bag mereka diselimuti thermal blanket. Baru belakangan aku tahu, rupanya mereka membalik sleeping bag mereka. Thermal blanket itu adalah inner sleeping bag mereka. Entah siapa yang berkata, katanya kalau dibalik, akan lebih hangat. Makanya beberapa dari mereka menelan mentah-mentah informasi itu.

Setelah memastikan mereka semua aman, kami kembali lagi ke bivak pelatih. Aku membuntut saja di belakangnya, kembali menaiki tanjakan dan turunan. Sesampainya di area bivak pelatih, aku tidak langsung kembali tidur, aku duduk lagi di depan perapian. Kami sama-sama menunggu pukul tiga datang. Aku merasa canggung, karena ia adalah seniorku. Namun apa mungkin umur kami tidak terlalu jauh? Karena sudah tiga malam ini kami selalu dipasangkan untuk kegiatan pada waktu yang sama. Tapi aku memilih untuk bermain aman.

"Sibuk apa sekarang, Nad?" tiba-tiba ia bertanya, melihat aku yang melamun memegang gelas berisi air panas di depan perapian. Ia sendiri masih saja merontokkan arang dan memberi makan perapian. Sejujurnya aku tidak menyangka pertanyaan macam itu akan keluar dari mulutnya. Atau memang pertanyaan basa-basi itu ia lontarkan hanya agar malam itu tidak terlalu sunyi. Percakapan mengalir begitu saja. Aku menceritakan mengenai pekerjaanku. Situasi ekonomi yang tidak menentu yang membuat pekerjaan jadi lebih sulit dicari. Aku tidak bertanya balik mengenai pekerjaan yang dilakukannya, karena kukira itu tidak sopan. Bagaimana pun, aku tidak tahu pasti berapa jarak umur kami, dan aku juga tidak pernah terlalu mengenalnya.

Ia kemudian beranjak dari perapian, membangunkan senior lain, yang lebih senior dari dirinya, untuk melanjutkan piket sesi berikutnya. Seharusnya, bisa saja ia menyuruhku untuk membangunkan mereka, namun entah mengapa ia memilih untuk membangunkan mereka tanpa menyuruhku. Setelah salah satu dari dua orang yang dibangunkannya akhirnya benar-benar bangun dan duduk, ia kembali lagi ke depan perapian diseberangku. Kini ia hanya duduk, sesekali mendongak ke langit malam. "Cerah banget ya, harusnya kelihatan milky way. Pernah lihat milky way di gunung?"

Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Alisku naik dengan sendirinya, namun tidak ada kata-kata yang menghakimi keluar dari mulutku. Kami jadi membahas milky way: di gunung mana saja kami pernah melihat milky way dan kapan terakhir kali melihatnya. Rupanya ia juga suka langit malam. Rasanya aneh. Aku juga tahu ia suka sekali kucing karena pernah melihat status media sosialnya tentang kucing, bahkan foto profil media sosialnya pun bersama kucing. Kucing, langit malam... benar-benar tidak cocok dengan penampilannya yang terlihat agak keras. Atau mungkin memang aku saja yang tidak mengenalnya.

Senior yang tadi sudah bangun dan duduk, akhirnya berusaha membangunkan rekan piketnya. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 3.15 pagi. Ia memberitahukan kondisi terakhir peserta dan waktu keliling terakhir kepada senior itu, sebelum akhirnya bersiap-siap untuk tidur. Pertama kalinya dalam tiga malam ini, aku melihatnya tidur. Sebelumnya aku tidak pernah melihatnya tidur. Aku tidur saat ia masih terjaga merawat perapian, dan aku bangun saat ia sudah rapih di depan perapian. Ia mengambil matras dan sleeping bag dari ranselnya di bivak dapur dan menggelarnya di samping perapian. Oh, dia mau menggelandang, pikirku. Jika tidak tidur di bawah bivak, biasanya sering kami sebut 'menggelandang', ibarat tidak ada rumah. Aku memperhatikannya bersiap-siap istirahat, dalam sekejap ia sudah tertidur.

Senior sesi piket berikutnya akhirnya beranjak dari matrasnya dan ikut duduk di depan perapian yang kini hampir mati, hanya tersisa bara merah di dasar perapian itu. Sepertinya kini giliranku. Aku berjalan ke arah bivak tempatku tidur, lalu berkeliling mencari ranting yang agak banyak untuk menyalakan kembali perapian itu.
"Lah, Nad. Kirain tadi mau tidur," ujar senior itu ketika aku kembali dengan kayu-kayu yang lumayan banyak.
"Mau nyalain ini dulu, teh. Masih bisa nyala, kan, ya?"
"Bisa, masukin aja dulu rantingnya, baru nanti digeber (dikipas)."
Aku menuruti saja kata-katanya, dan syukurnya perapian itu menyala kembali, tidak hanya bara saja seperti sebelumnya. Aku gosok lagi arang yang menempel pada kayu perapian yang besar, agar apinya bisa membakar lagi kayu besar itu. Akhirnya aku pamit pada senior itu untuk tidur kembali. Paling tidak aku sudah berusaha menyalakan perapian itu kembali, meskipun aku tahu apinya tidak akan bertahan lama. Selamat tidur.

6.5.25

this is the last.

Padahal rencananya mau sampai ke puncak. Entah mengapa malah kemari lagi. Apakah ini salah satu hal yang ingin disampaikan oleh Tuhan padaku? Bahwa manusia hanya bisa berencana, selebihnya menjadi urusan-Nya. Rasanya sama, seperti aku yang mengharapkanmu, namun manusia hanya bisa berharap. Memang salah, berharap pada manusia...

Sebenarnya aku tidak pernah bosan kemari, hanya saja tempat ini menyimpan begitu banyak kenangan, banyak perasaan. Berjalan di jalur berbatu yang aku ingat betul tiap kelokannya, membuat memori-memori lama bermunculan tidak karuan. Rasanya hampir seperti aku adalah satu-satunya yang masih tinggal di masa lalu. Jalur tangga batu sialan yang terasa seperti tidak ada habisnya. Mungkin itu juga yang akhirnya, untuk pertama kali, membuatku menyerah dan tidak melanjutkan ke puncak gunung ini.

Tiba-tiba rasanya seperti mati rasa. Benar-benar hambar, tak ada rasa apapun. Apakah ini salah satu hal yang ingin disampaikan oleh Tuhan padaku? Bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Bahwa sesuatu yang berlebihan itu berangkat dari sesuatu yang membara terang... lalu pada akhirnya padam, habis. Akhirnya, untuk pertama kali, aku tidak merasa antusias mendaki gunung.

Apakah perasaanku padamu, juga bisa menguap semudah dengan lenyapnya antusiasmeku untuk mendaki gunung ini? Sepuluh tahun sudah berlalu. Aku selalu menyangkal bahwa aku tidak memiliki perasaan yang spesial padamu. Namun semakin disangkal, rupanya semakin besar rasa itu. Perasaan yang bertepuk sebelah tangan, perasaan yang tak pernah terbalaskan. Aku lelah, aku lelah membuat diriku sendiri menjadi lelah.

Aku jadi berharap, aku tidak pernah naik gunung apapun sejak awal. Hanya kuliah senormalnya, berteman sewajarnya, bekerja seperti pada umumnya. Menjadi manusia yang biasa-biasa saja. Dengan begitu, apakah kamu akan tetap melihatku? Dengan begitu, apakah kamu bahkan akan melihatku?

Enough is enough. Aku tahu aku hanya menyakiti diriku sendiri apabila aku terus merawat perasaan ini padamu. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini harus jadi yang terakhir. Aku tidak boleh selamanya berkubang dalam masa lalu. Aku janji, ini yang terakhir.


Rencana Tuhan memang tidak bisa ditebak seperti ini. Meskipun tidak sampai ke puncak gunung, aku diberi kesempatan melihat pelangi di tempat yang tak kalah indahnya dari puncak gunung. Kuncinya satu: berprasangka yang baiklah terhadap Tuhanmu.


21.4.25

"kamu tau kan maksudku?"

waktu menunjukkan pukul 23:34. malam sudah tiba rupanya. aku masih saja duduk didepan layar laptopku, mencari-cari hal yang seharusnya tidak perlu kucari. entah mengapa tiba-tiba aku ingat akan dirimu. lagi-lagi. kebetulan aku sedang membuka aplikasi pemutar lagu. dengan refleknya kuketik namamu pada kolom pencarian. lalu muncullah profilmu. dalam daftar follower-mu, tertera satu nama yang sejak minggu lalu membuatku penasaran.

lagi-lagi. kubuka tab baru dan kuketik namanya pada kolom pencarian. sudah lama rasanya tidak "stalking" seseorang seperti ini. apalagi orang ini ternyata tipikal yang agak mudah dicari. saat sedang asyik berenang dalam informasi-informasi online, tiba-tiba ada satu kalimat di akhir laman pencarian tersebut: "kamu tau kan maksudku?" kalimat itu datang dari laman Facebook teman orang tersebut. 

aku tidak tahu ada apa dengan kalimat tersebut. tapi tiba-tiba aku tersadar, terhenyak, lalu seperti kembali duduk didepan layar laptopku lagi, setelah menyelam ke dalam lautan informasi. aku tidak mengerti mengapa kalimat itu bisa membuatku kembali ke "dunia nyata" seakan mengisyaratkan padaku: untuk apa kamu membuang-buang waktu, mencari sesuatu yang tidak perlu kamu tahu?

ah, iya. buat apa lagi, sih, aku masih mencari tahu sesuatu hal yang ada kaitannya dengan dirimu? aku benar-benar ingin move on dari dirimu. meski sesulit itu, aku ingin move on. aku tidak ingin menjadi satu-satunya yang terjebak dalam masa lalu.

17.2.25

alexithymia (2)

Di tengah-tengah perkebunan teh, ketika sinar matahari sedang terik-teriknya menyinari dunia, aku termenung sejenak melihat hamparan perbukitan di depanku. Jelas-jelas pemandangan di depan sangat indah dan cantik, namun aku bertanya-tanya: Apa yang aku lakukan disini? Mengapa aku terdampar bersama orang-orang yang hanya kuketahui namanya saja?

Aku melihat seseorang di depanku, ia menatap diriku yang sedang berjuang mengumpulkan nafas setelah mendaki bukit terjal itu. Entah apa yang ada dikepalanya, dengan random-nya ia bertanya kepadaku, "Hari ini Kak Nadya bangun dengan perasaan seperti apa?"

Panas matahari itu kini terasa lebih menyengat. Kepalaku terasa sedikit berputar. Namun kali ini aku ingat, aku hanya tertawa kecil dan tidak memberikan jawaban apa-apa atas pertanyaan itu. Pertanyaan itu sebenarnya sederhana saja bukan? Mengapa aku membuatnya rumit? Aku kembali merasakan perasaan yang sama ketika ketua kelompok kerjaku bertanya, "Tapi happy, kan?" tepat pada hari ulang tahunku tahun lalu. Jenis pertanyaan yang aku tidak tahu kalau pertanyaan macam itu ternyata eksis di dunia ini.

Pertanyaan itu terngiang-ngiang lama sekali dikepalaku setelah si penanya menanyakannya padaku, "Hari ini Kak Nadya bangun dengan perasaan seperti apa?" Aku jadi bertanya-tanya, mungkinkah pertanyaan-petanyaan itu datang padaku hanya karena kebetulan? Aku rasa tidak. Meskipun aku juga penasaran dengan perasaan yang kurasakan subuh tadi ketika bangun tidur, aku tidak tahu bagaimana caranya mengulik dan menanyakan hal tersebut pada diriku sendiri. Tenyata pertanyaan itu sudah menghantuiku bahkan sejak sebelum aku bertemu dengan penanyanya.

Sejujurnya aku terbangun dengan perasaan yang aneh: campuran tidak nyaman dan merasa tegang, namun pada saat yang bersamaan juga merasakan nyaman dan sedikit ketenangan. Pada akhirnya, aku seperti air saja, mengalir mengikuti saja alurnya, kupasrahkan semuanya mengenai apa yang akan terjadi pada diriku hari ini. Aku ingin cepat-cepat pulang, namun juga ingin sedikit lebih lama bisa memandang hamparan bukit-bukit di depanku ini. Perasaan-perasaan yang saling beradu, bertolak belakang.

Aku terdiam, di puncak bukit yang penuh dengan bunga-bunga berwarna merah muda di antara tunggul-tunggul pohon teh yang baru dipangkas. Menyaksikan si penanya yang kini sudah berjalan menuruni bukit itu bersama dengan orang-orang lain yang hanya kuketahui namanya saja.



29.1.25

good---

to my surprise, you still want to come with me. and that damn bag, i still carry that bag with me. another surprise, it doesn't feels heavy. i see you carrying a slightly bigger bag than me, but it feels lighter than mine. how so? but then we start the journey anyway.

i honestly didn't know whether i really want you to accompany me on this trip, or am i actually need some peace and should go alone. the situation now is a bit different--awkward as always, but even more. you don't want to walk along by my side. sometimes you walk in front of me, and i just maintaining as it is. it feels like you want to leave me, but at the same time it feels like you want to wait for me. sometimes you walk behind me, and again i just maintaining as it is. it feels like you want to let me go, but at the same time it also feels as if you are ensuring that i am still in your sight range. i find it kind of bewildering, but i just follow around to what you want, knowing that you didn't want to hurt her feelings.

but seeing you walking in front of me, then looking at your back trying to find me... you have no idea how much that sight saddens me. sooner or later, we won't be able to have a journey like this anymore. just walk in front of me and then leave me. maybe that's the easier way for me to let you go. just don't say goodbye. let me catch you up for a moment from afar and let me know how you're doing, cause i know that we can't chat like we used to. just please, don't say goodbye.



24.1.25

absquatulate

Hari ini aku dipanggil ke kantor untuk kepastian kontrak baruku. Akhirnya firasat burukku terjadi juga. Kontrakku tidak lagi diperpanjang. Meskipun aku sudah mempersiapkan diriku untuk kemungkinan terburuk itu, aku tetap tidak bisa membendung rasa kecewa yang muncul. Mereka bilang tidak bisa melanjutkan proyek karena anggaran sedang diblokir untuk tiga bulan ini. Mereka juga tidak tahu, apakah setelah tiga bulan tersebut anggaran yang diblokir ini akan diberikan lagi kepada mereka, atau dialihkan untuk kebutuhan negara yang lain. Jadi mereka memilih untuk tidak membuatku berlama-lama menunggu ketidakpastian itu.

Aku juga sudah mencari tahu, akan ada pegawai baru disana yang ternyata memiliki keahlian kerja sepertiku. Jadi sepertinya kalaupun dibulan ketiga nanti anggaran mereka dikembalikan, mereka tidak akan memanggilku. Kebutuhan mereka sudah terpenuhi. Dalam hati aku bersyukur untuk mereka, namun tidak bisa kupungkiri bahwa hati kecilku sedih. Sebenarnya aku sedih bukan karena kehilangan pekerjaan, namun karena aku harus kehilangan tim kerja yang rasanya benar-benar seperti keluarga sendiri.

Aku pun berpamitan, menyalami tangan mereka satu per satu. Mereka memintaku untuk tidak meninggalkan grup olahraga mereka, jadi kami masih bisa bertemu dalam event-event lari. Aku tahu, kapan pun aku mau datang, mereka pasti akan menerimaku dengan sangat terbuka. Mereka mengatakan itu langsung padaku. Beberapa dari mereka memelukku. Aku merasakan mataku mulai memanas, namun aku tidak mau menangis. Aku tidak mau meninggalkan kesan sedih, meskipun aku memang sedih.

Setelah selesai memutari satu ruangan untuk bersalaman, ada satu orang mengajak, "Ayo kita foto bersama-sama terlebih dahulu!". Lalu ada satu lagi yang menyahut "Lha itu ketuanya malah lagi diluar."

Saat itulah aku tersadar bahwa beliau tidak ada diruangan. Padahal ketika awal aku mau berpamitan tadi, mejanya adalah yang pertama kudatangi dan beliau masih dikursinya, meskipun beliau bukan yang pertama kusalami. Lagi-lagi, foto tanpa beliau. Aku masih ingat kapan hari itu aku tidak ikut foto bersama karena sedang ke luar, dan beliau yang saat itu sedang di luar kota tiba-tiba mengirimiku pesan "Kok gaada fotomu". Padahal sendirinya tidak pernah mau ikut foto bersama. Rasanya semakin sedih karena tidak ada beliau di foto perpisahanku.

Sebenarnya aku ingat ada satu foto dengan beliau saat beliau "menyandera" aku di restoran di sebuah bukit untuk mengobrol sampai tengah malam sampai rokoknya habis. Namun saat itu fotonya memakai ponsel beliau, dan foto itu tidak pernah dikirimkannya. Beliau malah mengirimiku foto diriku sedang fokus bekerja sampai-sampai tidak sadar kedua kakiku naik ke kursi. "Itu tandanya kamu bener-bener fokus ngerjainnya," begitu katanya dulu. Padahal karena kakiku pegal saja kalau menggantung dikursi.

Tiba-tiba aku jadi teringat, pagi tadi ketika aku masuk ke ruangan dan beberapa orang menyapaku, termasuk beliau. "Hai, apa kabar?" begitu tanyanya, aku tahu itu hanya basa-basi semata. Warna kemeja yang digunakannya sama dengan warna jaketku, rasanya ingin aku cepat-cepat membuka jaketku. Entah mengapa ia memilih menggunakan kemeja warna marun sementara seragam pegawai hari itu seharusnya warna kuning. Ketika aku hendak melepas jaketku, malah kemudian beliau memakai jaketnya yang kebetulan warnanya sama dengan kemejaku. Ya, sudah aku menyerah. Beliau masih saja membangga-banggakan termos yang aku hadiahkan untuk ulang tahunnya tahun lalu. Sejujurnya, dulu aku sempat menyesal memberikan termos itu karena ada masanya beliau selalu membangga-banggakan termos itu setiap hari sampai aku malu sendiri.

"Ini panasnya tahan banget, lho."
"Kemarin saya lupa bawa termos ini padahal sudah saya isi kopi, akhirnya disimpan di kulkas sama istri saya. Pas saya pulang, isinya masih hangat."
"Ini pas banget sama takaran mesin kopi di pantry."
Dan masih banyak lagi. Termos itu memang bagus karena aku tidak sembarangan memilihnya. Aku sengaja memilih yang bagus supaya beliau bisa mengikhlaskan termosnya yang hilang yang beliau kejar sampai keluar kota, dan aku berharap termos itu bisa menggantikan termos putihnya yang sudah butut dan nampak tidak mencerminkan dirinya sama sekali itu.

Hingga kini aku tidak tahu apakah beliau benar-benar sesuka itu dengan termos tersebut, ataukah beliau memakai dan memuja-muja termos itu hanya karena ingin menjaga perasaanku saja. Apapun itu alasannya, aku senang dengan kenyataan bahwa ia terlihat begitu menyukai termos itu. Yah, setidaknya ada sesuatu yang bisa membuatnya ingat padaku.

Setelah sesi foto bersama berakhir, aku keluar dari ruangan diantar oleh teman-temanku. Rupanya beliau sedang berada dipintu masuk didepan. Tiba juga saatnya aku berpamitan dengannya. Aku mengulurkan tanganku, hendak menyalaminya. Beliau menyambutku, tangannya menggenggam tanganku sangat erat. Aku menatapnya untuk yang terakhir kali. Wajahnya yang jenaka tersenyum hangat menatapku, namun aku tidak lagi tertipu dengan kesan itu.

Meskipun sifatnya sedikit aneh dan nampak seperti tidak bisa membaca situasi, sebenarnya aku cukup senang ketika ada kesempatan bisa mengobrol ngalor ngidul atau berargumen dengan beliau. Tipikal orangtua yang suka bercerita, beliau membuatku terkesima dengan pengalaman hidupnya, pengetahuannya yang luas dan ide-idenya yang kadang nyentrik meskipun masuk akal. Tak jarang beliau juga membuatku tidak habis pikir dengan jalan pikirnya yang kadang terasa seperti ditengah persimpangan antara logis dan sesat pikir. "Ya bener, sih. Tapi ngga bener juga," kind of thing.

Akhirnya aku beranjak dari pintu itu dan melangkah keluar, meninggalkannya. Rasanya benar-benar berat sekali meskipun aku melangkah seperti biasa. Sepertinya baru sekali ini aku merasa sesedih ini mengakhiri kontrak kerjaku, setelah belasan kontrak kerja sebelumnya. Aku jadi bertanya-tanya apakah beliau pernah merasakan kesedihan yang kurasakan saat ini, mengingat proyek yang sudah beliau lalui sudah pasti lebih banyak dariku. Beliau pernah bercerita padaku mengenai rekan-rekan kerjanya pada proyek-proyek sebelumnya. Akankah ada hal tentangku yang akan beliau ceritakan pada rekan kerjanya yang baru?  Entahlah, aku tidak ingin bertanya-tanya lagi tentang hal-hal seperti itu. Ya, sudah. Dimana ada pertemuan, disitu ada perpisahan, bukan? Aku menghela nafas panjang, lalu melanjutkan langkahku. Aku tidak menengok ke belakang lagi.




1.1.25

2025 bangat nehh?

Well hello! Gue sampe lupa kalau punya blog HAHAHA.

Sooo this is me, welcoming 2025 dengan lari-lari ngejar deadline kerjaan yang sejujurnya, gue udah muak banget ngerjainnya:( Namun berhubung semalam ditelpon bapake--iya semalem banget, 31 Desember 2024, 21:37 WIB--akhirnya gue terpecut (dikit) untuk ngelarin kerjaan gue ini. Tapi, ya, gitulah, gimana dong udah jenuh banget. Jadi gue selingin dengan nulis random dulu disini.

Seperti ritual tahun baru sebelumnya, gue mau nge-list capaian-capaian, kegiatan, maupun tragedi(?) yang sudah gue lalui sepanjang 2024. Tbh gue ngga inget apa-apa selain kerja-lari-kerja-hiking:( namun coba kita udek-udek gallery yes.

  1. mengawali 2024 dengan beberes barang-barang sampe dikira mau bunuh diri (saking jarangnya beberes)
  2. jalan-jalan ke curug sama Martha
  3. ngajak Muyay ke Sunter berburu kuotie dan choipan
  4. signing kerjaan 1
  5. randomly ikut RUA W
  6. njagain ibu di RS part 1
  7. menyambangi kerajaan pacet sama martha
  8. jejalan ke Gunung Papandayan with wipa taba lalu menyelinap ke CA seorang diri (tydac untuk ditiru)
  9. nyasarin martha, gagal ke 1702
  10. nangis bombay karena kucing yg biasa minta makan ke kontrakan mati ketabrak mobil
  11. jejalan ke Curug Salabintana with akawipa taba toba
  12. solo yolo ke Joglog
  13. experiencing "magic eyes" setelah sekian lama, ngeliat ada tangan banyak banget berotot warna biru lagi meluk tas yang biasa gue pake buat solo yolo T.T
  14. disamperin anak kucing nangis-nangis depan gerbang kontrakan, sekarang sudah besar namanya yumi
  15. signing kerjaan 2
  16. alergi part 1 ngga tahu stress karena apa
  17. first time donor darah pas ramadhan, habis buka puasa cuma makan kacang ijo dan alhamdulillah tekanan darah cukup untuk bisa donor
  18. for the first time lebaranan masak sop buntut (dan ngga santen-santenan)
  19. alergi part 2 ngga tahu stress karena apa
  20. mencoba solo yolo ke Gunung Wilis namun gagal, ini ceritanya agak serem tapi ngikik sih
  21. for the first time menyambangi aka ngga di bandung, tiba-tiba meetup sama 2 aka di Ponorogo, dianterin sampe basecamp Bukit Mongkrang
  22. niatnya solo yolo ke Bukit Mongkrang tapi akhirnya ditemenin mas-mas random sampe Puncak Jobolarangan (padahal ke puncaknya buka jalur dan dia cuma pake celana pendek, so sad)
  23. ke Jogja cuma buat mbungkus brongkos
  24. tektok Gede via Putri with akawipa toba
  25. for the first time nonton "teater dongeng" Waktunya Main dan ngga nyesel karena keren banget
  26. pertama kalinya nyumbang sampah ke bank sampah
  27. signing kerjaan 3 tapi akhirnya terlantar karena udah ngga sanggup lagi
  28. kerja dobel mau mati tapi berterima kasih banget kepada Allah karena mempertemukan gue dengan Mas Aziz. Mas, sampe sekarang pun aku masih mau sungkem ke Mas Aziz, makasi banyak udah dibantuin banyak banget:')
  29. solo yolo ke Gunung Mandalawangi di Garut
  30. for the first time ikutan event lari online 60km dan renang 6km dalam rangka 60 tahun W
  31. for the first time lari ngehajar lingkar luar+lingkar teknik+fkm+lingkar dalam sekaligus:')
  32. ikutan dies 60 tahun W, nyoba kano di Situ Lembang malah muter-muter. Emg gabakat sih.
  33. for the first time menginjakkan kaki ke Tanah Celebes di Palu
  34. menghadapi kapokja yang agak sedikit "lucu" tapi yodah lah ya
  35. donor darah lagi
  36. punya ponakan lagiii huhuuu semoga aku menjadi rich aunty yhhh aamiin
  37. mandatory sepedahan pasming-krb
  38. for the first time ikutan trail run di Kawah Ratu 10K karena didaftarin ibu-ibu kantor, tydac menyesal sama sekali karena turns out it was so much funnn
  39. for the first time ke Medan gabisa kemana-mana, dipenjara di kantor sampe jam 9 malem sama kapokja untuk verif data
  40. for the first time ngantor pake kebaya wkwkwk ternyata cute ugha, thanks to Mila
  41. for the first time ndigit-ndigit semut nonstop sampai tangan melepuh coiii bisa-bisanyaaa
  42. deadline lagi banyak-banyaknya, malah lari-lari ke Kawah Lawu dan Merbabu gelooo but thanks Annya and Baskara
  43. for the first time ikutan road race meskipun cuma 5K
  44. ikutan lomba 17 Agustusan, terakhir ikut lomba 17an itu pas SD wkwkwk
  45. bolak-balik RSCM nengokin Ii
  46. for the first time nonton pengibaran bendera 17an di Tugu Kujang, fomo gara-gara lihat storynya dewa
  47. signing kerjaan 1 part 2
  48. ikut tes cpns tapi ngga even lolos skd
  49. for the first time beli hp bagus with my own money T.T
  50. njagain ibu di RS part 2
  51. ikut road race lagi 10K tapi dibalap sama ibu-ibu kantor:')
  52. for the first time makan ayam betutu pake sambal matah enak banget langsung di Bali:') Ayam Betutu Bu Lina di Gilimanuk ya ges wajib coba
  53. kabur ke Burangrang bareng Martha lalu wiskul perbaikan gizi
  54. ikut trail run for the second time di Cisadon 15K, tapi first time banget podium 3 female
  55. for the first time ke Batam, thanks to Triana udah mau nemenin jejalan meskipun malem banget:')
  56. nonton drama musikal keren-keren, thanks bgt to Ka Dhika udah ngajakin
  57. jajan stiker aneh-aneh nan lucu
  58. signing kerjaan 4 (yang sebenernya jadi kerjaan 3) karena di "encourage" buat ikut(???) for the first time nyambi ampe tiga kerjaan gini. Tapi yaa mayan lah sampingan seratus dua ratus rebu mah untuk aku yang hedonism
  59. FISRT TIME BGT NONTON ARTIS MANCANEGARA MY LOVE MATT MALTESE TRS TBTB FOTO BARENG?? AAAAK LOVE YOU MATT
  60. jejalan ke 1702 nontonin sodi dan diki berkelahi melawan makaka
  61. impulsif ke Bandung, nebeng sama Zeni, lalu nanjak ke Gunung Bukittunggul dan Gunung Palasari. Kena hujan badai gede bangat di Bandung sampe motor mati
  62. nonton kompetisi balet Bebi
  63. tektok ke Gunung Cikuray di bulan Desember berharap apa sih, cuma dapet tembok aja haha
  64. tiba-tiba dapet kabar Ii muntah darah, 6 jam kemudian Ii meninggal
  65. mencoba berdamai dengan kondisi, nganter Bebi lomba gymnastic lalu solo yolo ke Gunung Manglayang
  66. jalan kaki di UI tengah hari siang bolonk panas banget berburu komodo bersama Martha
  67. for the first time beli sepatu yang harganya 1,3 juta with my own money nangis bangettt, meskipun untuk mendukung hobi dan udah harga diskon tapi yaa masih ada nyeseknya dikit. Tapi emang worth it banget sih T.T
  68. tektok Gunung Sagara-Gunung Canar lalu berendem di Kawah Talaga Bodas
  69. akhirnya nempatin kamar Ii:') belum selesai sih pindahannya, tapi semoga lancar.

Wheew ternyata banyak juga kejadian di 2024, ya. Nano-nano banget sih memang 2024. Ternyata banyak sekali pengalaman baru "first time" yang gue alami tahun 2024. Overall seru banget sih meskipun deadline kerjaan agak sedikit gila. Tapi sedih banget karena di penghujung tahun tiba-tiba kehilangan sosok Ii, rasanya bener-bener ngga bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kaya kehilangan bapak untuk yang kedua kalinya. But it'll be okay though.

Okay, so... rencananya gue mau rutin nulis disini. HAHAHA bjir resolusi dari dua tahun yang lalu. Tapi semoga beneran bisa terwujud di tahun 2025 ini. Semoga di tahun 2025 ini kita lebih baik lagi ya guys dan semoga kita tetap waras dalam menghadapi gebrakan pemerintah yang semakin ajaib-ajaib ini.

30.11.24

aeternum

I finally had a fever. My face felt like it's burning, my head felt heavy but light at the same time. My throat was sore, and my right chest felt like it was being stabbed every time I cough. And yet I still packed my things. And you asked me, "Mau kemana, sih?"

"Mau jalan-jalan." I simply answered.
"Nggak, lo lagi sakit."

I looked at you perplexed. I was so confused. Why did you care if you won't even be here for me anymore? I've made up my mind, this is a whether-you-come-and-accompany-me-or-let-me-die-in-the-forest kind of journey. I really wish that you come with me, but I already knew that you won't. I also know you won't be there for me anymore, so I don't have the reason to stay any longer. 

Then I left you, even though I haven't finished packing my bag. I don't know what else I should have brought. I don't even know what's already there in my bag. All I know it's full of my feelings for you that I don't know what to do with. But still, I lift that damn bag. I didn't have the courage to see your face again, so I just left you.

I know this sadness won't heal instantly. I know this memory of you will haunt me. I know this feeling towards you will never change. But at least I'm trying to let those go. I sincerely hope that you'll be happy. And hopefully, I'll find my way to be happy too.



24.11.24

hiraeth

Well, I never thought I would be this brokenhearted after hearing such a happy news. No, it's not that I'm not happy for you. I do happy for you, congratulation that you've finally found someone that you liked and liked you back.
.
.
.
...even if it wasn't me after all. 

Yes, that's the brokenhearted part. I knew this would happen soon or later, but I don't know why I still can't accept it. I still remember your cherish voice when you told me about her, such a lovely girl. And all I remember about me was trying my best to looked excited when my world feels like crumbling. Even when writing this down, my heart still feels wrenched. But even so, I relieved to hear this from yourself, I'm so glad you told me in person and I'm not finding out from others. I might hurt more if it so.

You know, I had this feeling where I want you to be with me and not someone else. But at the same time, I know you deserves someone better than me. I stuck in the middle of a raging war with myself.

I think I've had this feeling for you for more than a decade. Trying to confess but I know you only see me as a very good friend. Trying to confess but I didn't want to gamble and lose you. It's been three times I dreamt of you, married with another girl, and every time I would feel like it was real. And now... it is real. And I don't even prepared despite three times dreaming of it. The pain become real.

"How about you?" You asked.
"Nah, I still want to hike another mountain." I wish I was directly change the subject like this instead of telling you anything about me.
"I don't know if this useful for you, but the next monsoon will be more extreme. The rain will be heavier."

Yeah, I can use that to prepare myself for the depression season of mine, thank you. I never thought I would be this brokenhearted, moreover to start the so called extreme monsoon you've mentioned. I'll run in the rain anyway. But it's okay, as long as you're happy. I wish I'll find "you" somewhere else.



22.6.24

alexithymia

Pada pagi hari, hari Jumat, yang sebenarnya sudah tidak tidak terlalu pagi, sekitar jam 9.30, aku berpapasan dengan beliau di koridor. Kebetulan aku ingin mengambil paketku di satpam, sementara beliau baru saja datang. Sepertinya beliau habis berolahraga karena wajah dan tubuhnya berkeringat, beliau juga masih memakai kaos. Aku jadi merasa tidak terlalu berdosa karena masih memakai kaos juga setelah lari pagi. Sempat-sempatnya beliau menyapa, "Hai, gimana kabar hari ini?"

Aku hanya bisa mengacungkan kedua ibu jariku sambil tersenyum karir. Lalu beliau bertanya, "Tapi happy, kan?"
.
.
.

Saat aku hendak kembali ke ruangan, aku menemukan beanie beliau (yang lebih mirip ciput) tergeletak terjatuh di lantai, jadi sekalian saja aku bawakan. Ketika aku akhirnya masuk kembali ke ruangan, orang-orang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Mereka mengucapkannya karena aku membawa makanan untuk traktiran. Beliau terlihat bingung. Sejujurnya, sepertinya itu juga responku kemarin ketika beliau datang dan orang-orang mengucapkan selamat ulang tahun. Aku tidak menyangka ternyata tanggal ulang tahun kami benar-benar hanya beda sehari. 

Tiba-tiba beliau jadi seksi sibuk, auto membantu aku membagikan makanan. Tapi beliau minta makanannya dua kotak. Aku tidak tahu apakah aku menyinggungnya atau tidak. Beliau tidak terlalu suka dengan kebiasaan traktiran atau semacamnya seperti ini. Padahal orang-orang di tim ini senang sekali membawa makanan untuk dibagikan, apalagi kalau ada momen seperti ulang tahun, merayakan keberhasilan pekerjaan atau keluarga, atau sesederhana habis bepergian dari luar kota atau pulang kampung. Ya, kemarin tidak ada perayaan apa-apa. Tapi semoga saja aku tidak menyinggungnya.

Tumben sekali, hari ini beliau banyak sekali komentarnya. Beliau tahu kalau aku akan ikut kegiatan trail run besok. Kegiatan ini kolaborasi antara direktorat kami dengan salah satu organisasi trail run dari salah satu universitas ternama. Makanya aku sudah membawa barang-barang dari hari ini sehingga aku bisa langsung pergi ke venue tanpa harus pulang dulu. Beliau mengomentari sepatuku, "Wih, orang lapangan emang beda, ya," begitu katanya sambil mengamati sepatu gunung yang kugunakan.

Lalu beliau unboxing racepack dan peralatan trail run milikku yang lain. Dalam hati aku bertanya-tanya mengapa beliau random sekali. Racepack itu berisi baju jersei, BIB, termos minum, dan tas. Sementara peralatan pribadi milikku ada tas running dan soft flask. Beliau menamat-namati jersei itu.
"Wah, ini jersei larinya, ya. Bahannya gini, ya."
'Ya... begitulah, Pak. Jersei pada umumnya.'
"Iya, jersei-jersei murah gitu, kan. Saya boleh minta ngga nanti? Buat dikasih ke temen saya yang suka ngoleksi baju trail run kaya gini. Kemarin dia minta ke saya." Gapapa banget, Pak, gausah spik buat Bapak juga gapapa asal dinas bulan depan ngga sama Bapak lagi, pikirku. Tapi jersei itu memang rencananya akan beliau kirimkan untuk temannya yang tinggal di kaki Gunung Merbabu. Katanya sudah sejak lama temannya itu suka ikut kegiatan trail run dan mengoleksi jersei dan medalinya. Lalu kami mengobrol sebentar mengenai temannya itu, yang katanya mahir penginderaan jauh dan pemetaan.

Tidak terasa sudah hampir menjelang waktu salat Jumat. Beliau bergegas ganti baju, bekerja sebentar didepan laptopnya sambil sesekali berbicara dengan dirinya sendiri, lalu berangkat salat Jumat. Setelah salat Jumat, beliau merapihkan mejanya lalu pergi keluar ruangan. Enak juga jadi ketua, masuk jam 10 cuma buat komen doang terus jam 1 udah entah kemana, pikirku saat itu.
.
.
.

Jarang sekali ada yang bertanya padaku "Are you happy?". Aku tahu beliau menanyakan hal itu padaku hanya karena out of politeness saja. Namun probabilitas untuk ditanya apakah aku bahagia atau tidak, terlebih lagi di hari ulang tahunku, peluangnya nyaris nol. Aku bahkan tidak bisa mengingat apakah ada orang lain selain beliau yang pernah menanyakan hal tersebut padaku, bahkan aku tidak ingat apakah aku pernah menanyakan hal itu pada diriku sendiri, "Are you happy?"

Pada akhirnya aku tidak ingat sama sekali apa jawaban yang aku berikan padanya. Namun aku masih terngiang kalimat beliau, "Saya ngga peduli metode apa yang kamu pakai untuk tetep happy, pokoknya kamu harus tetep happy."

Aku tidak bisa menyatakan apakah makna dibalik kalimat itu mengandung konotasi positif atau negatif. Terasa seperti out of politeness (lagi), namun juga terasa seperti perintah, disaat bersamaan juga sekaligus terasa seperti orangtua yang memastikan anaknya tetap senang dan tidak ingin anaknya sedih. Atau mungkin aku saja yang terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang sebenarnya hanya basa-basi.

Dunno, probably the most confusing, mixed feeling birthday in my life.

4.6.24

eunoia

Aku berjalan kaki ke restoran hotel, setelah salah satu rekan kerjaku memberi kabar kalau mereka meminta makan malam diantar ke kamar mereka masing-masing. Ini pertama kalinya aku aku ikut perjalanan dinas untuk hal pekerjaan, jadi aku sama sekali tidak ada clue harus seperti apa. Apalagi di hari pertama kedatangan ini, waktu kosongnya sangat banyak dan aku tidak dijelaskan harus berbuat apa. Bingung harus apa dan bosan menjadi satu, akhirnya aku memutuskan untuk makan malam ke restoran dari pada minta makanan diantar ke kamar.

Restorannya persis dipinggir laut, di teluk paling dalam di pulau itu. Tidak seperti siang tadi dimana angin bertiup dengan brutalnya, malam ini hampir tidak ada angin sama sekali. Hanya ada beberapa meja saja yang terisi di restoran itu. Aku segera memesan makanan, tidak ingin terlalu malam karena aku juga ingin cepat beristirahat. Rupanya rasa bingung dan bosan itu benar-benar menguras energi. Baru saja makananku tiba, tiba-tiba ponselku bergetar.

Beliau menanyakan aku dimana. Aku jawab seadanya, kalau aku sedang di restoran. Jadi beliau juga tahu bahwa aku masih makan malam dulu dan tidak bisa langsung bekerja atau menyediakan data, apabila tiba-tiba ia meminta. Aku cukup terkejut dengan responnya: Ya sudah, tunggu saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7:15 malam saat itu, aku hanya berharap agar nanti beliau cepat selesai dengan makanannya, karena aku mau cepat istirahat. Akhirnya aku makan saja duluan, mengingat aku juga memesan minuman manis.

Beliau tiba sekitar 15 menit kemudian. Hanya mengenakan kaos dan celana pendek, aku merasa asing. Rasanya seperti melihat teman sekolah saat tidak menggunakan seragam sekolah. Beliau duduk dikursi didepanku dan berkata, "Bosen banget di kamar mulu". Aku hanya menanggapinya sekilas. Padahal itu juga yang aku rasakan, makanya aku kemari. Aku menyodorkan buku menu agar beliau bisa segera memesan makanan, but to my surprise beliau bilang bahwa beliau sudah makan malam di kamar. Aku bingung, lantas mengapa beliau kemari?

Aku mengambil kesimpulan kalau ternyata beliau hanya mau teman mengobrol saja. Melihatnya meletakkan dua bungkus rokok diatas meja, aku menyemangati diriku sendiri karena tahu malam itu akan panjang. Malam itu kami mengobrol tentang banyak hal, tapi memang kebanyakan hanya tentang pekerjaan. Mulai dari hal-hal pekerjaan seperti inventarisasi hutan, inventarisasi sosekbud, tipe-tipe ekosistem, analisis deliniasi ekosistem, aksi nyata pemulihan ekosistem, dll sampai hal-hal diluar pekerjaan: sejarah pemetaan di Indonesia, belajar otodidak, film John Wick, naik gunung, kebiasaan di waktu kosong, temannya yang ternyata temanku juga, sampai pengalamannya dua tahun hidup di hutan Kalimantan.

Ada satu waktu dimana kami membicarakan tentang kebijakan dan penindakan kegiatan ilegal di kawasan konservasi. Menurut beliau, seharusnya data yang aku kerjakan bisa digunakan untuk menindak kegiatan ilegal tersebut. Namun jarang ada yang mau melakukan aksi nyata semacam itu. Beliau merasa geregetan karena inventarisasi hanya bisa sampai pendataan saja, tidak bisa sampai aksi seperti pekerjaannya dulu. Mungkin itu dia alasannya mengapa ia diposisikan di inventarisasi, agar inventarisasi ini ada ide harus berbuat apa, pikirku saat itu.
N: Örang-orang, kan, pengennya on desk aja. Ngga mau ke lapangan, jarang banget yang mau ke lapangan. Ya mereka bersembunyi aja dibalik meja dan data.
G: Ya, iyalah, Pak. Mekanisme bertahan.
N: Iya, itu sudah by default, ya. Sudah tertanam di kepala manusia kalau maunya yang aman-aman aja. Ada itu teorinya yang bahas tentang itu, mekanisme bertahan Sigmund Freud. Tahu, kan?

Se-random itu tiba-tiba membahas teori mekanisme bertahan Sigmund Freud. Obrolan dilanjutkan lagi membahas hal-hal random lainnya. Sampai tiba ketika aku hendak menyanggah pendapatnya. Entah sedang membicarakan apa saat itu.
G: Nggak, Pak. Tapi kalau menurut saya...
N: No, saya rasa kamu sedang denial.
G: ...
N: Karena kalimat sebelum "tapi" itu denial, dan kalimat setelah "tapi" hanya bullshit.

Aku lalu bertanya-tanya dalam hati, apakah ini beliau saja yang gaslighting karena tidak ingin terlihat salah, atau aku yang sedang dalam mekanisme bertahan sampai beliau bilang aku denial? Atau dua-duanya? Entahlah. Ada perasaan-perasaan tidak nyaman yang timbul, namun cepat-cepat kutepis karena aku tidak ingin hal itu berpengaruh pada pekerjaanku. 

Tepat ketika obrolan sudah semakin entah kemana dan malam juga semakin larut, rokok dua bungkus itu akhirnya habis juga. Beliau sempat bertanya apakah di restoran ini ada yang menjual rokok, namun syukurnya tidak ada. Aku menemani beliau ke warung untuk membeli stok rokok untuk besok. Beliau menawari aku untuk membeli sesuatu di warung tersebut, namun aku tidak ingin apa-apa lagi. Setelah itu kami kembali ke kamar masing-masing. Akhirnya malam yang aneh itupun usai juga.



27.4.24

sundreesoro

Biasanya, sore-sore sehabis pulang kerja dari Bogor ke Jakarta dengan keadaan kereta kosong melompong, tidak akan kuat godaan untuk segera memejamkan mata. Tidur. Apalagi badan sedang awut-awutan, radang tenggorokan dan lelah bekerja. Teman satu tim yang tinggalnya di Bogor saja juga hampir tumbang, jadi tidak heran kalau aku tumbang duluan. Kami masih berusahan beradaptasi dengan ritme pekerjaan dan transportasi.

Tapi sore ini berbeda. Aku lelah, tapi tidak ingin tidur. Kepalaku penuh dengan pikiran-pikiran yang kesana kemari. Hatiku sesak dengan perasaan-perasaan yang tidak tenang. Tak hentinya mereka berdua bertanya: Mengapa?

Lalu si akal sehat balik bertanya: Mengapa mempertanyakan?
Aku tahu semuanya sudah jelas. Aku tahu semua tandanya sudah diberikan. Tapi mengapa? Mengapa aku masih mempertanyakan?

Batuk. Tenggorokan gatal. Kepala senat-senut. Pemandangan luar kereta yang silih berganti. Matahari terbenam. Awan kelabu yang bergumul-gumul. Wajah manusia-manusia penglaju yang berbagai rupa. Tak mampu mengalihkan pikiran dan perasaan itu.

Kecewa.

"Tidak apa-apa kalau merasa kecewa atau marah, yang terpenting maafkan dulu dirimu sendiri," begitu ucap seseorang. Boleh jadi memang aku yang mengecewakan diriku sendiri, berharap pada yang tak pasti. Kecewa sendiri ketika semua meleset dari prediksi. Dan lagi, bukankah semua kemungkinan bisa saja terjadi? Mengapa aku malah tak kuasa mengantisipasi?

Aku berharap pikiran dan perasaan ini bisa segera kembali reda. Aku berharap akal sehatku tetap senantiasa "sehat" sehingga aku dapat berpikir jernih meskipun sedang berkubang dalam pikiran dan perasaan yang keruh.



13.1.24

sirva vigad

 Happy new year 2024! Although it has been very late haha.

Tahu-tahu sudah dua minggu di tahun 2024 ini dan gue merasa seperti belum ada progress apapun yang gue buat di tahun ini haha sad:' Tadinya mau buat catatan harian lagi, mau stretching tiap hari, mau nulis riset, mau beberes... hanyalah khayalan babu rupanya. Dua minggu ini sebenernya gue kosong, alias sedang masa senggang antar kontrak kerja, jadi sebenernya bisa dimaksimalkan untuk kegiatan-kegiatan yang ngga akan kepegang kalau gue bekerja. Nyatanya? Gue hanya bisa beberes aja. 

Itu juga sudah alhamdulillah banget sih, karena beberesnya sudah sekitar 60% lah. Setidaknya gue udah sortir barang-barang yang ngga kepake, mungkin 20% ya sudah berhasil gue "keluarkan" secara baik-baik. Sisanya yang memang masih bisa diupayakan untuk di recycle, masih gue tahan dirumah, tapi posisinya sudah kepisah dan dipack dengan baik sesuai jenisnya. Gue masih berupaya mencari bank sampah di Jakarta aja sih jadi ngga perlu keluar duit untuk kirim ke bank sampah di Bandung dan ngga perlu nambah sampah juga untuk packing kirimnya. Masa iya sih di Jakarta ngga ada bank sampah ya? Kea... hellow? Gue udah cari sih, ada tapi ngga informatif kaya bank sampah di Bandung:( hahhh sedih deh.

Selain mau rutin nulis dan olahraga, gue juga maunya rutin berkegiatan di alam liar (???) juga. Kaki udah "gatel" mau main ke hutan, tapi gue mau sabar-sabar aja menanti musim yang lebih baik. Selain karena sekarang gue jalannya solo, target gue juga mau dapet pemandangan yang bagus. Kalau hujan kan seringnya berkabut, jadi pemandangannya pasti ketutupan kan. Jadi yah... kudu sabar emang.

By the way, gue mau bikin list pencapaian dan kegiatan gue selama tahun 2023 kemarin. Supaya gue teringat bahwasanya meskipun terasa seperti tidak ada pencapaian dan gabut... sebenernya kegiatan dan pencapaian gue banyak juga. Yaa meskipun banyak yang ngga penting sih T.T

1. Jadi mentor perjalanan GH2 di awal tahun 2023. Absurd banget emang Akmal.
2. PSEG motoran bareng Martha
3. Marahin penipu gila yang ternyata udah main cewe dibelakang gue sejak lama dan bohongin gue
4. Kesana kemari melamar kerjaan
5. Staycation dan jajan di Pasar Senen bareng Martha
6. Beberapa kali handle rabuan di WPJ
7. Struggle menyelesaikan per-tesis-an duniawi
8. Akhirnya kembali ke Nangapanda dan menyempatkan ke Kelimutu
9. Akhirnya potong rambut cepak karena rontok parah gara-gara stress
10. "Berhasil" menjadi Dankur meskipun ngga dianggap
11. Manage diklat anak-anak Telkom meskipun ngga dianggap
12. Bisa tetap waras ditengah gempuran mau semdraft, nyokap dirawat, harus kerja, ada tanggungan jadi dankur, plus mikirin diklat telkom:)
13. Dikira jadi pengganti mamud Jakarta sama AMW:') Gue ngga ada bayangan ke arah sana karena gue memang bukan siapa-siapa. Tapi rada terharu aja ketika mereka mengira gue yang bakal naik hahaha.
14. Menyambangi sabana Merbabu dan jalan-jalan ke Magelang
15. Menemukan tempat boulderan di WPJ njir gue kemana aja
16. Akhirnya kesampean nyekar ke Arum, Cinthia, dan Gagas
17. Revisian tesis seminggu full, cuma tidur 3 jam seharinya, nyambi kerja juga, terus langsung gas diklat ke Pasir Luhur:)
18. DIVONIS HNP dan skoliosis. Ini bukan pencapaian sih:(
19. Melakukan perjalanan selebrasi ke Gunung Sumbing despite of HNP. Tidak menyesal sama sekali karena berhasil menapaki Rajawali:') Kayanya ini jadi titik balik gue kepengen naik gunung lagi.
20. Ngajak ibu dan ii wisuda di Balairung meskipun gue ngga cumlaude dan ngga maju ke depan T.T
21. TEKTOK SOLO for the first time in forever. Turns out gue solo ke 8 gunung selama tahun 2023.
22. Berhasil minumin tachi obat:')
23 Kesana kemari mencari kerjaan part 2
24. Naik whoosh dan qtime yang ngga berkualiti sama ibu
25. Nonton teater lagi setelah 5 tahun
26. Donor darah for the first time in forever. Ternyata terjawab sudah kebingungan gue selama ini: gue bisa donor darah

Cui ternyata 2023 gue lumayan seru juga ya meskipun hampir modar mah. Gue mungkin akan banyak menulis khususnya tentang perjalanan gue sih baik yang tahun kemarin atau yang tahun 2024 ini. Hehe semoga gue beneran rajin nulis lagi dan bisa jadi lebih baik lagi. Aamiin.

17.10.23

Gunung Guntur: 24 jam

Pertengahan bulan Oktober ini, gue menuruti "intrusive thought" yang mendadak muncul di kepala: naik Guntur sabi kali. Impulsif sekali tiba-tiba gue packing jam 11 malem, berangkat ke Garut tengah malem, sendirian. Ngga cuma itu, gue berangkat dalam keadaan masih demam karena covid... gue ngga swab sih, tapi cukup tahu dari gejalanya yang bukan batuk pilek biasa. Sempet minum paracetamol lagi sebelum jalan, selain itu gue cuma bawa obat saraf antisipasi kalau sakit pinggang gue kambuh. Sempet ragu sama diri gue sendiri, tapi mau gimana wong udah duduk di bus?

Sampai di Garut jam tiga pagi, di hari senin. Gue ngga menyangka perjalanannya secepat itu, karena gue jalan dari Jakarta jam 12 malem. Ntu bus ngebut ape gimane gue kaga ngerti, biasanya 3 jam itu baru sampai Kopo, ini udah sampai Garut?? Untungnya gue kebangun tepat setengah jam sebelum sampai di tempat gue mau turun, di SPBU Tanjung yang jaraknya lumayan jauh dari terminal akhir. Sempet browsing kalau SPBU itu ada masjidnya dan gue pikir gue bisa istirahat disana, ternyata dikunci. Akhirnya gue memutuskan untuk langsung ke basecamp aja, siapa tahu disana bisa istirahat.

Rencananya gue mau naik via Citiis dan berdasarkan riset gue sebelumnya, ada banyak basecamp di Citiis. Sejujurnya gue ngga tahu gue mau ke basecamp yang mana, yang penting gue mau sampai dulu di desanya. Ternyata ojol yang nganterin gue tahu basecamp "yang paling tua"-nya, akhirnya diantarlah gue kesana: Basecamp Umi Tati. Basecampnya tutup, ya iyalah wong bukan weekend:( tapi ada saung-saung disampingnya, akhirnya gue rebahan disitu sampe subuh.

Paginya gue ketemu sama Umi Tati, yang heran setengah mati kok ada cewek yang mau naik hari senin begini, mana sendirian pula. Gue minta dibikinin makan aja sama beliau, lalu langsung berangkat setelah isi buku tamu. Sempet nanya ada pendaki lain ngga diatas, dan beliau bilang ada tiga rombongan yang turun hari ini. Tidak lupa gue juga ngasi tahu beliau kalau gue akan turun hari itu juga. By the way, gue ngga dimintain uang simaksi disini, katanya nanti uang simaksi akan diminta di Pos 1. Itu pun kalau posnya buka, kata Umi Tati gue ngga perlu bayar apa-apa kalau Pos 1-nya memang ngga buka. Sebelum jalan, gue yang insecure akhirnya memutuskan untuk chat Sodi, buat mantau komunikasi gue. Begitulah akhirnya gue jalan dari rumah Umi Tati pukul 6:24, ngga tahu arah Pos 1-nya kemana sih sebenernya.

Sebelum nanjak, makan nasgor Umi Tati yang lumayan jumbo ini

Pas masih di desa, ketemu sama warga desa yang juga terheran-heran ngeliat gue. Mereka cuma berpesan: hati-hati ya. Gue jalan ngikutin trackingan orang di Avenza. Ngga jelas njir kayanya itu jalur lama deh. Gue nyasar ke Edu Wisata Lebah-nya PLN yang masih dibangun. Nanya sama pekerja disana, katanya lurus aja. Njir beneran nyasar-_- gue kelempar ke barat daya, padahal jalurnya ada di sebelah barat. Akhirnya gue nerabas semak, potong kompas aja. Tahu-tahu nemu jalur truk penambang pasir dan satu warung tempat supir truk istirahat.

Pagi itu puncaknya berawan, dan sempet takut kena hujan

Akhirnya gue tanya sama ibu warungnya, kalau mau naik ke gunung ke arah mana. Gue inget ibunya bilang kalau gue salah jalan, tapi bisa aja lurus terus ikut jalur truk, nanti ikutin aja jalannya kalau ketemu pita warna oranye. Bapak supir truk nawarin gue untuk bareng aja ke atasnya. Sejujurnya gue seneng karena bisa ngecheat, tapi gue takut juga kalau ternyata semakin jauh dari treknya. Tapi yaudah akhirnya gue naik truk ke atasnya.

Gue ngga kenalan sama supir truknya itu, tapi nampaknya dia baik. Sepanjang jalan gue dikasih wejangan: pokoknya niatin perjalanan ini hanya untuk jalan-jalan ya, jangan yang aneh-aneh. Mungkin karena pendakian gue juga tepat 2 tahun setelah kejadian hilangnya Gibran di Gunung Guntur. "Dia disembunyiin di balik batu, kan, karena kebanyakan melamun katanya," begitu cerita si mamang supir. Sebelumnya gue juga sempet baca thread orang di Twitter, katanya Guntur jadi gunung paling mistis yang pernah dia daki. Kenapa gue harus dapet cerita aneh-aneh sih, mana trekking sendirian pula.

Mamang supirnya terus cerita tentang pendakian di Gunung Guntur ini. Ternyata memang Umi Tati itu ibaratnya kaya "pelopor" karena jadi yang pertama bikin basecamp pendakian. Sekarang beliau jadi kepala dusun. Wah, auto merasa tenang. Tapi pamor Gunung Guntur entah mengapa perlahan hilang, jadi jarang pendaki yang mau kesini. Menurut mamang supir, itu karena kejadian Gibran dan kecelakaan mobil pengantar pendaki. Menurut gue, pamornya turun karena gerakan aksi CA Kamojang tahun 2019 sehingga semakin sedikit pegiat alam yang mau naik ke Gunung Guntur karena letaknya yang ada ditengah CA. Mamang supir itu juga cerita, dulu kalau lagi rame, dia biasa bawa pendaki turun naik pakai truk karena lebih menguntungkan dari pada bawa pasir.

Sempet ngobrol juga tentang tambang pasir... gue blak-blakan aja kemarin itu, nanya kok bisa ada tambang pasir di cagar alam. Mamang supir itu cerita, ini bukan kisah baru. Tambang pasir itu sudah lama ada di kawasan cagar alam ini. Ternyata CA Kamojang ini ibarat "diperebutkan" sama instansi-instansi baik pemerintah atau swasta. Ada yang ngakunya mau melindungi CA Kamojang sebagai kawasan lindung, ada yang mau mengeruk pasirnya, ada yang mau ngeruk panas buminya, ada yang mau bikin CA ini sebagai wilayah latihan untuk pertahanan, dll dsb dst. Tapi, cuy... ini, kan, CA? Emang kaga ada harga dirinya, ya, CA di Indonesia tuh. Ngemeng-ngemeng latihan pertahanan, mamang supirnya bilang kalau dia sempet dapet info kalau hari Senin itu bakalan ada latihan tembak di Gunung Guntur. Lha, masa iya ngga di koordinasikan sama pengelola pendakian disitu? Kalau gue warga sipil (yang sebenernya salah juga sih masuk ke CA) tiba-tiba jadi sasaran tembak gimana? Mamang supir itu nelpon temennya dan memastikan, katanya ngga jadi ada latihan tembak.

Akhirnya diturunkanlah gue disebuah persimpangan jalan yang gue ngga tahu ada dimana *cry* Pokoknya kalau ditarik garis lurus, gue lebos 200 m dari jalur yang sebenarnya. Tapi karena wejangan mamang supir tadi, "Kalau ngga tahu jalan, ikutin aja jalan truk pasir", akhirnya gue ngga mau ngide. Jadilah gue muter sejauh 500 meter, ngikutin bukaan jalan truk pasir yang literally semuanya adalah jalan truk pasir, sampai suatu titik jalurnya ketutup semak dan gue melihat pita oranye yang dibilang sama ibu warung tadi.

Foto jalur truk sebelum masuk ke jalur pendakian yang ketutup semak

Jalurnya beneran ketutup semak, tapi ada setapaknya dibawahnya jadi gue masih bisa baca. Jalurnya sampingan sama sungai dan njebul-njebul langusng Curug Citiis, jam 7:47. Gile gue menang elevasi 200 meter, mayan lah meskipun nyasar tipis-tipis:') Curug Citiis ini rimbun sekali, namanya juga curug ye kan di lembahan. Suprisingly, ditengah kemarau nan panjang sing puanase pwol koyok ngene, airnya masih banyak. Deres banget. Alhamdulillah. Tapi karena gue ngga suka dekat sungai, apalagi yang vegetasinya rimbun kaya gitu, gue cuma foto beberapa, napas dikit, lalu lanjut jalan lagi.

Jalur samping sungai

Posnya Curug Citiis, tapi rada serem gitu

Menanjaq


Tau-tau di Pos 2

Nanjak 15 menit dari Curug Citiis, langsung ketemu sama Pos 2. Lah, gue bingung. Terus gue ngga bayar simaksi dong. Di Pos 2 gue istirahat lagi sebentar, dah jompo gue kayanya, lalu jalan lagi. Ada beberapa kali gue istirahat sebelum sampai di Pos 3, karena jalurnya bener-bener ngga ada landainya acan. Nanjaknya lebih parah Guntur ketimbang Salak 2 dan bener-bener batu-pasir aja sepanjang jalan. Nah di jalur ini, gue ketemu satu rombongan yang turun, mas-mas tiga orang. Lumayan seneng ngelihat orang dijalur:') Sebelum sampai di Pos 3, ada satu titik dimana bisa lihat jalur ke puncak. Literally evil banget kelihatannya. Bener-bener senanjak itu dan sepasir itu dan gue bisa lihat dari kejauhan, satu rombongan yang lagi turun lewatin jalur itu. Gue pun sampai di Pos 3 jam 8:32.

Ini landai mau ke Pos 3, sayang banget jalur evilnya ngga gue foto

Pos 3 yang sangat nyaman dan ada mamang yang bingung mo ngapain akhirnya nebang kayu buat bikin api wkwk

Pos 3-nya bener-bener fancy abiez. Ada warung, mushola, keran, toilet, kurang warung padang aja disitu. Ada mamang penjaga posnya, dimana kalau kita mau muncak harus lapor dulu dan tahan KTP disana. Gue ditanyain sama mamang pos itu, apakah gue dikasi kertas di basecamp dan gue bilang iya. Mamang posnya heran kenapa capnya cuma cap basecamp aja. Tempat capnya ada 3, jadi sepertinya gue bisa dapet cap kedua itu di Pos 1. Jadi gue ceritain aja kalau gue ngga lewatin Pos 1 karena nyasar dan malah naik bareng truk pasir.

Gue akhirnya jalan jam 8.40an dari Pos 3 untuk lanjut ke puncak. Mamang posnya udah bilang kalau nanti diatas bakalan panas banget karena gue kesiangan nanjaknya. Tapi gue dengan pedenya, berbekal air cuma 700ml, memaksakan diri nanjak ke atas. Mamangnya bilang untuk cari jalur yang padat pas naik, sementara jalur pasir hanya untuk turun, jadi gue ngga kelamaan dan kecapekan naiknya. Oh iya, di Pos 3 ini ada bendera merah putih yang gede banget, tiangnya aja gede dan tinggi banget, kayanya untuk acuan turun dari puncak supaya ngga nyasar. Beneran gede banget benderanya, bahkan gue bisa lihat bendera itu pas di truk tadi.

Jalur ke puncak? Iya, panas. Nampaknya gue terlalu sombong, gue ngga menyangka bahwa panasnya akan "sepanas itu". Perjalanan dari Pos 3 ke Kawah Guntur masih lumayan baik-baik saja. Panas sih, diperparah sama kerikil dan semak-semak yang kering jadi udaranya bener-bener tambah panas, tapi masih ada pohon pinus untuk neduh dan ngadem di sepanjang jalannya. Gue sampai di Kawah Guntur jam 10.38, 20 menit lebih lambat dari perkiraan gue, karena gue banyak neduhnya. Kawahnya udah ngga aktif, bahkan dasar kawahnya ditumbuhi pohon-pohon.

PANAS BGT! Tapi terlihat ya bund kiri kanan masih banyak pohon cemara

Ngadem di bawah cemara sebelum sampai ke Puncak Kawah. Panasnya bener-bener luar biasa.

Ini Puncak Kawah dan kawah matinya. Terlihat ya jalur menuju Puncak 1 sangatlah aduhai sekali gersangnya

View dari Puncak Kawah ke Puncak 1. Yep, bukit bulet didepan itu Puncak 1.

Semua berubah ketika gue melanjutkan perjalanan dari Kawah Guntur ke Puncak 1. Gue tersadar akan satu hal: ngga ada pohon sama sekali di jalurnya. Bener-bener ngga ada. Jarak dari Kawah Guntur ke Puncak 1 sebenernya ngga jauh, hanya 500 meter dan beda tinggi ngga sampai 150 meter. Waktu tempuh gue? 40 menit. Selama itu. Saking panasnya, gue bener-bener ngap-ngapan di jalan. Di tengah jalan, tiba-tiba gue ngerasa kepala gue sakit. Merasa udah ngga bener, akhirnya gue segera mencari pohon. Ngga ada, jauh semua. Semua pohon itu jauh dari jalur, dan kalau pun ada, dikelilingi semak yang tingginya sebadan gue, takut ada ularnya. Dari kejauhan, gue melihat ada satu pohon di punggungan Puncak 1, dan bener-bener disamping jalur. Gue pun akhirnya menuju ke pohon itu.

Bener-bener gaada pohon dan panas banget. Mo nangis.

The one and only pohon yang ada di Puncak 1. Ini gue foto pas jalan turun. Percayalah, terlihat berawan tapi panasnya ngga kira-kira.

Kondisi panasnya Gunung Guntur ketika gue ngadem dibawah pohon itu

Pohon itu ngga rindang, ngga tinggi juga. Paling cuma 2,5 atau 3 meter aja. Tapi cukup untuk nutupin kepala gue dari sinar matahari yang bener-bener menyengat. Kepala gue sakit, terutama yang sebelah kanan. Ada uratnya yang menonjol dan ngga sengaja kepegang sama gue, beuh rasa sakitnya bener-bener ngga ngerti lagi. Apakah efek domino karena ngga sengaja kepengang urat tadi, yang sebelah kiri ikutan sakit juga. Gue menenangkan diri, minum air yang udah tinggal sedikit, lalu buka kerudung. Untungnya ada angin gunung yang dingin, meskipun tetep ngga bikin sakit kepala gue hilang. Gue akhirnya memutuskan untuk rebahan dan istirahat sejenak dibawah pohon itu.

Foto di Puncak 1 wkwk bisa-bisanya masih senyum padahal kepala kaya mo pecahhh

Ada tugu ini di Puncak 1 nya

Satu jam berlalu. Kepala gue ngga juga membaik. Gue buka lagi Avenza lalu memulai perhitungan. Gue masih menargetkan Puncak Guntur Masigit sebagai tujuan utama, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam kesana. Jadi gue bisa sampai di Puncak Guntur Masigit sekitar jam setengah dua atau jam dua paling lambat. Gue siap-siap lagi lalu menuju ke Puncak 1 dengan semangat... dan sakit kepala. Ngga lama-lama di Puncak 1, gue langsung ke Puncak 2 yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Masih dengan kondisi ngga ada pohon sama sekali di jalur. Gue tiba di Puncak 2 jam 12:09.

Ini Puncak 2. Yep, dibelakang kiri kepala gue itu Puncak 3 dan Puncak Masigit.

Hamparan sulfur di Puncak 2. Masih ngeluarin gas dan panas.

Puncak 2, ya bentuknya puncak. Ada plat puncak juga yang ditiban pakai batu besar supaya ngga terbang kebawa angin. Iya, anginnya lumayan kencang sejak dari punggungan Puncak 1 tadi. Ngga jauh dari plat itu, paling cuma 2 meter ke arah baratnya itu ada "kawah" aktif. Mau dibilang "kawah" ya ngga bisa juga karena letaknya di puncak(?) Pokoknya ada hamparan sulfur yang masih mengeluarkan uap panas plus bau kentut khas belerang kawah. 

Yang rimbun pohon itu kayanya Puncak 3, yang paling belakang itu Puncak Masigit. So close yet so far.

Setelah melewati hamparan sulfur itu, kita bisa melihat jalur ke Puncak 3 dan Puncak Masigit. Perkiraan gue ya dua jam lah bolak-balik, karena medannya nanjak banget mau ke Puncak 3-nya. Air gue bener-bener udah sedikit banget, mana kondisi panas, dan kepala gue sakit. Kalau aja salah satu dari ketiga faktor itu bisa dieliminasi, mungkin gue masih bisa ngotot ke Puncak Masigit. Tapi karena gue ngga mau operasi SAR dibuka, jadi akhirnya gue memutuskan untuk turun aja. Kecewa sama diri gue sendiri kenapa ngga prepare bawa air lebih. Yaudah jadi pelajaran aja kalau gitu.

Turunnya berasa lamaaa banget, apalagi dari kawah ke Pos 3. Rasanya kaya jauh banget tapi gue tetep jalan selow aja. Disini sih yang kaya miniatur Semeru, akhirnya ngerasain lagi kerikil boarding hahaha seruuu tapi kok ga sampe-sampe. Bendera Pos 3 yang gede banget itu kaya segitu-gitu aja, kaya ngga makin deket. Tapi yaudah gue tetep jalan.

Kerikil boarding seru bingitz

Sesampainya di Pos 3, gue ngadem dulu, curhat sama mamang posnya dulu, kalap aer dulu. Setelah sekitar setengah jam, akhirnya gue memutuskan untuk turun. Jalan turunnya cuma sejam dong dari Pos 3 ke Curug:) dahal naiknya dah kek mo mati banget. Turun dari Pos 3 sekitar jam 13.54, nyampe curug jam 15.09:) Akhirnya ngikut pita warna ungu dan putih dari curug, setelah pita oranye-nya habis. Ketemu Pos 1 jam 15.23, tapiii tujug menit setelah itu baru nemu bangunan kaya pos gitu. Tapi udah kosong dan digembok. Pas gue turun ini lagi golden hour kan, jadi cantik banget lah warna fotonya.

Ternyata ini ges curug citiisnya

Pos 1 tapi plang doang, kaya pertigaan gitu sih

Ini pos yang sepertinya tempat bayar simaksi

Njebul dari jalur pendakiannya itu ke warung yang gue nyasar tadi pagi. Yaudah gue ngga nemu jalan lain. Pulang pun gue nerabas juga lewat lebah-lebah PLN itu. Nyempetin foto-foto yang banyak mumpung tjerah huhuuu seneng banget tapi sedih banget juga.

jalur dibawah aja segersang ini coiii

Emang potensi banget buat ditambang sih, meskipun cagar alam yah namanya Indonesia ku

yang tadi pagi ketutup kabut kirain mo hujan

mie rebus telor my luv

Sampai di rumah Umi Tati, gue istirahat dulu, ngabarin Sodi kalau gue udah turun, lalu gue mandi. Tydack lupa mi rebus telor kewajiban turun gunung. Jam 6 gue pamitan sama Umi Tati dan jalan ke Terminal Guntur naik ojol. Nyampe di rumah jam 12an malem. Bener-bener bisa dibilang 24 jam lah hahaha. Seneng banget sih meski ngga sampai puncak. Semoga ada kesempatan lain dimana gue bisa sampai puncak. Pendakian kali ini bener-bener pembelajaran buat gue, utamanya sih jangan sombhonk hahaha. Bekel terutama air itu juga penting untuk diperhitungkan, bukan masalah skill dan kemampuan fisik mulu yang dipikirin.Cari info terkait situasi gunung yang mau didaki juga ngga kalah penting. Gila sih bener-bener ngga nyangka banget panasnya bakal kaya begitu. Next perjalanan harus lebih prepare.